Investor Grab-Gojek Ini Salip Toyota Di Jepang, AI Ubah Arah Duit Besar Investor

SoftBank resmi menyalip Toyota Motor Corporation dan menjadi perusahaan paling bernilai di Jepang. Kapitalisasi pasarnya kini mencapai 48 triliun yen, atau sekitar Rp 5.300 triliun, sebuah lonjakan yang memperlihatkan betapa besar pengaruh tema kecerdasan buatan terhadap pasar modal.

Perubahan ini menandai pergeseran selera investor yang semakin menjauh dari saham otomotif dan bergerak ke emiten yang terkait AI, semikonduktor, serta infrastruktur data. Dalam lanskap baru itu, SoftBank muncul sebagai simbol utama dari perubahan arah uang besar di Jepang.

Pada perdagangan Senin kemarin di Tokyo, saham SoftBank naik 14%, menurut Bloomberg. Kenaikan itu memperpanjang reli lebih dari 90% selama setahun terakhir dan mendorong valuasi perusahaan ke level yang belum pernah dicapai Toyota.

Financial Express menyebut keuntungan SoftBank ikut ditopang oleh booming AI yang masih menguat secara global. Bloomberg juga menilai pergerakan saham ini mencerminkan pergeseran preferensi investor dari sektor tradisional ke sektor teknologi baru yang dianggap punya prospek pertumbuhan lebih besar.

Kepala riset Philip Securities Japan Ltd, Kazuhiro Sasaki, menyebut momen ini sebagai peristiwa bersejarah yang melambangkan ledakan AI. Penilaian itu sejalan dengan pandangan pasar bahwa AI kini diposisikan sebagai mesin pertumbuhan utama bagi banyak perusahaan teknologi.

Dorongan terhadap SoftBank tidak hanya datang dari sentimen pasar. Portofolio teknologinya juga ikut mengangkat valuasi, terutama dari perusahaan-perusahaan yang bersiap mencatatkan saham di Amerika Serikat.

Dua nama yang menonjol adalah OpenAI dan SB Energy Corp. Selain itu, Arm Holdings juga memberi kontribusi besar setelah valuasinya naik seiring meningkatnya permintaan chip dan infrastruktur AI, didorong oleh pendapatan kuat dari Nvidia.

Minat investor terhadap tema AI juga menguat setelah kekhawatiran soal persaingan di sektor ini mulai mereda dalam beberapa minggu terakhir. Kondisi tersebut membuat aliran minat ke investasi AI, termasuk yang terhubung dengan SoftBank, semakin kuat.

Di sisi lain, Toyota menghadapi tekanan yang berbeda dan jauh lebih berat. Kenaikan harga minyak akibat perang di Iran menambah beban bagi produsen mobil terbesar itu di tengah pasar yang masih rapuh.

Toyota juga berhadapan dengan permintaan global yang melambat. Di saat bersamaan, transisi ke kendaraan listrik membutuhkan biaya besar, sementara mobilitas berbasis software menambah tantangan baru bagi industri otomotif.

Kontras antara SoftBank dan Toyota kini menjadi gambaran jelas perubahan peta kekuatan korporasi Jepang. SoftBank mendapat dorongan dari narasi AI yang sedang panas, sedangkan Toyota tetap bergulat dengan biaya tinggi dan perubahan struktural di bisnis mobil.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terkait