Peringatan Hari Kartini di Jepara kembali menegaskan pesan yang paling lekat dengan nama R.A. Kartini, yakni pentingnya pendidikan bagi perempuan. Wakil Menteri Hak Asasi Manusia Mugiyanto menyampaikan bahwa semangat Kartini masih relevan karena kesetaraan tidak bisa berdiri tanpa akses pendidikan yang adil.
Dalam peringatan Hari Kartini ke-147 di Pendopo Kartini, Selasa (21/4), Mugiyanto menekankan bahwa pendidikan merupakan hak dasar yang tidak boleh terhambat diskriminasi. Ia menilai perempuan perlu mendapat kesempatan yang sama agar bisa berpikir kritis, mandiri, dan berperan di berbagai bidang kehidupan.
Pendidikan sebagai ukuran kesetaraan
Pesan utama yang dibawa dalam peringatan itu tidak berhenti pada seremoni. Mugiyanto menyoroti bahwa pendidikan menjadi fondasi bagi perempuan untuk memperluas ruang gerak sekaligus memperkuat posisi mereka di keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Ia menilai kesetaraan gender masih belum bisa dilepaskan dari akses pendidikan yang merata. Karena itu, peringatan Hari Kartini di Jepara dijadikan ruang untuk mengingat kembali bahwa perjuangan perempuan belum selesai selama masih ada hambatan dalam memperoleh pendidikan.
Data Badan Pusat Statistik atau BPS tahun 2025 memperkuat perhatian itu. Angka putus sekolah perempuan di jenjang SMA masih sekitar 2,14 persen, dan kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan masih nyata, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Hambatan yang masih membayangi
Mugiyanto menilai penyebab hambatan pendidikan perempuan tidak tunggal. Kemiskinan, perkawinan anak, dan pandangan sosial yang membatasi ruang gerak perempuan masih menjadi faktor yang saling terkait.
Situasi itu membuat perjuangan menuju kesetaraan belum dapat dianggap tuntas. Karena itu, ia mendorong adanya upaya bersama untuk mencegah putus sekolah dan menekan praktik perkawinan anak yang dapat menghambat masa depan perempuan.
Pendidikan yang terbuka bagi perempuan juga dipandang sebagai cara untuk memperluas kemampuan mengambil keputusan. Dalam pandangan yang disampaikan Mugiyanto, kesempatan belajar yang cukup akan memberi ruang bagi perempuan untuk tumbuh lebih mandiri dan berdaya.
Makna tema Hari Kartini tahun ini
Tema peringatan Hari Kartini, “Perempuan Bermimpi, Perempuan Menginspirasi”, ikut memberi warna pada kegiatan di Jepara. Tema itu dipahami sebagai dorongan untuk membuka lebih banyak ruang bagi perempuan agar dapat berprestasi dan mengambil peran strategis di masyarakat.
Makna tersebut sejalan dengan warisan Kartini yang dikenal sebagai tokoh penting dalam membuka jalan pendidikan perempuan di Indonesia. Pesan itu kembali diangkat sebagai pengingat bahwa kesetaraan harus terus diperkuat di berbagai lini kehidupan, bukan hanya dalam perayaan tahunan.
Jepara sendiri memiliki kaitan yang kuat dengan jejak Kartini, sehingga peringatan di daerah ini memiliki nilai simbolis yang besar. Nuansa itu membuat pesan tentang pendidikan dan kesetaraan terasa lebih dekat dengan konteks sejarah yang melahirkan semangat emansipasi perempuan.
Interaksi dengan pelajar dan komunitas perempuan
Setelah acara utama, Mugiyanto melanjutkan kunjungan ke Museum Kartini. Di sana, ia berinteraksi dengan pelajar dan komunitas perempuan melalui kegiatan membatik dan mengukir.
Aktivitas itu juga lekat dengan identitas budaya Jepara dan memberi ruang pertemuan antara nilai sejarah, pendidikan, dan pemberdayaan. Kehadiran jajaran Pemerintah Kabupaten Jepara serta perwakilan masyarakat membuat peringatan berlangsung dengan nuansa yang lebih luas dari sekadar acara seremonial.
Dalam konteks itu, Hari Kartini di Jepara menunjukkan bahwa pesan tentang perempuan bermimpi dan menginspirasi tetap hidup ketika pendidikan dijaga sebagai hak dasar. Di saat yang sama, budaya lokal dan keterlibatan masyarakat memperkuat pesan bahwa kesetaraan perempuan membutuhkan dukungan yang berkelanjutan dari banyak pihak.
Source: www.rmoljawatengah.id






