Sore hari kedua Soundrenaline Sana Sini Di Jakarta 2026 berubah menjadi ruang dansa terbuka ketika Ali naik ke Peruri Kota Stage. Trio asal Jakarta itu menjaga penonton tetap bergerak lewat racikan funk, afrobeat, psychedelic rock, dan warna musik Timur Tengah.
Ledakan energi terbesar muncul saat “Dance Habibie” dimainkan di tengah rangkaian set. Lagu yang turut mengangkat nama Ali di dalam dan luar negeri itu menjadi titik euforia bagi Jamaah Funky yang memadati area Taman Kota Peruri, Jakarta Selatan.
Groove Dibangun Sejak Jamming Pembuka
Ali tampil pada Minggu, 19 Juli 2026, tepat pukul 17.00 WIB. Mereka membuka set dengan sesi jamming instrumental sebelum permainan mengalir ke “Pulse”, lagu pembuka dari EP Patterns yang dirilis pada 2025.
Pilihan waktu tampil sore hari menjadi bagian dari suasana yang ingin dibangun grup tersebut. Daru, pemain bass dan vokal Ali, menyebut cuaca pada waktu itu cocok dengan karakter permainan musik mereka.
“Halo, selamat sore Soundrenaline Jakarta! Senang sekali bisa main sore hari ini. Kami hadir di waktu yang ideal buat kami. Pas cuacanya masih nyore-nyore, agak sedikit hangat tapi juga adem,” kata Daru di panggung.
Ali tidak memberi banyak jeda pada alur groove sepanjang pertunjukan. Setelah “Pulse”, mereka membawakan “Salem”, lagu milik grup afro rock-funk Nigeria, The Funkees, yang memperlihatkan kedekatan musikal mereka dengan eksplorasi ritme lintas wilayah.
Keakraban dengan penonton terasa ketika Daru melantunkan bait, “La ilaha illallah, Assalamualaikum ya Jamaah dunia.” Seruan itu disambut riuh sebelum band melanjutkan permainan menuju “Downtown Strut”.
Daru lalu memperkenalkan grupnya kepada penonton yang hadir di depan panggung. “Tak perlu panjang lebar lagi, kami Ali dari Jakarta. Terima kasih sudah datang, terima kasih Soundrenaline. Let’s get funky!” ujarnya.
Tiga Personel dengan Fondasi Ritme yang Kuat
Karakter Ali bertumpu pada pertemuan permainan drum, bass, gitar, serta vokal yang saling mengisi. Formasi ini menjadi fondasi bunyi mereka yang memadukan dorongan funk dan afrobeat dengan tekstur psychedelic rock.
| Personel | Nama Panggung | Peran |
|---|---|---|
| John Paul Patton | Coki | Drum |
| Aswandaru Cahyo | Daru | Bass dan vokal |
| Absar Lebeh | – | Gitar dan backing vokal |
Dengan formasi tiga personel tersebut, Ali menata intensitas set secara bertahap ketimbang mengandalkan satu lagu saja. Permainan mereka bergerak dari jamming, lagu-lagu sendiri, hingga interpretasi karya grup lain tanpa memutus atmosfer dansa yang telah terbentuk.
“Orient” hingga Kolaborasi Lintas Negara
Menurut Medcom.id, jalur menuju “Dance Habibie” dibangun melalui “Orient”, “Abyadh Ashwad”, dan “Al Janoub”. Deretan lagu itu mempertegas identitas Ali yang lekat dengan groove padat dan permainan ritme berlapis.
Di tengah set, Ali juga menyisipkan “Ombak, Ombak”, karya dari album kolaborasi bersama musisi Lebanon, Charif Megarbane. Lagu tersebut termuat dalam album Tirakat (Habibi Funk 034), yang menghadirkan perluasan warna musikal kelompok ini.
Penampilan kemudian bergerak menuju bagian akhir melalui “Ya Shaams” dan “Blue Lotus”. Kedua lagu itu menutup sore dengan atmosfer yang telah dirajut sejak jamming pembuka, dari ketukan yang rapat hingga respons penonton yang terus berdansa.
Daru menutup penampilan dengan mengajak penonton tetap menikmati rangkaian festival. “Oke, terima kasih semuanya sekali lagi, Soundrenaline Jakarta dan semuanya. Malam masih panjang, jangan ke mana-mana. Kami Ali, terima kasih,” katanya.
Set di Soundrenaline Sana Sini Di Jakarta 2026 kembali memperlihatkan konsistensi Ali dalam membawa identitas musiknya ke panggung festival. Bagi Jamaah Funky, sore itu bukan sekadar penampilan band, melainkan ruang bersama untuk larut dalam groove.
Source: www.medcom.id






