DNA Kuno Menguatkan Malaria pada Francesco de Medici, Rumor Arsenik Belum Padam

Misteri kematian Grand Duke Tuscany Francesco I de Medici kembali mendapat petunjuk penting setelah analisis DNA menemukan jejak parasit malaria pada sisa kerangkanya. Temuan ini memperkuat kemungkinan bahwa penyakit yang ditularkan nyamuk ikut berperan besar dalam wafatnya penguasa Medici tersebut pada 1587.

Namun, bukti genetik itu belum sepenuhnya menutup tuduhan lama tentang pembunuhan dengan arsenik. Sejumlah peneliti masih menilai Francesco bisa saja terinfeksi malaria, tetapi meninggal akibat penyebab lain yang menyertainya.

DNA dari Tulang Rusuk Francesco

Penelitian terbaru dilakukan oleh tim yang dipimpin Serena Tucci, asisten profesor antropologi di Fakultas Seni dan Sains Universitas Yale, bersama peneliti dari Universitas Pisa. Mereka membandingkan DNA dari sisa kerangka Francesco dengan salah satu saudaranya, Giovanni.

Pemeriksaan pada sampel tulang rusuk Francesco menemukan jejak genetik Plasmodium, protozoa parasit penyebab malaria. Metode DNA ini berbeda dari pemeriksaan antigen karena mencari tanda genetik langsung dari organisme penyebab penyakit.

Valentina Giuffra, profesor sejarah kedokteran Universitas Pisa yang terlibat dalam studi tersebut, menilai bukti DNA memberi dasar kuat bagi perdebatan yang telah berlangsung berabad-abad. “DNA adalah sesuatu yang pasti. Ini menyelesaikan masalah dan keraguan,” kata Giuffra seperti dikutip inet.detik.com.

PeriodeMetode atau BuktiArti bagi Misteri Kematian
Sejak 2004Penggalian dan analisis 49 makam keluarga MediciSejumlah penelitian mengarah pada malaria sebagai pemicu kematian Francesco
2006Investigasi toksikologiMenyimpulkan Francesco dan Bianca mengalami keracunan arsenik
Studi terbaruAnalisis DNA tulang rusuk FrancescoMenemukan jejak genetik Plasmodium

Wafat Berselang Beberapa Jam

Francesco dan istrinya, Bianca Cappello, jatuh sakit berat selama beberapa hari sebelum meninggal di vila Medici di Poggio a Caiano, dekat Florence. Keduanya wafat hanya dalam selang beberapa jam, sebuah keadaan yang sejak awal memicu spekulasi di lingkungan keluarga Medici.

Vila tersebut berada dekat rawa dan area persawahan yang menjadi lingkungan sesuai bagi nyamuk pembawa malaria. Catatan mengenai demam yang datang dan pergi pada pasangan itu juga dinilai selaras dengan kemungkinan infeksi malaria.

Nama malaria sendiri berasal dari istilah Italia abad pertengahan, mal aria, yang berarti udara buruk. Sebutan itu lahir dari keyakinan lama bahwa penyakit berasal dari bau tidak sedap di sekitar rawa dan genangan air.

Catatan Dokter Mengarah pada Penyakit Demam

Dokumen dokter keluarga Medici turut mencatat kondisi Francesco yang dinilai konsisten dengan malaria. Catatan itu juga menyebut tindakan bloodletting, yakni pengeluaran darah secara sengaja sebagai bagian dari perawatan pada masa tersebut.

Praktik pengeluaran darah dahulu dipercaya dapat membantu pasien, tetapi berpotensi memperburuk kondisi orang yang sedang sakit. Malaria sendiri masih menjadi penyakit mematikan dan menyebabkan sekitar 610.000 kematian pada 2024.

Analisis DNA memberikan bukti bahwa Francesco pernah terpapar parasit penyebab malaria, tetapi pertanyaan mengenai penyebab akhir kematiannya tetap diperdebatkan. Perdebatan itu terutama bertahan karena adanya hasil penelitian toksikologi sebelumnya yang menunjuk arsenik.

Hipotesis Keracunan Arsenik Tetap Dipertahankan

Donatella Lippi, profesor sejarah kedokteran Universitas Florence dan penulis studi 2006, tetap mempertahankan kemungkinan pembunuhan melalui arsenik. Menurutnya, seseorang dapat terjangkit malaria tanpa harus meninggal akibat penyakit tersebut.

Lippi merujuk catatan Perpustakaan Vatikan yang menyebut ruam kulit, demam, dan pembengkakan pada Francesco. Ia menilai gejala-gejala itu juga dapat selaras dengan keracunan arsenik akut.

Ia juga menyoroti keadaan jasad Francesco ketika makamnya dibuka sekitar 300 tahun setelah kematiannya. Tangan yang mengerut dan kondisi tubuh yang relatif terawetkan baik, menurut Lippi, dapat dijelaskan oleh paparan arsenik.

Giuffra menanggapi bahwa bukti dalam studi 2006 tidak berasal dari kerangka di makam Francesco, melainkan dari jaringan biologis di lokasi lain yang diyakini menyimpan organ tubuhnya setelah autopsi. Francesco juga dikenal sebagai alkemis yang sering bereksperimen dengan zat kimia, sehingga ruam kulit dinilai tidak otomatis membuktikan adanya racun.

Terkait