Serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran memasuki malam kesembilan berturut-turut pada Senin (20/7/2026), ketika dampak konflik mulai menjalar ke jalur energi dan layanan sipil. Pembangkit listrik, fasilitas desalinasi, serta jembatan di selatan Iran dilaporkan terdampak di tengah lumpuhnya pelayaran di Selat Hormuz.
Tekanan militer ini berlangsung setelah Teheran menyatakan tidak lagi terikat oleh kesepakatan gencatan senjata sementara. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menilai tanda tangan Presiden AS Donald Trump dalam kesepakatan itu tidak bernilai dan tidak berlaku.
Ancaman Iran di Tengah Serangan Beruntun
Khamenei memperingatkan Amerika Serikat akan menerima “pelajaran yang tak terlupakan” apabila serangan diteruskan. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa jalur penghentian sementara konflik kian rapuh saat operasi militer terus diperluas.
Komando Pusat AS atau Centcom menyatakan gelombang serangan menyasar situs strategis dan infrastruktur militer di berbagai wilayah Iran. Sasaran itu mencakup pusat komando, pertahanan udara, lokasi pengawasan pesisir, kapabilitas maritim, dan jaringan komunikasi.
Lokasi peluncuran rudal serta drone Iran juga menjadi target operasi AS. Kompas.com, mengutip Euronews, melaporkan serangan berlangsung ketika konflik telah meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
Korban Militer AS Memperkeras Eskalasi
Trump mengatakan serangan terbaru dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi prajurit AS yang tewas. Setelah menghadiri final Piala Dunia dan kembali ke Washington, ia menyatakan AS kembali menghantam Iran dengan keras.
“Kita lihat apa yang akan terjadi, tetapi kita telah menghantam mereka dengan sangat keras lagi malam ini,” kata Trump kepada awak media. Eskalasi ini terjadi setelah tiga anggota militer AS dilaporkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Iran.
| Peristiwa | Lokasi | Rincian |
|---|---|---|
| Prajurit AS tewas | Yordania | Dua prajurit tewas akibat serangan Iran ke pangkalan AS. |
| Prajurit AS tewas | Irak | Satu prajurit tewas pada Sabtu (18/7/2026). |
| Serangan Iran | Kuwait | Iran mengaku menargetkan dua pangkalan militer AS. |
Beberapa jam sebelum ketegangan meningkat, juru runding Teheran menyatakan komitmen Iran terhadap perjanjian tersebut ditangguhkan. Trump sebelumnya juga sempat mengancam akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan untuk menekan Iran.
Washington kembali menerapkan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna menghentikan pengiriman minyak mentah. Langkah itu menambah tekanan terhadap jalur energi dan infrastruktur sipil ketika operasi militer masih berlanjut.
Air Bersih dan Akses Bandar Abbas Terdampak
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi serangan udara AS pada Sabtu menghantam pembangkit listrik serta fasilitas desalinasi air di Provinsi Hormozgan. Wilayah selatan Iran itu berada dekat jalur strategis Selat Hormuz.
IRNA melaporkan pabrik desalinasi Bonji hancur sehingga pasokan air bagi sekitar 10.000 warga terputus. Fasilitas desalinasi di Pulau Qeshm juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
Tiga jembatan dilaporkan terkena serangan pada Sabtu, termasuk satu jembatan di jalur menuju Bandar Abbas. Pelabuhan utama Iran itu terletak di titik tersempit Selat Hormuz, kawasan penting bagi lalu lintas energi global.
Pertempuran telah membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali lumpuh. Situasi itu mendorong harga minyak mentah Brent menembus lebih dari 90 dollar AS per barel pada Senin.
Serangan Meluas ke Negara Kawasan
Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC mengklaim melancarkan “serangan kejutan” terhadap pusat komando “musuh” di Suriah. Klaim itu muncul saat konfrontasi tidak lagi terkonsentrasi di wilayah Iran.
Iran sehari sebelumnya mengaku menargetkan dua pangkalan militer AS di Kuwait, sementara militer Kuwait menyatakan tengah merespons dengan sistem pertahanan udara. “Setiap ledakan yang terdengar adalah hasil dari sistem pertahanan udara yang mengintersepsi serangan musuh,” kata militer Kuwait dalam pernyataan di X.
Bahrain turut menyalakan sirene peringatan bahaya rudal pada Senin pagi sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuding Iran berupaya menjadikan Selat Hormuz sebagai alat penekan terhadap dunia.
Rubio meminta negara-negara lain membantu pengamanan pelayaran global melalui alutsista maupun dukungan finansial. Ia menegaskan Washington tetap membuka jalur diplomasi, tetapi setiap kesepakatan harus nyata dan benar-benar dipatuhi oleh pihak yang terlibat.
Source: www.kompas.com






