China Beri Rating AAA untuk Utang RI, Purbaya Soroti Keraguan pada Data Ekonomi

Indonesia memperoleh peringkat AAA dari Lianhe Credit Rating, lembaga pemeringkat asal China. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut nilai itu sebagai posisi tertinggi yang dapat diraih utang Indonesia di lembaga tersebut.

Predikat itu menjadi perhatian karena China memiliki pasar modal besar yang berpotensi menjadi sumber pembiayaan surat utang. Menurut Purbaya, peringkat tertinggi tersebut dapat mempermudah Indonesia ketika ingin menerbitkan surat utang di pasar China.

Rating Tertinggi di Pasar China

Purbaya menjelaskan posisi tersebut dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Juli 2026 di Jakarta pada Selasa, 21 Juli 2026. “Jadi di China peringkat utang kita itu yang mentok atas, rata kanan ya,” kata Purbaya.

Lianhe Credit Rating memberikan penilaian AAA yang disebut mencerminkan kondisi stabil. Bagi pemerintah, penilaian ini menjadi salah satu sinyal positif saat Indonesia mempertimbangkan akses pendanaan dari pasar China.

IndikatorDataKeterangan
Rating utang di ChinaAAADisebut sebagai peringkat tertinggi dan stabil
Pertumbuhan ekonomiDi atas 6 persenDisebut menopang penilaian
Rasio utang pemerintah40 persen dari PDBDi bawah batas maksimal 60 persen dari PDB

Besarnya pasar China menjadi alasan pemerintah menaruh perhatian pada perkembangan rating tersebut. Purbaya mencontohkan bahwa China sebelumnya pernah memiliki surat utang pemerintah Amerika Serikat lebih dari 3 triliun Dolar AS, sebelum nilainya turun mendekati 1 triliun Dolar AS.

Contoh itu dipakai untuk menggambarkan kapasitas dana yang tersedia di pasar China, bukan sebagai perbandingan langsung dengan posisi Indonesia. “Tapi jelas market mereka amat menjanjikan dan modal di sana amat besar,” ujar Purbaya.

Fundamental Ekonomi Disebut Menopang Penilaian

Purbaya mengaitkan penilaian positif tersebut dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disebut berada di atas 6 persen. Ia juga menilai fundamental ekonomi nasional tetap solid, dengan Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Menurutnya, skala ekonomi dan ketahanan tersebut membantu Indonesia menghadapi gejolak dari luar negeri. Ia menilai kondisi itu menunjukkan perekonomian nasional tetap kuat meski berada dalam situasi yang tidak selalu stabil.

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menyinggung adanya keraguan terhadap sejumlah angka ekonomi Indonesia. “Kita emang jago, ada gonjang-ganjing tetap kuat kan? Orang Indonesia saja yang tak percaya, disangkanya saya nipu angkanya,” katanya.

Ia menegaskan data yang dipakai pemerintah bukan hasil manipulasi. Purbaya menyebut angka-angka ekonomi tersebut berasal dari Badan Pusat Statistik atau BPS.

Purbaya juga mengkritik kecenderungan sebagian pihak yang mempertanyakan indikator ketika hasilnya positif. “Kalau jelek ayo yang jelek, kalau bagus pasti angkanya salah katanya,” ucapnya.

Rasio Utang Pemerintah di Level 40 Persen

Selain membahas rating, Purbaya menyoroti rasio utang pemerintah Indonesia yang berada di level 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB. Angka tersebut masih berada di bawah batas maksimal 60 persen dari PDB yang disebut dalam pembahasan itu.

Menurut Purbaya, rasio utang terhadap PDB merupakan ukuran yang lazim digunakan secara global untuk melihat tingkat keamanan utang sebuah negara. Namun, ia mengakui masih ada kritik yang lebih menitikberatkan perhatian pada nominal utang.

“Rasio utang Pemerintah, prudent. 40 persen dari PDB,” tegas Purbaya. Pemerintah memandang kombinasi rating AAA dari Lianhe Credit Rating, pertumbuhan ekonomi, dan rasio utang tersebut sebagai bagian dari gambaran fundamental Indonesia.

Bagi pemerintah, posisi itu dapat menjadi modal ketika memperluas pilihan pembiayaan melalui pasar surat utang di China. Penilaian dari lembaga pemeringkat China tersebut sekaligus menjadi dasar optimisme bahwa akses Indonesia ke pasar itu tidak akan terlalu sulit.

Source: www.suara.com
Terkait