Hyrox dan CrossFit sama-sama menguji kekuatan, daya tahan, serta kemampuan melakukan gerakan fungsional dalam intensitas tinggi. Namun, keduanya bukan kompetisi yang bisa disiapkan dengan pola latihan dan strategi energi yang sama.
Hyrox lebih menyerupai balap kebugaran dengan rute yang telah diketahui, sedangkan CrossFit menempatkan atlet pada tantangan yang beragam dan dapat berubah. Perbedaan itu memengaruhi jenis latihan, karakter fisik yang menguntungkan, hingga cara mengatur asupan makanan.
| Aspek | Hyrox | CrossFit |
|---|---|---|
| Konsep kompetisi | Balap kebugaran dengan rangkaian yang sudah ditentukan | Tantangan kebugaran yang beragam |
| Fokus fisik | Pengondisian fisik dan daya tahan aerobik | Kekuatan, keterampilan, dan daya tahan intensitas tinggi |
| Pola latihan | Lebih spesifik untuk kebutuhan lomba | Lebih bervariasi untuk menghadapi tantangan tak terduga |
| Nutrisi saat lomba | Karbohidrat dapat dikonsumsi selama perlombaan | Fokus pada asupan sebelum dan sesudah sesi |
1. Sistem Energi yang Dipakai Tubuh
Perbedaan terbesar muncul dari cara tubuh memproduksi energi ketika atlet berlatih atau bertanding. CrossFit lebih sering memuat aktivitas singkat dengan intensitas sangat tinggi, sementara Hyrox menuntut kerja fisik yang lebih panjang.
Ilmuwan olahraga Gommaar D’Hulst, seperti dikutip health.detik.com, menjelaskan bahwa gerakan seperti muscle-up dan deadlift satu repetisi maksimal banyak mengandalkan sistem kreatin fosfat. Latihan sekitar 10 menit juga lebih dominan memakai jalur glikolisis yang berkaitan dengan kerja anaerob.
Hyrox lebih menitikberatkan conditioning dalam durasi panjang, sehingga tubuh lebih banyak memakai sistem aerobik melalui oksidasi lemak dan glukosa. Atlet dengan kapasitas aerobik yang baik dapat mempertahankan kerja tersebut lebih lama sebelum kelelahan datang.
Pada CrossFit, peralihan yang lebih cepat menuju sistem anaerob dapat meningkatkan produksi laktat. Kondisi ini membuat atlet perlu siap menghadapi kelelahan yang muncul cepat saat intensitas latihan atau kompetisi meningkat.
2. Karakteristik Fisik yang Memberi Keuntungan
Postur tubuh dapat memberikan keuntungan biomekanik yang berbeda di dua cabang ini. Penelitian terhadap 60 atlet CrossFit elite mencatat rata-rata tinggi badan mereka sekitar 176 sentimeter.
Panjang lengan, paha, dan tubuh bagian inti dilaporkan berkaitan dengan performa atlet CrossFit. D’Hulst menyebut panjang tubuh bagian inti dan lengan berkontribusi sekitar 28 persen terhadap performa dalam CrossFit Open.
Atlet Hyrox papan atas cenderung lebih tinggi sekitar 5,5 sentimeter dibandingkan atlet CrossFit elite. Postur tersebut dinilai membantu pada gerakan sled push, wall balls, walking lunges, rowing, serta lari.
Keunggulan postur itu tidak berarti satu tipe tubuh otomatis cocok untuk semua format. Hyrox tetap menuntut kemampuan mempertahankan tenaga dalam kombinasi lari dan latihan fungsional yang berulang.
3. Program Latihan Tidak Bisa Disamakan
Format Hyrox yang sudah diketahui membuat persiapan peserta dapat diarahkan secara lebih spesifik. Atlet bisa melatih gerakan yang muncul dalam perlombaan lalu menyusunnya dalam interval, EMOM, atau AMRAP berdurasi lebih panjang.
Latihan zona 2 juga mengambil porsi penting dalam persiapan Hyrox. Intensitas rendah hingga sedang dalam durasi panjang dipakai untuk membangun fondasi daya tahan aerobik.
CrossFit membutuhkan pendekatan yang lebih luas karena atlet harus siap pada unsur yang sudah dikenal maupun yang tidak terduga. Latihan kekuatan dan daya tahan sering bertumpuk dalam satu program untuk menghadapi variasi tantangan kompetisi.
Intensitas latihan CrossFit juga lebih sering berada di zona 4 dan 5. Karena itu, atlet tidak hanya perlu kuat dan bugar, tetapi juga harus memiliki keterampilan untuk menjalankan banyak jenis gerakan.
4. Strategi Nutrisi Saat Bertanding
Durasi Hyrox yang sekitar 60 hingga 90 menit membuat cadangan glikogen menjadi faktor penting. Glikogen merupakan simpanan glukosa di hati dan otot yang digunakan tubuh sebagai bahan bakar.
D’Hulst menyarankan konsumsi karbohidrat selama Hyrox bagi peserta yang sistem pencernaannya sudah terbiasa. Asupannya dapat mencapai 60 hingga 90 gram kombinasi glukosa dan fruktosa, bergantung pada toleransi pencernaan masing-masing.
Kompetisi atau sesi CrossFit umumnya lebih singkat sehingga atlet tidak memungkinkan makan di tengah latihan. Strategi nutrisinya lebih berfokus pada asupan sebelum sesi untuk mendukung energi dan sesudah sesi untuk membantu pemulihan.
Peserta Hyrox perlu menyiapkan lari, latihan fungsional, daya tahan aerobik, serta kecukupan karbohidrat. Calon atlet CrossFit, di sisi lain, perlu membangun kemampuan yang lebih beragam agar siap menghadapi format tantangan yang terus berubah.







