Selisih antara harga ekspor produk sawit yang dilaporkan eksportir dan harga acuan disebut mulai menyempit setelah pemerintah memakai sistem pemantauan berbasis indeks. Temuan awal ini muncul ketika data dari sejumlah instansi mulai terkonsolidasi dalam satu platform.
Di saat yang sama, Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) disebut telah mengelola devisa ekspor senilai US$ 10,5 miliar dalam waktu lebih dari satu bulan. Nilai tersebut tercatat sejak integrasi data ekspor mulai berjalan pada 1 Juni 2026.
Harga RBD Olein Jadi Perhatian Awal
Produk kelapa sawit, terutama RBD Olein, menjadi salah satu komoditas yang disorot dalam pemantauan awal. Pemerintah melihat sebelumnya terdapat jarak antara declared price yang disampaikan eksportir dengan harga acuan atau indeks pasar.
Menurut CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, selisih tersebut rata-rata pernah berada di atas 30%. Setelah indeks digunakan dalam pemantauan, jarak harga pelaporan dan harga acuan disebut sudah jauh lebih dekat.
“Gap yang tadinya average kurang lebih 30% lebih itu, sekarang sudah dengan indeks ini sudah berdekatan. Sudah sangat berdekatan,” ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026).
Penyempitan selisih harga itu menjadi salah satu indikasi dari fungsi sistem terpadu yang sedang dibangun. Pemerintah kini dapat membandingkan informasi nilai ekspor dengan data harga pasar dalam proses pengawasan yang lebih terhubung.
Data dari Berbagai Instansi Disatukan
Sebelum integrasi diterapkan, data ekspor tersimpan di masing-masing instansi dan belum terhubung secara menyeluruh. Kondisi itu membuat penelusuran antara asal barang, volume, nilai transaksi, serta pungutan terkait membutuhkan pembandingan lintas lembaga.
Rosan mengatakan sistem tersebut telah mampu menarik data dari semua instansi atau kementerian terkait pada pekan sebelumnya. Keterangan itu disampaikan setelah proses integrasi berjalan sejak awal Juni.
| Komoditas | Cakupan Pemantauan |
|---|---|
| Batu bara | Komoditas utama ekspor |
| Kelapa sawit | Termasuk produk turunannya |
| Ferroalloy | Termasuk produk turunannya |
Tiga kelompok komoditas tersebut menjadi fokus pada tahap awal, yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy beserta produk turunannya. Pemilihan ini memungkinkan pengawasan awal diarahkan pada komoditas ekspor utama yang datanya telah masuk ke sistem.
Instansi yang telah terhubung antara lain Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta lembaga lain. Konsolidasi ini mencakup informasi dari pelabuhan keberangkatan hingga nilai yang dideklarasikan eksportir.
Alert untuk Selisih Data dan Harga
Platform tersebut juga dilengkapi sistem peringatan atau alert untuk menandai perbedaan data maupun harga yang dianggap tidak wajar. Peringatan itu kemudian diteruskan kepada instansi yang berwenang menindaklanjuti sesuai karakter temuannya.
Bea Cukai, Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, dan Kementerian Perdagangan dapat menerima informasi tersebut. Melalui mekanisme ini, pemerintah dapat menelusuri asal pengiriman, volume komoditas, pembayaran bea, pajak, dan nilai ekspor yang berkaitan.
Data yang dikumpulkan tidak hanya mencatat volume barang dan pelabuhan keberangkatan. Sistem juga menghimpun informasi pembayaran bea, pajak, serta harga yang dilaporkan dalam transaksi ekspor.
Rosan menjelaskan nilai devisa US$ 10,5 miliar bukan berasal dari catatan satu lembaga saja. Angka itu dihimpun dari integrasi informasi ekspor lintas instansi yang mulai dapat ditarik secara terpadu.
Dengan data yang saling terhubung, perbedaan antara pelaporan eksportir dan indeks pasar dapat terlihat lebih cepat. Temuan pada harga sawit menunjukkan bagaimana sistem ini dipakai untuk mengidentifikasi pola data yang sebelumnya tersebar di banyak lembaga.
