Di saat IHSG melemah, rupiah tertekan, dan sentimen global membuat banyak orang merasa serba tidak pasti, hobi justru tampil sebagai penopang mental yang sederhana namun penting. Psikolog dari Kasandra & Associates, A Kasandra Putranto, menilai situasi ekonomi yang tidak stabil dapat memicu stres psikologis, kecemasan, dan rasa tidak aman terhadap masa depan.
Ketidakpastian menjadi sumber stres utama karena manusia cenderung membutuhkan prediktabilitas dan rasa kontrol dalam hidup. Menurut Kasandra, stres muncul ketika seseorang menilai situasi sebagai ancaman dan merasa sumber daya coping yang dimiliki terbatas.
Tekanan ekonomi ikut memukul kesehatan mental
Kekhawatiran soal pekerjaan, tabungan, dan investasi dapat berkembang menjadi kecemasan kronis. Dalam kondisi tertentu, tekanan semacam ini juga bisa mengganggu kualitas tidur dan menurunkan kesejahteraan mental.
Di titik inilah hobi menjadi lebih dari sekadar pengisi waktu luang. Aktivitas yang dilakukan secara sukarela dan memberi rasa senang dapat berfungsi sebagai psychological buffer terhadap stres.
Kasandra menilai hobi membantu seseorang mengelola emosi dan menjaga keseimbangan psikologis. Hobi juga memberi ruang untuk tetap terhubung dengan diri sendiri ketika tekanan hidup terasa berat.
Mengapa hobi terasa menenangkan
Rasa nyaman saat menjalani hobi terkait dengan sejumlah mekanisme psikologis. Salah satunya adalah kondisi flow, ketika seseorang tenggelam dalam fokus sehingga perhatian terhadap cemas dan khawatir bisa sementara teralihkan.
Hobi juga memberi rasa kompetensi dan pencapaian yang penting bagi harga diri. Pada saat yang sama, aktivitas yang menyenangkan dapat membantu menurunkan hormon stres seperti kortisol dan meningkatkan emosi positif.
Dengan cara itu, hobi membuat individu merasa masih punya kendali di tengah situasi yang serba tidak pasti. Efek inilah yang membuat kegiatan kecil sering terasa sangat berarti saat tekanan ekonomi meningkat.
Pilihan hobi anak muda makin digital
Di kalangan Gen Z, hobi kini tampil sangat beragam dan banyak berkaitan dengan aktivitas digital. Dalam laporan Jakpat berjudul Gen Z Characteristics and Behaviors 2024, berselancar di media sosial menjadi salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan saat waktu luang.
Sebanyak 63% responden memilih media sosial karena praktis dan bisa diakses kapan saja lewat gawai. Menonton film atau serial berada di pilihan berikutnya dengan 57%, terutama di kalangan perempuan Gen Z.
Sebanyak 55% responden memilih mendengarkan musik atau podcast untuk bersantai. Sementara 53% lainnya menjadikan bermain gim sebagai cara utama mengisi waktu luang dan melepas stres.
Di luar aktivitas berbasis gawai, banyak anak muda tetap memilih kegiatan lain. Sebanyak 38% responden senang berkumpul dengan teman, 32% berolahraga, dan 27% membaca buku.
Hobi sehat bukan pelarian impulsif
Kasandra menegaskan tidak semua aktivitas yang menyenangkan otomatis menyehatkan secara psikologis. Perbedaan utamanya terletak pada fungsi dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Hobi yang sehat memberi energi psikologis, rasa puas, dan tidak memunculkan penyesalan atau masalah lanjutan. Sebaliknya, perilaku konsumtif yang tidak sehat cenderung impulsif, dipakai untuk menghindari emosi negatif, dan sering berujung pada rasa bersalah atau masalah finansial.
Karena itu, hobi tetap perlu ditempatkan secara wajar dan tidak mengganggu orang lain. Di tengah ekonomi yang penuh tekanan, kegiatan kecil yang memberi rasa senang bisa membantu emosi tetap stabil dan keseharian berjalan lebih seimbang.
Source: lifestyle.bisnis.com






