60% Dokter Jantung Terkonsentrasi di Jawa-Sumatra, Layanan Daerah Masih Timpang

Author: Cung Media

Pasien serangan jantung di banyak daerah masih menghadapi persoalan akses layanan yang mendesak. Ketika pertolongan cepat dibutuhkan, ketersediaan dokter dan fasilitas kardiovaskular belum merata hingga tingkat kabupaten dan kota.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia atau PERKI menyebut sekitar 60% dokter spesialis jantung terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra. Di sisi lain, sekitar 40% kabupaten dan kota di Indonesia masih kekurangan layanan kardiovaskular yang memadai.

Kesenjangan Dokter dan Layanan Daerah

Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia Renan Sukmawan, Sp.JP(K), PhD, menyebut jumlah dokter spesialis jantung di Indonesia saat ini sekitar 2.200 orang. Namun, jumlah tersebut belum otomatis menjamin setiap daerah memiliki akses pelayanan yang memadai.

Indikator Angka Makna
Dokter spesialis jantung Sekitar 2.200 Jumlah dokter yang disebut Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia
Konsentrasi dokter di Jawa dan Sumatra Sekitar 60% Sebagian besar tenaga spesialis masih berada di dua wilayah tersebut
Kabupaten dan kota kekurangan layanan Sekitar 40% Wilayah dengan layanan kardiovaskular yang belum memadai

Renan menilai layanan jantung perlu diperluas hingga ke kabupaten dan kota karena pasien tidak selalu punya waktu untuk menunggu proses rujukan. Kondisi serangan jantung membutuhkan penanganan segera, sehingga jarak terhadap fasilitas layanan dapat menjadi persoalan penting.

“Karena itu kita bersama Kementerian Kesehatan dan BPJS berusaha menurunkan layanan sampai ke kabupaten dan kota. Orang yang terkena serangan jantung tidak bisa menunggu dirujuk ke luar daerah,” ujar Renan.

Dokter Membutuhkan Fasilitas Penunjang

Pemerataan dokter spesialis jantung tidak cukup dilakukan dengan menempatkan tenaga medis ke wilayah yang masih kekurangan layanan. Kardiolog senior sekaligus Ketua Dewan Etik PERKI Muhammad Munawar, Sp.JP(K), menekankan pentingnya kesiapan sarana, perlindungan hukum, dan kesejahteraan dokter.

Menurut Munawar, dokter tidak dapat bekerja secara optimal apabila alat dasar pelayanan belum tersedia. Ia mencontohkan treadmill sebagai salah satu fasilitas minimal yang dibutuhkan untuk mendukung pelayanan jantung.

“Kalau dokter jantung ditempatkan di sana tetapi tidak ada alat minimal seperti treadmill, tentu dia tidak bisa bekerja secara optimal. Karena itu kami membutuhkan dukungan pemerintah,” kata Munawar dalam konferensi pers ASMIHA 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Persoalan infrastruktur ini membuat kesenjangan layanan tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah dokter. Wilayah yang menerima tenaga spesialis tetap memerlukan perangkat diagnostik dan sistem pelayanan yang memungkinkan dokter menjalankan kompetensinya.

Jejaring Rumah Sakit dan Cath Lab

Upaya memperluas layanan diarahkan melalui pengembangan rumah sakit jejaring, penambahan fasilitas cath lab, serta pemerataan dokter spesialis. Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia juga memastikan dokter yang bertugas memenuhi standar kompetensi nasional.

Ketua PP PERKI Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), PhD, mengatakan organisasi profesi terus mendorong pemerataan melalui pedoman praktik klinis, edukasi masyarakat, dan kolaborasi dengan pemerintah. Ia memandang perlindungan hukum serta kesejahteraan perlu diperkuat agar lebih banyak dokter spesialis bersedia bertugas di daerah.

Direktur Utama BPJS Kesehatan dr. dr. Prihati Pujowaskito, Sp.JP(K), FIHA, MMRS, menyebut BPJS Kesehatan bersama Kementerian Kesehatan terus memperluas akses layanan jantung. Salah satu langkah yang disorot adalah penambahan rumah sakit dengan fasilitas cath lab agar masyarakat dapat memperoleh layanan lebih dekat.

“Kementerian Kesehatan mempunyai program minimal satu cath lab di setiap kabupaten/kota. Itu menjadi tantangan bersama untuk bagaimana membuka akses layanan,” ujar Prihati.

Di tengah beban penyakit jantung dan stroke yang tinggi di Indonesia, pemerataan dokter perlu berjalan beriringan dengan penyediaan fasilitas. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, penambahan tenaga spesialis di daerah belum cukup untuk menutup kesenjangan layanan kardiovaskular.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terbaru