3 Kebiasaan Orang Tua Transaksional yang Membuat Anak Menjauh Perlahan

Author: Cung Media

Jarak antara anak dan orang tua tidak selalu bermula dari kurangnya perhatian. Dalam beberapa keluarga, jarak itu tumbuh ketika kasih sayang, bantuan, dan suasana tenang terasa seperti sesuatu yang harus dibayar oleh anak.

Pola ini sering disebut sebagai orang tua transaksional, yaitu ketika relasi keluarga diperlakukan seperti pertukaran untung-rugi. Anak pun dapat merasa penerimaan dari orang tua tidak hadir secara aman, melainkan bergantung pada balasan yang mereka berikan.

Beautynesia yang mengacu pada YourTango menyoroti tiga kebiasaan yang dapat membuat anak memilih menjaga jarak secara emosional. Kebiasaan tersebut tampak sederhana dalam keseharian, tetapi dapat membentuk rasa tidak aman hingga anak tumbuh dewasa.

Kebiasaan Bentuk yang Muncul Dampak bagi Anak
Kebaikan sebagai barter Bantuan atau sikap baik diberikan dengan syarat Merasa harus menukar kenyamanan dengan kewajiban
Merasa berhak atas milik anak Pencapaian dan barang anak dianggap tetap milik orang tua Kepercayaan dan rasa memiliki diri dapat terganggu
Sikap pasif-agresif Sindiran muncul saat harapan orang tua tidak terpenuhi Hidup dalam kewaspadaan dan rentan cemas

1. Membuat Kebaikan Terasa Seperti Barter

Salah satu tanda dalam pola asuh transaksional adalah bantuan yang selalu disertai tuntutan. Anak mungkin diminta melakukan sesuatu agar orang tua tidak marah atau agar suasana rumah kembali tenang.

Situasi ini membuat kebaikan terasa seperti alat tawar-menawar, bukan bentuk kepedulian yang tulus. Anak belajar bahwa rasa aman di rumah hanya bisa didapat setelah memenuhi keinginan tertentu.

Dalam jangka panjang, anak dapat merasa harus terus membayar kenyamanan dengan kepatuhan atau kewajiban. Alih-alih merasa dilindungi, mereka lebih mudah menahan diri dan menjaga jarak agar tidak memicu tuntutan baru.

2. Menganggap Segala Milik Anak Tetap Milik Orang Tua

Kebiasaan berikutnya muncul ketika orang tua merasa berhak atas apa pun yang dimiliki atau dicapai anak. Bentuknya dapat berupa pengingat bahwa suatu barang dibeli oleh orang tua atau pernyataan bahwa anak tidak akan berhasil tanpa bantuan mereka.

Ucapan seperti itu dapat membuat anak merasa pencapaian pribadinya diambil kembali. Anak juga berisiko memandang dukungan keluarga bukan sebagai penguatan, melainkan sebagai utang yang harus dibalas.

Psikoterapis Sean Grover menilai pola tanpa batas semacam ini dapat memicu krisis kepercayaan yang terbawa hingga dewasa. Beautynesia juga menyebut penelitian dalam International Journal of Aging and Human Development yang mengaitkan trauma akibat pengkhianatan orang tua dengan kesulitan mengatur emosi, ledakan emosi, dan komunikasi yang buruk.

3. Menjadi Pasif-Agresif Saat Tidak Mendapat Balasan

Orang tua dapat menunjukkan sikap pasif-agresif ketika merasa pengorbanannya tidak menerima balasan yang setimpal. Sikap itu bisa muncul melalui sindiran berulang atau perilaku yang menempatkan orang tua sebagai pihak yang paling terluka.

Anak kemudian terdorong membaca ekspresi, nada bicara, dan suasana hati orang tua setiap saat. Mereka berusaha menebak keinginan orang tua agar dapat menghindari konflik atau sindiran berikutnya.

Kondisi tersebut dapat membuat anak hidup dalam mode waspada. Kewaspadaan yang terus-menerus ini disebut dapat memicu kecemasan yang menetap saat anak telah dewasa.

Dalam hubungan orang tua dan anak, perhatian dan dukungan memang penting, tetapi keduanya tidak seharusnya berubah menjadi tagihan emosional. Saat anak terus ditempatkan sebagai pihak yang harus membayar kasih sayang, menjauh dapat menjadi cara mereka melindungi diri.

Mengenali tiga pola ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun relasi keluarga yang lebih sehat. Anak membutuhkan ruang untuk tumbuh tanpa merasa bahwa penerimaan, ketenangan, dan cinta selalu memiliki harga yang harus dibayar.

Terbaru