Terapi Presisi Mengubah Peluang Pasien Kanker Perempuan, Pengobatan Tak Lagi Seragam

Pengobatan kanker pada perempuan kini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh nama penyakitnya. Terapi presisi membuka peluang penanganan yang lebih terarah karena dokter dapat menyesuaikan obat dengan karakter biologis tumor setiap pasien.

Pendekatan ini penting di tengah tingginya beban kanker payudara, serviks, dan ovarium. Dua pasien dengan diagnosis kanker payudara yang sama, misalnya, dapat memerlukan strategi berbeda karena profil tumornya tidak identik.

Profil biologis menjadi penentu

Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre Singapura, Dr. See Hui Ti, mengatakan terapi presisi semakin luas digunakan dalam penanganan kanker. Pendekatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan efektivitas pengobatan sekaligus mengurangi dampak terapi terhadap sel sehat.

“Saat ini kami memahami bahwa kanker bukanlah satu penyakit yang sama pada setiap pasien. Dua orang yang sama-sama didiagnosis kanker payudara dapat memiliki karakteristik biologis yang berbeda sehingga pendekatan terapinya pun harus disesuaikan dengan profil masing-masing pasien,” kata Dr. See.

Dalam terapi presisi kanker, dokter menggunakan hasil pemeriksaan histopatologi dan analisis molekuler untuk membaca karakter tumor secara lebih rinci. Informasi itu kemudian menjadi dasar dalam memilih strategi pengobatan yang paling sesuai dengan kondisi klinis pasien.

Pada kanker payudara, pemeriksaan dapat mengidentifikasi subtipe hormone receptor-positive, HER2-positive, serta triple-negative breast cancer. Ketiga subtipe tersebut memiliki respons berbeda terhadap pengobatan sehingga tidak dapat ditangani dengan pola yang seragam.

Hasil pemeriksaan tumor dapat mengarahkan pilihan pada terapi hormonal, terapi target, terapi anti-HER2, imunoterapi, atau kombinasi beberapa metode. Keputusan akhir tetap mempertimbangkan profil kanker yang ditemukan serta kondisi pasien secara menyeluruh.

Beban kanker perempuan masih besar

Data global menunjukkan kebutuhan akan diagnosis dan penanganan yang tepat masih sangat besar. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan terdapat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker payudara di dunia sepanjang 2024.

Pada periode yang sama, jumlah kasus baru kanker serviks secara global diperkirakan mencapai 604 ribu kasus. Di Indonesia, Global Cancer Observatory atau GLOBOCAN mencatat ratusan ribu kasus kanker baru dan kematian akibat kanker pada 2022.

Cakupan DataIndikatorJumlah
Global 2024Kasus baru kanker payudara2,4 juta
Global 2024Kasus baru kanker serviks604 ribu
Indonesia 2022Seluruh kasus kanker baru408.661
Indonesia 2022Kematian akibat kanker242.988

GLOBOCAN mencatat kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak didiagnosis pada perempuan di Indonesia, dengan 66.271 kasus baru. Kanker serviks berada setelahnya dengan 36.964 kasus baru, sedangkan kanker ovarium mencapai 15.130 kasus.

Harapan hidup dan kualitas hidup

Dr. See menilai perkembangan terapi yang lebih terarah menjadi tonggak penting dibandingkan pendekatan pengobatan satu hingga dua dekade lalu. Strategi yang disesuaikan dengan karakter kanker memberi peluang hasil terapi yang lebih optimal bagi pasien.

“Tingkat harapan hidup pasien kini makin tinggi,” imbuhnya. Namun, peningkatan peluang tersebut tetap bergantung pada karakteristik kanker yang ditemukan pada masing-masing pasien.

Inovasi penanganan kanker juga diarahkan untuk menjaga kualitas hidup selama dan setelah pengobatan. Pada kondisi tertentu, kemajuan teknik bedah dapat membantu perempuan berusia muda mempertahankan fungsi reproduksinya.

Peluang untuk memiliki keturunan tetap dapat dipertimbangkan sesuai kondisi klinis setiap pasien. Karena itu, pemeriksaan yang rinci serta pemilihan terapi yang tepat menjadi bagian penting dalam penanganan kanker perempuan.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terkait