Sejumlah ibu di Jakarta tetap memilih mendukung program Makan Bergizi Gratis atau MBG meski ada keluhan soal kualitas menu yang diterima anak-anak di sekolah. Bagi mereka, manfaat penghematan pengeluaran harian masih terasa, sehingga program itu dinilai belum perlu dihentikan.
Di saat yang sama, mereka meminta pemerintah memperketat pengawasan agar makanan yang disajikan benar-benar layak konsumsi. Harapan itu muncul karena sebagian orang tua menilai standar kebersihan dan mutu bahan pangan harus dijaga lebih serius.
Penghematan yang langsung terasa di rumah
Wulan, warga Halim, Jakarta Timur, mengatakan MBG sangat membantu kondisi keuangan keluarganya. Ia menyebut uang jajan anak-anaknya berkurang cukup besar karena mereka sudah mendapat jatah makan di sekolah.
Dengan tiga anak, Wulan menilai pengeluaran harian menjadi lebih ringan. Dana yang biasanya habis untuk uang jajan kini bisa disimpan untuk kebutuhan lain.
Keluhan soal sayur dan tomat
Meski mendukung program itu, Wulan juga menyampaikan keluhan yang datang dari anak-anaknya. Ia mengatakan pernah ada ulat di sayur, tepatnya di selada, dan pernah juga menerima tomat yang rasanya sudah tidak enak.
Keluhan tersebut membuat perhatian terhadap mutu bahan makanan kembali menguat. Menurut Wulan, makanan untuk anak sekolah seharusnya dipastikan segar, bersih, dan diolah dengan baik.
Anak cenderung suka makanan yang segar
Wulan menilai anak-anak lebih mudah menerima menu yang terasa fresh dan mirip masakan rumahan. Ia menyebut olahan ayam atau daging yang baik biasanya lebih disukai dibanding makanan yang kualitasnya menurun.
Karena itu, dukungan terhadap MBG tetap berjalan selama perbaikan mutu ikut dilakukan. Bagi para orang tua, program ini masih penting karena bisa membantu biaya rumah tangga tanpa mengorbankan keamanan dan kelayakan makanan anak sekolah.
