Trump Bandingkan 18 Tentara AS Tewas dengan Perang Besar, Kritik Menguat

Unggahan Donald Trump yang membandingkan 18 kematian personel Amerika Serikat dalam konflik Iran dengan korban perang-perang besar memicu kritik dari berbagai pihak. Sorotan menguat karena perbandingan itu muncul saat keluarga militer masih menghadapi kabar empat anggota layanan AS yang gugur akibat serangan Iran di pangkalan AS di Yordania dan Irak.

Trump membagikan grafik tersebut melalui Truth Social pada Selasa malam (21/7) disertai kalimat, “Ini fakta yang sebenarnya.” Grafik itu menempatkan jumlah korban dalam Konflik Iran jauh di bawah angka kematian tentara AS pada perang Vietnam, Korea, Irak, dan Afghanistan.

Angka Korban yang Dipersoalkan

Perbandingan tersebut menjadi masalah bukan semata karena angkanya, melainkan karena dinilai mengecilkan arti setiap korban jiwa. Sejumlah pengkritik menilai kematian prajurit tidak patut diperlakukan sebagai ukuran keberhasilan perang hanya karena jumlahnya lebih kecil daripada konflik terdahulu.

KonflikDurasiTentara AS Tewas
Perang Vietnam19 tahun58.220
Perang Korea3 tahun36.574
Perang Irak9 tahun4.600
Perang Afghanistan20 tahun2.000
Konflik Militer IranTidak dicantumkan18
Perang Venezuela1 hari0

Data dalam grafik Trump memang memperlihatkan selisih besar dibandingkan perang besar sebelumnya. Namun, angka kematian itu tidak mencakup keseluruhan dampak yang dialami personel militer, termasuk ratusan anggota yang dilaporkan terluka.

Kritik Lintas Partai

Mantan anggota DPR dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, menyebut unggahan itu tidak sensitif terhadap pengorbanan pasukan. Dalam unggahan di X, ia menulis, “Trump membual tentang pembunuhan 18 tentara AS. Begitulah cara saya membaca unggahan bodoh ini.”

Greene juga mempertanyakan citra Trump sebagai “presiden perdamaian” ketika perang masih menewaskan dan melukai pasukan Amerika. Kritik dari kubu Republik itu sejalan dengan kecaman Gubernur California dari Partai Demokrat, Gavin Newsom, yang menilai unggahan tersebut tidak menghormati prajurit.

Anggota DPR Jason Crow dari Colorado mengatakan kepada CNN bahwa setiap nyawa memiliki arti besar bagi keluarga yang ditinggalkan. Ia menilai cara pandang yang tercermin dalam unggahan itu menunjukkan persoalan serius dalam kepemimpinan di tengah perang.

Ratusan Personel Dilaporkan Terluka

Pentagon mencatat sekitar 500 personel mengalami luka-luka dalam konflik tersebut, menurut laporan mediaindonesia.com. Jumlah itu memperluas gambaran tentang beban Konflik Iran yang tidak dapat diukur hanya dari angka kematian personel AS.

The New York Times juga melaporkan bahwa pemerintahan Trump diduga menahan informasi mengenai puluhan cedera lainnya. Laporan itu menambah tekanan agar pemerintah menjelaskan skala korban di kalangan militer secara lebih terbuka.

Dampak konflik juga disebut jauh lebih berat bagi warga sipil Iran. Data pemerintah Iran yang dikutip NPR menyebut sedikitnya 3.000 orang tewas sejak perang pecah pada akhir Februari, termasuk 168 anak-anak.

Selain korban manusia, operasi militer tersebut memunculkan beban anggaran besar bagi Washington. Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperkirakan biaya perang telah melampaui Rp584 triliun atau US$37 miliar, sementara tambahan Rp1.058 triliun atau US$67 miliar diminta kepada Kongres.

Upaya Damai Kembali Gagal

Kerangka perdamaian atau MoU yang ditandatangani pada 17 Juni sempat memunculkan harapan meredakan ketegangan. Kesepakatan itu kemudian runtuh setelah serangan berlanjut, terutama di kawasan Selat Hormuz.

Trump menyatakan gencatan senjata berakhir pada akhir Juni setelah Iran menembaki kapal-kapal di jalur air tersebut. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Iran sempat memberi sinyal ingin bernegosiasi, tetapi peluncuran rudal dan drone ke kapal menjadi alasan AS melanjutkan serangan balasan.

Hingga Selasa malam, AS dilaporkan telah menyerang Iran selama sepuluh malam berturut-turut. Trump dijadwalkan mengunjungi Pangkalan Angkatan Udara Dover pada Rabu untuk menghadiri prosesi pemulangan empat anggota layanan yang gugur, upacara ketiga sejak perang dimulai.

Source: mediaindonesia.com
Terkait