200 Tahun Dianggap Pria, Dukun Zaman Perunggu dekat Stonehenge Ternyata Perempuan

Author: Cung Media

Selama lebih dari dua abad, seorang tokoh Zaman Perunggu yang dimakamkan dengan perlengkapan mewah dekat Stonehenge diyakini sebagai pria bertubuh besar. Pengujian DNA kuno kini membalik keyakinan itu dan menunjukkan bahwa individu tersebut adalah perempuan.

Penemuan ini mengubah cara arkeolog memandang makam yang dikenal sebagai makam Dukun Upton Lovell. Temuan tersebut juga menguatkan kemungkinan bahwa perempuan memegang peran penting dalam pengerjaan logam, ritual, dan lingkungan elite Zaman Perunggu Awal.

DNA Menjawab Asumsi Berusia Ratusan Tahun

Peneliti dari Francis Crick Institute di London awalnya memeriksa DNA untuk menelusuri garis keturunan penghuni makam. Namun, analisis itu menemukan kromosom seks XX, bukan XY seperti asumsi yang selama ini digunakan untuk mengidentifikasi kerangka tersebut.

Tim lalu menguji DNA dari gigi dan tulang jari kaki sebagai langkah verifikasi. Kedua sampel memberi hasil yang sama, sekaligus tidak menunjukkan adanya sisa lebih dari satu individu di dalam makam.

Aspek Temuan
Lokasi makam Dekat Desa Upton Lovell, sekitar 16 kilometer di barat Stonehenge
Usia makam Hampir 4.000 tahun
Hasil DNA Kromosom seks XX
Perkiraan tinggi badan Sekitar 165 sentimeter
Perkiraan usia saat meninggal Sekitar 45 tahun

Makam itu pertama kali digali pada 1801 oleh arkeolog Inggris William Cunnington. Berdasarkan ukuran tulangnya, Cunnington saat itu menyimpulkan jenazah tersebut kemungkinan adalah pria berpostur besar.

Kesimpulan awal itu bertahan lama dan ikut membentuk gambaran publik mengenai penghuni makam. Sosok tersebut bahkan pernah ditampilkan sebagai pria berjanggut dalam pameran museum.

Jejak Pekerjaan Pengrajin Logam

Isi makam memberi petunjuk bahwa perempuan itu memiliki kedudukan tinggi dan keterampilan khusus. Wiltshire Museum mencatat adanya kapak batu, alat pengerjaan logam bertitik emas, batu uji kemurnian logam, serta tulang hewan berlubang yang diduga menjadi hiasan pakaian.

Peralatan itu sebelumnya membuat para arkeolog menafsirkan penghuni makam sebagai spesialis spiritual. Julukan “dukun” melekat karena benda-benda kerja logam ditemukan berdampingan dengan objek yang diduga memiliki arti ritual.

Kondisi tulangnya memperlihatkan kemungkinan aktivitas fisik yang dilakukan berulang dalam waktu lama. Ia mengalami radang sendi pada pergelangan tangan kanan, sementara tangan kirinya tidak menunjukkan pola serupa.

Pola tersebut dinilai sesuai dengan penggunaan alat pengerjaan logam secara intensif. Sebuah studi pada 2022 bahkan menyebut individu ini kemungkinan besar adalah pandai emas terampil yang membuat perhiasan emas.

Keahlian mengolah emas pada masa itu bernilai tinggi karena menuntut teknik dan pengetahuan khusus. Susan Greaney, arkeolog University of Exeter, menilai pelapisan benda dengan lembaran emas mungkin dipandang lebih dari sekadar pekerjaan teknis.

Menurut Greaney, kemampuan mengubah benda melalui proses halus dan terampil itu dapat dianggap sebagai proses magis atau ritual. Ia menyebut teknik tersebut mungkin merupakan metode rahasia yang hanya dikuasai segelintir orang.

Perempuan dalam Sejarah Zaman Perunggu

Direktur Wiltshire Museum, David Dawson, mengatakan penemuan ini menggugat anggapan lama bahwa pekerjaan penting, kepemimpinan, dan pengolahan logam pada masa lampau selalu dilakukan laki-laki. Ia menilai teknologi pengerjaan logam pada Zaman Perunggu dapat disandingkan dengan bidang teknologi tinggi pada masa kini.

Kepada The Guardian, Dawson menyebut bukti di Upton Lovell sangat kuat untuk menunjukkan keberadaan seorang pengrajin logam perempuan. Temuan ini menempatkan identitas biologis penghuni makam sebagai unsur penting dalam menafsirkan benda-benda kuburnya.

Kasus serupa pernah muncul pada makam elite Zaman Viking di Swedia yang berisi senjata dan permainan strategi. Individu itu awalnya dianggap pria sebelum pemeriksaan DNA mengonfirmasi bahwa ia perempuan.

Contoh lain berasal dari tokoh berpangkat tinggi Zaman Tembaga di Spanyol yang juga baru diketahui perempuan melalui pengujian genetik. Bagi kurator Wiltshire Museum, Lisa Brown, hasil dari Upton Lovell membantu mengembalikan perempuan ke garis depan pemahaman tentang masyarakat Zaman Perunggu Awal.

Terbaru