Jumlah truk pengangkut sampah dari Jakarta yang masuk ke TPST Bantargebang disebut turun cukup besar. Dari sebelumnya sekitar 1.200 truk per hari, angkanya sempat berada di kisaran 900-an truk dalam beberapa waktu terakhir.
Penurunan itu menjadi sinyal awal upaya menekan sampah yang berakhir di lokasi pengolahan akhir di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin memperkuat pengolahan sampah sejak dari rumah, lingkungan warga, hingga fasilitas pengolahan setempat.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan perkembangan tersebut saat berada di kawasan Jakarta Selatan pada Selasa (21/7). Menurut dia, penurunan perjalanan truk perlu dijaga melalui pelaksanaan pemilahan sampah yang lebih konsisten di seluruh wilayah Jakarta.
| Periode | Jumlah Truk per Hari | Keterangan |
|---|---|---|
| Sebelumnya | Sekitar 1.200 truk | Pengangkutan sampah menuju TPST Bantargebang |
| Beberapa waktu terakhir | Sekitar 900-an truk | Menunjukkan penurunan signifikan |
Pramono menggambarkan perubahan jumlah kendaraan yang masuk ke Bantargebang sebagai perkembangan yang cukup berarti. “Dulu setiap hari itu di Bantargebang transportasi truknya yang masuk itu kurang lebih 1200 (truk). Sekarang ini sudah mengalami penurunan, bahkan beberapa waktu yang lalu di sekitar 900-an,” kata Pramono.
Pengurangan truk bukan semata soal lalu lintas pengangkutan sampah. Angka itu berkaitan langsung dengan target mengurangi residu yang harus dikirim ke TPST Bantargebang.
Pilah Sampah Jadi Penopang Utama
Pemprov DKI Jakarta akan melanjutkan program Pilah Sampah sebagai salah satu langkah utama. Program ini diharapkan membuat sampah tidak seluruhnya dibawa ke titik pembuangan atau pengolahan akhir.
Pemilahan di tingkat warga dinilai penting karena sampah dapat ditangani lebih dekat dari sumbernya. Dengan pemisahan yang dilakukan secara konsisten, beban pengangkutan menuju Bantargebang diharapkan dapat ditekan lebih jauh.
“Jadi, ada penurunan yang cukup signifikan. Akan kami lanjutkan dengan program pilah sampah,” ujar Pramono. Pemerintah berharap pelaksanaannya dapat berjalan baik di lingkungan masyarakat Jakarta.
TPS3R Disiapkan untuk Diaktifkan Kembali
Selain pemilahan dari rumah, Pemprov DKI juga menyiapkan penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau TPS3R. Fasilitas ini diharapkan mampu mengolah sampah sebelum sisa residunya dikirim ke Bantargebang.
Pramono menyebut pengaktifan kembali TPS3R di Jakarta telah dibahas dalam rapat terkait penanganan Bantargebang. Pemerintah juga menyiapkan investasi peralatan serta kerja sama dengan pihak swasta untuk mendukung langkah tersebut.
Skema itu diarahkan agar sampah dapat diselesaikan lebih dulu di TPS3R. Dengan begitu, volume residu yang tetap memerlukan pengangkutan ke Bantargebang dapat berkurang.
“Kami investasi beberapa peralatan dan kerja sama juga dengan swasta, supaya sebelum ke Bantargebang itu sudah selesai di TPS3R-nya,” kata Pramono. Ia juga menyatakan akan meninjau langsung empat hingga lima titik TPS3R.
Perubahan Metode di Bantargebang
Upaya mengurangi kiriman sampah ke TPST Bantargebang berlangsung bersamaan dengan perubahan metode pengelolaan di lokasi tersebut. Pemprov DKI Jakarta mulai menghentikan praktik open dumping secara bertahap di kawasan itu.
Tahap awal perubahan dilakukan dengan penutupan dua zona aktif pembuangan sampah. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penerapan sistem controlled landfill di Bantargebang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi menyatakan sistem itu mulai dijalankan pada Jumat (17/7). Tim Unit Pengelola Sampah Terpadu terlebih dahulu memasang media penutup pada area atas Zona 2 TPST Bantargebang.
Media penutup dipasang untuk mengurangi bau dan membantu pengendalian emisi gas dari timbunan sampah. Langkah itu juga ditujukan untuk meminimalkan pembentukan air lindi akibat air hujan yang masuk ke tumpukan sampah.
Keberhasilan pengurangan pengiriman sampah akan bergantung pada keterhubungan tiga langkah tersebut, yakni pemilahan di sumber, pengolahan melalui TPS3R, dan pengendalian residu di Bantargebang. Penurunan jumlah truk harian dapat terus dijaga apabila lebih banyak sampah selesai diolah sebelum mencapai lokasi tersebut.
