Imunisasi Anak Membaik, Namun 657.000 Anak Indonesia Masih Belum Pernah Divaksin

Indonesia mencatat perbaikan cakupan imunisasi dasar pada 2025, tetapi masih ada 657.000 anak yang belum menerima satu pun dosis vaksin. Kelompok anak ini tetap rentan terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, termasuk campak, polio, dan infeksi paru-paru.

Jumlah anak tanpa dosis vaksin memang turun dibandingkan 2024 yang mencapai 748.000 anak. Penurunan tersebut menunjukkan lebih banyak keluarga berhasil dijangkau layanan kesehatan, meski celah perlindungan masih besar di sejumlah komunitas.

Perbaikan belum menjangkau seluruh anak

Data WHO/UNICEF Estimates of National Immunization Coverage atau WUENIC menunjukkan cakupan dosis ketiga vaksin difteri, tetanus, dan pertusis meningkat pada 2025. Cakupan dosis ketiga hepatitis B juga bergerak naik pada periode yang sama.

Vaksin DTP3 dan hepatitis B dosis ketiga masing-masing mencapai cakupan 82% pada 2025, naik dari 78% setahun sebelumnya. Lebih dari 3,6 juta anak di Indonesia telah menerima rangkaian lengkap vaksin penting tersebut.

Indikator Imunisasi20242025
Cakupan DTP378%82%
Cakupan hepatitis B dosis ketiga78%82%
Anak tanpa satu dosis vaksin748.000 anak657.000 anak

Kenaikan cakupan nasional memberi sinyal positif bagi program Imunisasi Anak Indonesia, terutama dalam menjangkau anak yang sebelumnya belum terlindungi. Namun, angka rata-rata nasional belum berarti semua anak telah menerima vaksin sesuai jadwal.

Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr N. Paranietharan, menilai kemajuan tersebut memperlihatkan hasil kerja bersama dalam membawa vaksin penyelamat nyawa kepada anak-anak. Ia juga mengingatkan bahwa jumlah anak yang belum memperoleh perlindungan terhadap campak, polio, dan radang paru-paru masih terlalu banyak.

Ketimpangan terjadi pada sejumlah vaksin

Kemajuan cakupan tidak terjadi merata pada seluruh jenis vaksin. Lebih banyak anak perempuan menerima vaksin HPV pada 2025, yang akan memperkuat perlindungan terhadap kanker serviks pada masa mendatang.

Di sisi lain, cakupan beberapa vaksin lain disebut belum berubah atau bahkan mengalami penurunan. Situasi itu dapat membuat sebagian anak kehilangan perlindungan terhadap tuberkulosis, radang paru-paru, dan campak.

UNICEF menilai imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif sekaligus fondasi hak anak untuk hidup sehat. Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menekankan bahwa penurunan jumlah Anak Tanpa Dosis Vaksin memperlihatkan pentingnya kepemimpinan, inovasi, dan pelibatan masyarakat.

Perlindungan yang terlambat diterima dapat membuka celah penularan di keluarga maupun komunitas. Risiko wabah juga dapat meningkat ketika terdapat kelompok anak yang belum memperoleh perlindungan memadai.

Wilayah sulit dijangkau menjadi perhatian

WHO dan UNICEF mendukung pemerintah untuk memprioritaskan anak-anak yang belum diimunisasi, khususnya di komunitas kurang terlayani serta wilayah sulit dijangkau. Upaya itu mencakup perluasan perlindungan terhadap penyakit prioritas seperti campak-rubela, polio, dan infeksi paru-paru.

Penguatan imunisasi rutin juga perlu dibarengi pemantauan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Data di tingkat lokal dinilai penting untuk menemukan anak yang terlewat sekaligus menjaga mutu layanan.

Cakupan yang tinggi perlu dipertahankan untuk semua vaksin penting, bukan hanya pada beberapa jenis vaksin tertentu. Penurunan jumlah anak yang menerima imunisasi dapat memudahkan penyakit kembali menyebar di masyarakat.

Langkah tersebut sejalan dengan sasaran yang lebih luas di Kawasan Pasifik Barat untuk melindungi masyarakat dengan vaksin sepanjang hidupnya. Negara-negara di kawasan itu berupaya memangkas hingga separuh jumlah anak yang belum menerima vaksin esensial serta mempertahankan eliminasi campak dan rubela.

WHO dan UNICEF juga menyoroti manfaat investasi imunisasi bagi kesehatan masyarakat. Setiap US$ 1 yang diinvestasikan untuk imunisasi disebut dapat menghasilkan manfaat kesehatan, sosial, dan ekonomi hingga US$ 54 melalui pencegahan penyakit, pengurangan biaya layanan kesehatan, dan pencegahan wabah.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terkait