Warna dalam kebudayaan Bali tidak berdiri sebagai ornamen semata. Di balik pemilihan warna pada busana, ritual, arsitektur, hingga karya seni, tersimpan sistem makna yang berkaitan dengan sejarah, kosmologi, dan cara masyarakat Bali memahami keteraturan hidup.
Pembacaan itu kembali mengemuka lewat peluncuran buku Warna Bali: Ketika Sistem & Pertemuan Menjadi Identitas di Bentara Budaya Jakarta. Buku tersebut menegaskan bahwa warna bekerja sebagai bahasa budaya yang hidup, berubah, dan terus menyesuaikan diri dengan pengalaman sosial masyarakat Bali.
Warna sebagai bahasa budaya
Akademisi Gurat Institute, I Wayan Seriyoga Parta, menjelaskan bahwa warna Bali terbentuk melalui perjalanan panjang lintas generasi. Ia menilai pengaruh perdagangan dan pertemuan budaya ikut memperkaya spektrum warna yang kemudian diolah menjadi identitas lokal.
Pernyataan ini penting karena menunjukkan Bali tidak tumbuh dalam ruang tertutup. Warna justru lahir dari proses pertemuan, lalu diberi makna baru oleh masyarakat setempat sesuai adat, kebutuhan ritual, dan ekspresi seni.
Dimensi kosmologis yang melekat
Budayawan Putu Fajar Arcana menekankan bahwa warna Bali punya akar kosmologis yang kuat. Ia menyebut warna putih, merah, dan hitam sebagai representasi Trimurti, yakni Siwa, Brahma, dan Wisnu, yang dipahami sebagai penjaga keseimbangan semesta dalam pandangan masyarakat Bali.
Makna itu tidak berhenti di simbol. Warna hadir dalam ritus keagamaan, tata ruang, busana adat, dan seni rupa, sehingga fungsinya melampaui dekorasi visual dan masuk ke ranah spiritual.
Jejak sejarah dalam seni rupa
Dari sudut pandang seni rupa, Mikke Susanto dari ISI Yogyakarta menilai buku ini membantu membaca posisi Bali dalam sejarah seni rupa Indonesia dan dunia. Ia melihat ada kekhasan pada cara masyarakat Bali memaknai dan mengolah warna sepanjang waktu.
Berikut poin penting yang tergambar dari pembacaan tersebut:
- Warna di Bali dipahami sebagai sistem simbolik, bukan sekadar unsur estetika.
- Putih, merah, dan hitam merepresentasikan Trimurti dalam tradisi spiritual Bali.
- Pengaruh perdagangan dan interaksi budaya ikut membentuk identitas warna lokal.
- Warna hadir dalam ritual, arsitektur, busana, dan karya seni.
- Tradisi warna Bali terus mengalami pembaruan tanpa memutus akar maknanya.
Bahan alami dan pengetahuan lokal
Buku itu juga menelusuri asal-usul material warna dalam praktik tradisional Bali. Sumber warna banyak berasal dari mineral dan bahan organik yang diolah melalui pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Fakta ini memperlihatkan bahwa warna di Bali bukan hasil pilihan teknis semata. Di baliknya ada pengetahuan tentang alam, teknik pengolahan, dan praktik kolektif yang dibangun lama oleh komunitas.
Tantangan keberlanjutan di masa kini
Di tengah perubahan lingkungan, praktik pewarnaan tradisional menghadapi tekanan. Kerusakan alam dan eksploitasi sumber daya membuat ketersediaan bahan alami ikut terancam, sehingga tradisi yang bergantung pada alam menjadi lebih rentan.
Generasi muda Bali mulai merespons tantangan ini dengan cara berbeda. Mereka menggabungkan eksperimen warna dengan riset tradisi, lalu mempelajari struktur makna sebelum melakukan inovasi agar pembaruan tetap terhubung dengan identitas asalnya.
Pembacaan terhadap warna Bali memperlihatkan bahwa identitas budaya tidak dibangun dari satu unsur saja. Ia tersusun dari hubungan antara alam, sejarah, spiritualitas, dan kreativitas yang terus bergerak mengikuti zaman.
Source: lifestyle.bisnis.com






