Indomie masih menjadi merek FMCG yang paling sering dipilih rumah tangga Indonesia. Posisi puncak ini bertahan ketika persaingan merebut isi keranjang belanja makin padat.
Di bawah Indomie, merek-merek lama seperti So Klin, Mie Sedaap, Roma, hingga Frisian Flag tetap mengisi 10 besar. Daftar tersebut menunjukkan kekuatan merek yang sudah akrab dalam kebutuhan harian konsumen.
Data itu tercantum dalam Brand Footprint 2026 yang dirilis Worldpanel by Numerator. Pemeringkatan memakai Consumer Reach Points atau CRPs, yang menghitung kombinasi jumlah rumah tangga pembeli dan frekuensi pembelian.
10 Brand yang Paling Sering Dipilih
Indomie memimpin daftar, sementara sembilan merek lain membentuk persaingan ketat di kelompok teratas. Berikut urutan merek FMCG yang paling sering masuk pilihan konsumen Indonesia menurut Worldpanel by Numerator.
| Peringkat | Brand | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | Indomie | Paling sering dipilih konsumen Indonesia |
| 2 | So Klin | Masuk 10 besar |
| 3 | Mie Sedaap | Masuk 10 besar |
| 4 | Roma | Masuk 10 besar |
| 5 | Indofood | Masuk 10 besar |
| 6 | Royco | Masuk 10 besar |
| 7 | Kapal Api | Masuk 10 besar |
| 8 | NABATI | Masuk 10 besar |
| 9 | Masako | Masuk 10 besar |
| 10 | Frisian Flag | Masuk 10 besar |
Komposisi 10 besar tersebut tidak berubah banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, perebutan perhatian konsumen di luar kelompok utama menjadi lebih rapat karena jumlah merek yang dipantau naik dari 436 menjadi 451.
Rumah tangga Indonesia masih memiliki kebiasaan belanja FMCG yang luas dalam setahun. Worldpanel mencatat setiap rumah tangga membeli sekitar 95 merek dan melakukan rata-rata 293 perjalanan belanja.
Stabilnya aktivitas belanja tidak otomatis membuat semua merek tumbuh. Managing Director Worldpanel Indonesia Venu Madhav menyebut hanya 44 persen merek yang tumbuh pada 2025, turun dari 62 persen pada tahun sebelumnya.
“Jumlah brand yang kami pantau meningkat dari 436 menjadi 451. Artinya, persaingan memperebutkan pilihan konsumen semakin ketat,” kata Venu Madhav.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pertumbuhan semakin sulit diraih. Merek tidak hanya bersaing mendapatkan pembeli baru, tetapi juga harus menjaga alasan konsumen untuk kembali memilih produknya.
Brand Kecil Mulai Merebut Perhatian
Persaingan yang ketat juga membuka ruang bagi pemain berskala kecil. Kelompok ini mencakup 41 persen dari seluruh merek yang dipantau, meningkat dari 39 persen pada tahun sebelumnya.
Lebih dari separuh merek kecil tersebut berhasil mencatat pertumbuhan. Worldpanel melihat konsumen semakin terbuka untuk mencoba produk baru yang menawarkan inovasi, harga terjangkau, dan solusi kebutuhan sehari-hari.
Sekitar 80 persen merek yang tumbuh berhasil menjangkau lebih banyak rumah tangga. Sementara merek lainnya meningkatkan frekuensi pembelian dari konsumen yang sudah ada.
Desaku menjadi salah satu contoh merek yang mempertahankan pertumbuhan selama tiga tahun berturut-turut. Ragam bumbu dan rempah, kemasan sachet yang terjangkau, serta distribusi kuat di pasar tradisional membantu merek ini menarik lebih dari enam juta pembeli baru.
Baby Happy juga memperkuat posisinya lewat inovasi kemasan sachet dan promosi buy more save more. Perluasan distribusi ke toko tradisional, e-commerce, serta toko perlengkapan bayi membantu merek ini meraih sekitar 1,7 juta pembeli baru dalam setahun terakhir.
Marketing Lead Worldpanel Indonesia Corina Fajriyani menilai pertumbuhan berkelanjutan bergantung pada relevansi merek dalam keseharian konsumen. “Brand yang berkinerja terbaik adalah mereka yang terus menarik pembeli baru sekaligus memberikan lebih banyak alasan bagi konsumen untuk memilih produknya,” ujar Corina.
