Hampir 100 Tentara AS Terluka, Serangan Iran Perluas Risiko Konflik di Timur Tengah

Hampir 100 tentara Amerika Serikat dilaporkan mengalami luka dalam serangan udara Iran selama dua pekan terakhir. Pengungkapan Pentagon ini memperlihatkan dampak langsung konflik terhadap personel AS yang ditempatkan di Timur Tengah.

Meski sebagian besar korban telah kembali ke unit masing-masing, rangkaian serangan juga menambah risiko bagi pangkalan militer, kapal komersial, dan jalur pelayaran strategis. Ketegangan kini tidak hanya berpusat pada serangan balasan, tetapi juga pada ancaman gangguan perdagangan laut di kawasan.

Data Korban yang Diungkap Pentagon

Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell menyatakan 96 persen prajurit terdampak sudah kembali bertugas. Ia mengatakan mayoritas cedera yang tercatat berupa gegar otak ringan.

DataJumlah/KeteranganStatus
Tentara AS terlukaHampir 100 orangDalam dua pekan terakhir
Prajurit kembali bertugas96 persenMayoritas cedera ringan
Anggota layanan terluka sejak perang dimulai413 orangBelum mencakup cedera terbaru bulan ini

Dalam pernyataannya kepada CBS, Parnell mengatakan para prajurit yang pulih ingin kembali ke unit mereka. “Mereka bertekad untuk kembali bertempur,” ujarnya.

Angka 413 korban luka sejak perang dimulai berasal dari sistem analisis korban pertahanan militer AS. Catatan tersebut belum memasukkan data cedera terbaru pada bulan ini, sehingga jumlah terdampak masih dapat berubah.

Korban Jiwa di Pangkalan Yordania

Tekanan terhadap pasukan AS meningkat setelah serangan Iran menghantam pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania pada Jumat, 17 Juli. Dua personel yang tewas telah diidentifikasi sebagai Letnan Satu Tyler James Feehan, 25, dan Prajurit Isabella Gonzales, 19.

Rudal dilaporkan menghantam unit perumahan prefabrikasi ketika para tentara sedang tidur. Komando Pusat AS atau Centcom masih menganalisis sisa-sisa jenazah yang diduga milik tentara ketiga yang tewas dalam serangan itu.

Donald Trump menanggapi kabar korban jiwa tersebut melalui unggahan di Truth Social. Ia menyatakan Iran akan membayar mahal atas setiap nyawa tentara AS yang hilang, tanpa menjelaskan rincian bentuk respons yang dimaksud.

Pentagon Bantah Tuduhan Menutup Informasi

Data korban menjadi perhatian setelah New York Times melaporkan dugaan bahwa skala korban dan kerusakan aset sebelumnya tidak sepenuhnya diungkap. Laporan itu mengutip pembocor informasi yang menyebut serangan Iran melukai puluhan tentara dan merusak beberapa helikopter.

Pentagon membantah adanya upaya menyembunyikan informasi mengenai dampak serangan tersebut. Parnell menyebut tuduhan itu sebagai “fabrikasi yang dimaksudkan untuk semakin menyusahkan rakyat Amerika setelah gugurnya tiga anggota layanan dalam tugas.”

Operasi Balasan dan Ancaman Jalur Laut

Militer AS kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Iran selama 10 malam berturut-turut. Menurut Centcom, operasi itu ditujukan untuk mengganggu kemampuan Teheran menyerang kapal komersial di Selat Hormuz.

Sasaran operasi mencakup lokasi peluncuran rudal, drone, serta sistem pertahanan udara. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC terus menargetkan aset AS di kawasan, termasuk infrastruktur Amazon di Bahrain.

Dampak konflik juga terasa di perairan sekitar Oman setelah sebuah kapal tanker terkena proyektil di lepas pantai negara tersebut. Awak kapal terpaksa meninggalkan kapal, sebuah insiden yang menandakan risiko konflik telah menjalar ke aktivitas perdagangan laut.

Front Houthi Menambah Ketidakpastian

Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran turut menambah tekanan dengan mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Langkah itu disebut sebagai respons terhadap blokade pelabuhan di wilayah utara Yaman.

Embargo tersebut berpotensi mengancam Selat Bab el-Mandeb, jalur laut penting menuju Terusan Suez. Analis intelijen AS yang dikutip Washington Post menilai Washington dan Teheran berada dalam situasi tidak pasti antara perdamaian dan perang terbuka.

Penilaian itu juga menyebut kecil kemungkinan Teheran segera melunakkan posisi negosiasinya. Dengan korban baru, operasi militer yang berlanjut, dan ancaman terhadap pelayaran, dorongan untuk mencegah eskalasi lebih besar di Timur Tengah semakin menguat.

Source: mediaindonesia.com
Terkait