Awal tahun Hijriah ternyata dimulai saat bulan justru hampir tidak terlihat di langit. Fase gelap itu menjadi titik awal lahirnya hilal muda, penanda resmi bulan baru setelah konjungsi atau ijtimak.
Di balik momen 1 Muharam, ada cara kerja alam semesta yang sangat teratur. Kalender Islam bergerak mengikuti siklus bulan, bukan matahari, sehingga awal bulannya ditentukan oleh perubahan fase yang berlangsung dari malam ke malam.
Bulan baru bukan sabit tipis
Dalam astronomi, bulan baru adalah fase ketika bulan berada di antara Bumi dan matahari. Pada posisi itu, sisi bulan yang menghadap Bumi tidak menerima cahaya matahari sehingga tampak gelap.
Kondisi tersebut membuat bulan seolah menghilang dari pandangan. Beberapa jam kemudian, bulan bergeser dari posisi sejajar dengan matahari dan sebagian kecil permukaannya mulai memantulkan cahaya ke Bumi.
Hilal muda jadi penanda awal bulan
Cahaya tipis yang muncul setelah fase gelap itu disebut hilal muda. Fenomena inilah yang menandai berakhirnya satu siklus bulan sinodik dan dimulainya siklus berikutnya.
Kalender Hijriah memakai dasar siklus sinodik bulan, yaitu waktu yang dibutuhkan bulan untuk kembali ke fase yang sama dari satu konjungsi ke konjungsi berikutnya. Rata-ratanya sekitar 29,53 hari, sehingga satu bulan Hijriah berlangsung 29 atau 30 hari.
Mengapa tanggal Hijriah terus bergeser
Karena terdiri dari 12 bulan lunar, satu tahun Hijriah panjangnya sekitar 354 hari. Jumlah itu lebih pendek sekitar 10 hingga 11 hari dibandingkan tahun matahari dalam kalender Masehi.
Selisih itu membuat tanggal-tanggal Hijriah bergeser lebih awal dalam kalender Masehi dari tahun ke tahun. Akibatnya, Muharam, Ramadan, dan Idulfitri tidak selalu jatuh pada musim yang sama.
Hilal sulit diamati meski jadi penentu resmi
Hilal muda termasuk salah satu objek astronomi yang paling sulit diamati dengan mata manusia. Saat baru terbentuk setelah konjungsi, bagian yang memantulkan cahaya matahari masih sangat tipis dan kecerlangannya jauh lebih rendah dibandingkan bulan sabit beberapa hari kemudian.
Pengamatan juga makin sulit karena hilal selalu muncul dekat posisi matahari. Cahaya senja, kondisi atmosfer, kelembapan udara, polusi cahaya, dan awan dapat menentukan apakah hilal berhasil terlihat atau tidak.
Karena itu, pengamatan hilal sering melibatkan teleskop canggih, kamera digital sensitif, dan perangkat lunak simulasi langit. Proses ini mempertemukan ilmu optik, astronomi posisi, fisika atmosfer, dan matematika orbital.
Muharam ikut berpindah musim
Kalender Hijriah tidak terikat pada musim tertentu. Sistem ini murni mengikuti fase bulan tanpa penyesuaian terhadap revolusi Bumi mengelilingi matahari.
Dalam sekitar 33 tahun, seluruh bulan Hijriah akan menyelesaikan satu putaran penuh terhadap musim. Itulah sebabnya Muharam, Ramadan, dan bulan-bulan lain dalam kalender ini bisa hadir pada kondisi iklim yang berbeda-beda jika diamati dalam rentang panjang.
Tiga benda langit di balik awal tahun Islam
Awal Muharam lahir dari interaksi presisi antara matahari, Bumi, dan bulan. Ketiganya bergerak dalam lintasan masing-masing akibat gravitasi, dan posisi relatifnya terus berubah setiap saat.
Saat konjungsi terjadi, bulan berada hampir segaris dengan matahari jika dilihat dari Bumi. Setelah itu, bulan bergerak dalam orbitnya dengan kecepatan rata-rata lebih dari 3.600 kilometer per jam.
Dalam hitungan jam, perubahan posisi itu cukup untuk membuat sebagian kecil permukaan bulan memantulkan cahaya matahari ke Bumi. Dari situlah hilal muncul sebagai penanda bulan baru.
Hisab dan matematika penanggalan
Di balik kesederhanaan kalender Hijriah, ada struktur matematika yang rapi. Karena satu bulan sinodik tidak tepat 29 atau 30 hari, sistem kalender menyesuaikannya dengan kombinasi bulan berumur 29 dan 30 hari.
Perhitungan seperti ini sudah dipelajari sejak ribuan tahun lalu. Di dunia Islam, ilmu hisab berkembang pesat untuk menentukan awal bulan, waktu salat, dan arah kiblat.
Para ilmuwan muslim juga menyusun tabel astronomi rinci untuk memprediksi posisi bulan dan matahari jauh sebelum ada komputer modern. Dari sana, 1 Muharam menjadi bukti bagaimana manusia membaca keteraturan alam semesta lewat pengamatan yang teliti.
