Seabad setelah Gempa Padang Panjang pada 28 Juni 1926, jejak kehancurannya masih menjadi peringatan keras bagi Sumatra Barat. Bencana yang dikenal sebagai “Gampo Tujuh Hari” itu menewaskan sedikitnya 247 orang dan merobohkan atau merusak berat 2.383 rumah.
Ancaman gempa di wilayah ini tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Aktivitas zona subduksi Mentawai dan jalur Sesar Sumatra yang masih aktif membuat kesiapsiagaan gempa perlu terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan arah pembangunan daerah.
Memori gempa 1926 kembali dibahas dalam bedah buku Gempa Tujuh Hari: Sejarah Gempa 1926 di Dataran Tinggi Padang, Mengingat untuk Bertahan karya wartawan Media Indonesia, Yose Hendra. Forum bertajuk “Seabad Gempa Padang Panjang: Menguatkan Kesiapsiagaan Masa Kini” itu digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas melalui Program Studi S-2 Magister Manajemen Bencana.
Sekretaris Utama BNPB Rustian menilai pembelajaran dari sejarah bencana penting untuk memperkuat kesiapan masyarakat saat ini. Ia menyoroti tingginya aktivitas kegempaan di Sumatra Barat serta kerentanan masyarakat berpenghasilan rendah saat menghadapi dampak bencana.
Guncangan Berhari-hari yang Menjadi Ingatan Kolektif
Gempa utama pada 28 Juni 1926 membuat Padang Panjang dan kawasan sekitarnya mengalami dampak sangat berat. Dari total 2.383 rumah yang roboh atau rusak berat, sebanyak 1.709 rumah berada di wilayah X Koto.
Korban meninggal tercatat mencapai 247 orang, dengan 220 korban berada di Padang Panjang dan X Koto. Kerusakan juga menjalar ke Fort de Kock atau Bukittinggi, Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau, hingga Lubuk Sikaping.
Nilai kerugian akibat bencana itu diperkirakan sekitar 10 juta gulden. Peristiwa tersebut disebut “Gampo Tujuh Hari” karena ratusan gempa susulan terus terjadi selama beberapa hari setelah guncangan utama.
Menurut pemaparan Yose Hendra dalam forum tersebut, getaran masih tercatat hingga Agustus 1926. Rangkaian guncangan panjang itu kemudian menjadi memori kolektif masyarakat Minangkabau tentang besarnya ancaman gempa di daratan tinggi Sumatra Barat.
Riwayat Gempa Besar di Sumatra Barat
Gempa 1926 bukan kejadian tunggal dalam sejarah kawasan ini. Catatan forum menunjukkan sedikitnya sembilan gempa besar terjadi di Sumatra Barat sejak 1797 sampai 2022, baik dari sumber megathrust Mentawai maupun jalur Sesar Sumatra.
| Tahun | Peristiwa | Keterangan |
|---|---|---|
| 1797 | Gempa dan tsunami Megathrust Mentawai | Gempa besar di zona subduksi |
| 1833 | Gempa Megathrust | Gempa besar di kawasan Mentawai |
| 1926 | Gempa Padang Panjang-Lembah Anai | Dikenal sebagai Gampo Tujuh Hari |
| 1977 | Gempa Pasaman | Gempa besar di Sumatra Barat |
| 1995 | Gempa Kerinci-Solok Selatan | Terjadi di jalur Sesar Sumatra |
| 2007 | Gempa Solok-Tanah Datar | Gempa besar di wilayah daratan |
| 2009 | Gempa Padang | Memicu kerusakan rumah dalam jumlah besar |
| 2010 | Gempa dan tsunami Mentawai | Gempa besar di kawasan kepulauan |
| 2022 | Gempa Pasaman Barat | Gempa besar terbaru dalam catatan tersebut |
Yose Hendra menjelaskan gempa besar di jalur Sesar Sumatra pernah berulang pada 1822, 1926, dan 2007. Kawasan ini juga mengenal fenomena doublet earthquake, ketika dua gempa utama terjadi berurutan dalam waktu singkat pada segmen sesar yang berbeda.
Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa pengurangan risiko tidak dapat hanya dilakukan setelah bencana terjadi. Rustian menekankan upaya itu perlu dimasukkan ke dalam perencanaan pembangunan jangka menengah maupun jangka panjang.
Rumah Tradisional dan Pelajaran Gempa 2009
Selain memperkuat bangunan modern, BNPB mendorong penghidupan kembali kearifan lokal yang relevan untuk mitigasi. Rustian mencontohkan rumah panggung tradisional Minangkabau yang memiliki konstruksi adaptif terhadap guncangan.
Tiang rumah yang tidak ditanam langsung ke tanah memungkinkan bangunan mengikuti arah guncangan gempa. Prinsip tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan konsep base isolator pada teknologi bangunan modern.
Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi juga membagikan pembelajaran dari penanganan pascagempa Padang 2009. Data yang disampaikan menunjukkan sekitar 249.433 rumah mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat akibat gempa itu.
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa Padang 2009 menghasilkan pembelajaran tentang teknologi konstruksi, standar bangunan tahan gempa, tata kelola perizinan, serta peningkatan kapasitas tenaga tukang. Dody mengingatkan bahwa kesadaran masyarakat perlu dijaga agar tidak memudar seiring waktu.
Literasi Bencana Harus Menjadi Aksi
Forum yang berlangsung secara hybrid di The Gade Creative Lounge, Perpustakaan Universitas Andalas, Padang, mempertemukan akademisi, praktisi, aktivis, dan unsur lintas organisasi. Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas Henny Lucida menyebut kegiatan itu sebagai ruang untuk mempertemukan riset, pengalaman praktis, dan pelajaran sejarah.
Ketua Program Studi S-2 Magister Manajemen Bencana Universitas Andalas, Prof. Yenny Narny, menilai peringatan seabad gempa Padang Panjang menjadi momentum memperkuat literasi kebencanaan. Masyarakat tangguh, menurutnya, perlu dibangun melalui pengetahuan, kolaborasi, dan aksi nyata dalam menghadapi ancaman gempa bumi.
Diskusi itu menempatkan sejarah 1926 sebagai bahan belajar untuk masa depan, bukan sekadar cerita tentang kehancuran masa lalu. Budaya siap siaga, pelestarian pengetahuan lokal, dan strategi pengurangan risiko menjadi pekerjaan yang harus terus dijalankan di Sumatra Barat.
Source: mediaindonesia.com






