Berita soal krisis iklim bukan cuma membuat pembaca memikirkan cuaca ekstrem atau emisi. Paparan yang terus-menerus terhadap ancaman perubahan iklim ternyata juga bisa memicu kecemasan dan tekanan psikologis.
Sejumlah penelitian menunjukkan, rasa tidak punya kendali atas situasi membuat beban mental ikut naik. Di tengah arus informasi yang terus datang, krisis iklim pun bisa berubah dari isu lingkungan menjadi persoalan kesehatan mental.
Kecemasan Lebih Kuat daripada Harapan
Salah satu studi yang dipublikasikan di Cambridge Prisms: Global Mental Health menemukan bahwa ancaman perubahan iklim dapat memicu kecemasan dan tekanan psikologis. Dalam temuan itu, optimisme terhadap masa depan justru kalah kuat dibanding kecemasan yang dirasakan responden.
Penelitian tersebut melibatkan sekitar 2.900 responden dewasa di Mesir, Yordania, Lebanon, dan Palestina. Para peneliti mengukur tingkat kecemasan, harapan, serta tekanan psikologis yang berkaitan dengan perubahan iklim.
| Negara | Responden | Fokus Pengukuran |
|---|---|---|
| Mesir | Dewasa, bagian dari total sekitar 2.900 responden | Kecemasan, harapan, tekanan psikologis |
| Yordania | Dewasa, bagian dari total sekitar 2.900 responden | Kecemasan, harapan, tekanan psikologis |
| Lebanon | Dewasa, bagian dari total sekitar 2.900 responden | Kecemasan, harapan, tekanan psikologis |
| Palestina | Dewasa, bagian dari total sekitar 2.900 responden | Kecemasan, harapan, tekanan psikologis |
Hasilnya menunjukkan mayoritas responden merasakan kecemasan dan tekanan psikologis yang lebih besar dibandingkan harapan. Kondisi ini dikaitkan dengan situasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang menghadapi gelombang panas, kekeringan, krisis air, dan urbanisasi yang cepat.
Beban Psikologis Kian Berat di Tengah Krisis Lain
Di kawasan itu, masalah iklim tidak berdiri sendiri. Masyarakat juga dibayangi persoalan ekonomi dan ketidakstabilan politik, sehingga tekanan akibat perubahan iklim terasa semakin berat.
Dalam konteks seperti ini, berita tentang perubahan iklim bisa menjadi pemicu kekhawatiran tambahan bagi pembaca yang terus mengikuti perkembangan krisis. Dampaknya tidak berhenti pada lingkungan, tetapi juga menyentuh rasa aman dan harapan terhadap masa depan.
Ruang Hijau Bisa Menjadi Penyangga
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa kecemasan terhadap perubahan iklim tidak selalu berakhir pada keputusasaan. Harapan masih bisa tumbuh ketika masyarakat merasa punya ruang untuk beradaptasi dan berkontribusi dalam menghadapi krisis.
Para peneliti menilai lingkungan tempat tinggal memegang peran penting dalam membangun optimisme. Kehadiran ruang terbuka hijau, taman yang mudah diakses, transportasi publik yang nyaman, dan ruang sosial untuk interaksi warga dinilai membantu menurunkan emisi sekaligus mendukung kesehatan mental.
Sebaliknya, kawasan dengan minim ruang hijau, kualitas lingkungan yang buruk, dan ruang publik yang terbatas berpotensi memperbesar tekanan psikologis. Risiko itu bisa makin terasa ketika masyarakat terus menerima informasi tentang ancaman perubahan iklim tanpa melihat adanya ruang untuk bertindak.
Adaptasi Iklim Perlu Memasukkan Kesehatan Mental
Studi tersebut menekankan bahwa adaptasi perubahan iklim tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur. Perlindungan kesehatan mental perlu menjadi bagian dari strategi adaptasi agar masyarakat tidak hanya selamat secara fisik, tetapi juga tetap memiliki daya tahan psikologis.
Di sekolah, literasi iklim dapat dipadukan dengan pendidikan kesehatan mental agar siswa memahami risiko perubahan iklim sekaligus punya kemampuan menghadapi tekanan psikologis. Pemerintah daerah juga dinilai perlu memperbanyak ruang publik yang mendorong interaksi sosial, sementara penyedia layanan kesehatan perlu lebih peka terhadap kecemasan yang berkaitan dengan krisis iklim.
Gagasan besarnya sederhana, tetapi penting: membangun ketahanan iklim bukan hanya soal mengurangi emisi atau mempercepat transisi energi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat tetap punya harapan dan rasa percaya bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan di tengah ancaman yang terus membesar.
