Pembentukan jantung janin sudah berlangsung pada masa awal kehamilan, sehingga risiko kelainan tidak hanya menjadi perhatian setelah bayi lahir. Trimester pertama menjadi fase penting karena gangguan pada perkembangan organ vital ini dapat terjadi ketika janin masih berada di dalam kandungan.
Dokter jantung anak BraveHeart Brawijaya Hospital, dr Anisa Rahmadhany, SpA, Subsp.Kardio, menjelaskan jantung janin mulai terbentuk sekitar usia kehamilan 10-12 minggu. Karena itu, penyakit jantung bawaan pada dasarnya merupakan kondisi yang telah terjadi selama kehamilan berlangsung.
Fase Awal Kehamilan yang Krusial
Penyakit Jantung Bawaan merujuk pada kelainan struktur atau anatomi jantung yang telah terbentuk sejak bayi masih di dalam kandungan. Kondisi ini bukan kelainan yang baru muncul setelah proses persalinan.
Dalam tayangan detikSore, dr Anisa mengatakan, “Kalau bicara penyakit jantung bawaan, maksudnya penyakitnya sudah terjadi sejak seorang anak lahir. Terjadinya saat kehamilan.” Penjelasan itu menempatkan masa kehamilan sebagai periode penting untuk memperhatikan perkembangan jantung janin.
Trimester pertama disebut sebagai masa krusial dalam pembentukan organ jantung. Ibu hamil perlu menjaga kesehatan pada fase ini serta tidak mengonsumsi obat-obatan tanpa anjuran dokter.
Menurut dr Anisa, kurang menjaga kesehatan dan minum obat sembarangan berisiko mengganggu pembentukan jantung pada trimester pertama. Perhatian terhadap risiko tersebut perlu dimulai sejak awal kehamilan, bukan menunggu hingga bayi dilahirkan.
Riwayat Orang Tua Perlu Diperhatikan
Secara umum, penyakit jantung bawaan terjadi pada sekitar 1 persen dari seluruh bayi yang lahir. Angka risiko itu dapat meningkat apabila salah satu orang tua memiliki riwayat kondisi serupa.
Riwayat penyakit jantung bawaan pada ayah maupun ibu menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam penilaian risiko pada anak. Risiko tersebut disebut dapat lebih tinggi ketika ibu memiliki penyakit jantung bawaan.
| Faktor Risiko | Risiko Penyakit Jantung Bawaan pada Anak |
|---|---|
| Seluruh bayi yang lahir | Sekitar 1 persen |
| Salah satu orang tua memiliki riwayat penyakit jantung bawaan | Sekitar 5-7 persen |
| Ibu memiliki penyakit jantung bawaan | Dapat naik hingga sekitar 7 persen |
dr Anisa menekankan adanya perhatian khusus pada kondisi ibu dengan riwayat kelainan tersebut. “Terutama pada ibu yang ada penyakit jantung bawaan, bahkan risiko pada anak bisa naik menjadi 7 persen,” katanya.
Data itu menunjukkan riwayat kesehatan keluarga menjadi informasi penting selama kehamilan. Penilaian risiko dapat membantu keluarga memahami perlunya pemeriksaan kondisi jantung janin ketika kehamilan masih berlangsung.
Kelainan Dapat Diperiksa Sebelum Persalinan
Sejumlah kasus penyakit jantung bawaan dapat dideteksi sebelum bayi lahir melalui Fetal Echocardiography, atau USG jantung janin. Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai kondisi jantung janin saat kehamilan berlangsung.
Pemeriksaan jantung janin membutuhkan tenaga medis dengan keahlian khusus dan perangkat USG yang memadai. Dokter kandungan subspesialis fetomaternal biasanya diperlukan dalam proses pemeriksaan tersebut.
Keahlian pemeriksa dan kualitas alat menjadi dua hal yang sama-sama menentukan hasil penilaian. Dokter yang ahli tetap dapat menghadapi keterbatasan apabila perangkat USG tidak mendukung pemeriksaan jantung janin secara optimal.
Bagi keluarga dengan faktor risiko, deteksi sebelum persalinan dapat menjadi informasi penting untuk memahami kondisi jantung janin. Pemeriksaan fetal echocardiography memungkinkan penilaian dilakukan ketika bayi masih berada dalam kandungan.







