DBD, demam tifoid, dan TBC belum menunjukkan tanda mereda di Indonesia. Di saat jumlah kasus nasional masih tinggi, klaim kesehatan untuk tiga penyakit ini juga terus menumpuk di Allianz Indonesia.
Hingga pertengahan Juni 2026, Allianz mencatat 1.686 klaim DBD dengan nilai lebih dari Rp21,5 miliar. Di periode yang sama, klaim demam tifoid mencapai 1.534 kasus senilai lebih dari Rp14,5 miliar, sedangkan TBC tercatat 815 klaim dengan nilai lebih dari Rp5,4 miliar.
Beban penyakit tropis masih besar
Data Kementerian Kesehatan RI dan World Health Organization menunjukkan tiga penyakit ini tetap menjadi perhatian serius. TBC bahkan masih menempatkan Indonesia di posisi kedua dengan kasus tertinggi di dunia pada 2024.
Jumlah kasus TBC di Indonesia mencapai sekitar 1,06 juta per tahun. Angka itu menunjukkan penularan penyakit ini belum terkendali secara optimal dan masih membebani layanan kesehatan.
DBD juga masih menyumbang angka besar. Pada periode yang sama, kasus demam berdarah tercatat 210.644 kasus dengan 1.239 kematian, sementara demam tifoid tetap muncul dalam jumlah puluhan ribu kasus setiap tahun.
Biaya perawatan ikut naik
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, menilai penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan utama masyarakat membutuhkan layanan medis. Ia menyoroti bahwa beban itu tidak hanya terlihat dari jumlah klaim, tetapi juga dari kenaikan biaya perawatan.
“Data klaim yang kami miliki menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan perawatan medis yang cukup tinggi. Di saat yang sama, kami juga melihat adanya peningkatan biaya perawatan untuk beberapa penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026).
Berdasarkan data 2020–2025, rata-rata biaya rawat inap demam tifoid naik hingga 66%. Biaya perawatan DBD per kasus juga meningkat hingga 88%, sehingga tekanan finansial bagi pasien dan keluarga ikut membesar.
Gejala yang sering dianggap biasa
Edukator kesehatan dr. Dion Haryadi menilai tingginya kasus penyakit tropis tidak lepas dari cara pandang masyarakat yang kerap menganggapnya sebagai penyakit biasa. Akibatnya, banyak kasus tidak segera diperiksa sejak gejala awal muncul.
Ia menjelaskan, demam pada DBD sering disalahartikan sebagai tanda membaik, padahal fase itu justru bisa menjadi periode kritis. Pada tifoid, demam dan rasa lemas kerap dianggap hanya kelelahan, sedangkan TBC sering tidak segera ditangani karena dinilai sebagai batuk biasa.
“Padahal, sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah,” kata Dion.
Pencegahan tetap jadi kunci
Risiko penularan dipengaruhi oleh iklim tropis, kepadatan penduduk, sanitasi, dan keberadaan vektor penyakit seperti nyamuk. Kombinasi faktor tersebut membuat DBD dan penyakit tropis lain lebih mudah menyebar di lingkungan padat.
Biaya perawatan DBD di rumah sakit disebut dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat keparahan dan lama perawatan. Karena itu, pencegahan jauh lebih penting dibanding menunggu penyakit berkembang lebih berat.
Pencegahan yang disarankan antara lain menjaga kebersihan lingkungan, memastikan ventilasi rumah baik, tidak menumpuk pakaian yang bisa menjadi tempat nyamuk berkembang, serta menjaga makanan dan minuman tetap higienis. Dr. Tubagus menegaskan, penyakit tropis memang terdengar akrab, tetapi tidak boleh dianggap sepele karena deteksi dini dapat membantu menekan risiko kesehatan sekaligus beban finansial.
