Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah Mengintai Emas, Koreksi ke US$ 3.856 Terbuka

Author: Cung Media

Harga emas dunia masih menghadapi ruang koreksi apabila kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat kembali menguat. Pelaku pasar kini memantau risiko dari kenaikan biaya energi dan logistik yang dapat muncul akibat ketegangan geopolitik.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan emas berpotensi menguji support US$ 3.970 per ons troi. Jika tekanan jual berlanjut, harga dapat bergerak menuju area US$ 3.856 per ons troi.

Level Penting yang Dipantau Pasar

Rentang pergerakan emas dalam waktu dekat dipengaruhi sentimen inflasi, arah suku bunga AS, serta permintaan cadangan dari sejumlah bank sentral. Di sisi lain, sentimen aset aman dapat kembali mendorong harga apabila ketidakpastian global meningkat.

Pergerakan Level Harga Keterangan
Support pertama US$ 3.970 per ons troi Area koreksi awal
Support kedua US$ 3.856 per ons troi Area koreksi lanjutan
Resistance pertama US$ 4.063 per ons troi Target saat harga menguat
Resistance kedua US$ 4.149 per ons troi Target penguatan berikutnya

Apabila penguatan berlanjut, Ibrahim melihat emas berpeluang menuju resistance pertama di US$ 4.063 per ons troi. Harga kemudian dapat menguji US$ 4.149 per ons troi bila sentimen pasar kembali mendukung aset aman.

Konflik Memicu Risiko Inflasi Baru

Ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memperbesar ketidakpastian bagi harga emas. Serangan AS terhadap sejumlah infrastruktur di Iran dan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut disebut meningkatkan risiko global.

Situasi di Laut Merah juga menjadi perhatian karena kelompok Houthi memblokade jalur pelayaran di kawasan itu. Gangguan pada rute tersebut berpotensi mengerek harga minyak mentah serta menambah biaya transportasi dan logistik.

Kenaikan biaya energi dan distribusi dapat memberi tekanan terhadap inflasi di berbagai negara. Kondisi ini penting bagi pasar emas karena investor akan kembali menilai respons kebijakan moneter Amerika Serikat.

Suku Bunga Tinggi Dapat Menekan Emas

Data indeks harga konsumen dan indeks harga produsen sebelumnya menunjukkan perlambatan inflasi. Namun, konflik geopolitik berpotensi membalikkan tren tersebut apabila kenaikan biaya energi dan logistik semakin meluas.

Inflasi yang kembali meninggi dapat membuat Bank Sentral AS mempertahankan suku bunga pada level tinggi atau menaikkannya lagi. Kebijakan itu berisiko menekan emas dan logam mulia karena pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga.

Ibrahim menilai risiko tersebut perlu dicermati oleh pelaku pasar dalam membaca pergerakan harga berikutnya. “Kalau inflasi tinggi, bank sentral bisa saja menaikkan suku bunga lebih dari dua kali dan ini akan berdampak terhadap penurunan harga emas dunia maupun logam mulia,” ujar Ibrahim, seperti dikutip Beritasatu.

Dinamika politik AS menjelang pemilu sela Kongres turut masuk dalam radar pasar. Isu perang dan inflasi diperkirakan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kebijakan ekonomi serta sentimen pasar keuangan.

Pembelian Bank Sentral Menjadi Penopang

Di tengah risiko koreksi jangka pendek, pembelian emas oleh bank sentral dari sejumlah negara tetap menjadi penopang prospek jangka panjang. Mereka meningkatkan cadangan emas sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas cadangan devisa.

Permintaan institusional tersebut berbeda dengan investor ritel yang umumnya memburu peluang keuntungan dalam jangka pendek. Pembelian bank sentral dapat menjaga dukungan bagi emas ketika ketidakpastian ekonomi global masih tinggi.

Arah harga emas selanjutnya akan bergantung pada perkembangan konflik, tekanan inflasi, serta respons kebijakan Bank Sentral AS. Selama faktor-faktor itu belum mereda, emas berpotensi bergerak dalam rentang support dan resistance yang dipantau pasar.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru