Trump Mengaku Jadi Target Pembunuhan Nomor Satu Iran, Ini Latar Belakangnya

Donald Trump kembali menarik perhatian setelah menyebut dirinya kemungkinan menjadi target pembunuhan nomor satu Iran. Pernyataan itu ia sampaikan di Ankara, di tengah pembahasan soal risiko yang menurutnya melekat pada jabatan presiden Amerika Serikat.

Trump menegaskan bahwa ancaman semacam itu tidak membuatnya gentar. Ia justru menggambarkan posisi presiden sebagai jabatan yang sangat berbahaya, sambil mengaitkannya dengan situasi politik dan keamanan yang sedang ia soroti.

Trump Soroti Tingginya Risiko Presiden

Dalam konferensi pers itu, Trump mengatakan bahwa sejumlah pemimpin Iran sudah tiada dan menyiratkan bahwa dirinya kini berada dalam posisi yang paling rentan. Ia juga menyebut kemungkinan dirinya ikut menjadi korban jika ancaman itu benar-benar mengarah kepadanya.

“Mereka memiliki para pemimpin, namun mereka telah tiada. Mereka memiliki barisan pemimpin lain. Mereka pun bisa saja tiada. Siapa yang tahu? Saya juga bisa saja tiada, karena saya adalah target (pembunuhan) nomor satu mereka,” ujar Trump, dilansir dari Antara melalui Beritasatu.

Pernyataan TrumpDetailCatatan
Target pembunuhan nomor satu IranTrump menyebut dirinya kemungkinan menjadi sasaran utamaDisampaikan di Ankara
Risiko presiden5,2%Trump membandingkannya dengan pembalap mobil dan penunggang banteng

Ia juga menyebut bahwa kehidupan seorang presiden sangat berbahaya dengan risiko 5,2%. Trump membandingkan angka itu dengan pembalap mobil atau penunggang banteng yang menurutnya hanya menghadapi risiko sepersepuluh dari 1%.

Riwayat Ancaman yang Pernah Menghampiri Trump

Ucapan Trump di Ankara tidak lepas dari riwayat insiden yang pernah dikaitkan dengan keselamatannya. Salah satu yang paling menonjol terjadi saat kampanye di Pennsylvania pada Juli 2024, ketika ia mengalami luka di bagian telinga akibat tembakan.

Insiden lain terjadi di klub golf miliknya di Florida pada September 2024. Setelah itu, penembakan juga terjadi saat makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih yang dihadiri Trump pada April 2026.

Tersangka dalam insiden April 2026 itu kemudian didakwa dengan sejumlah pasal, termasuk percobaan pembunuhan terhadap Presiden AS. Kasus tersebut menambah daftar ancaman yang pernah dikaitkan dengan keselamatan Trump.

Pada Juni 2026, FBI juga mengungkap dugaan rencana penyerangan terhadap acara UFC di Gedung Putih. Departemen Kehakiman AS kemudian menyebutnya sebagai upaya pembunuhan terbaru terhadap Trump.

Rangkaian peristiwa itu membuat isu keamanan pribadi Trump kembali menjadi sorotan. Namun, dari pernyataannya di Ankara, ia tetap menunjukkan sikap tidak mundur dari peran yang sedang dijalaninya sebagai presiden.

Source: www.beritasatu.com
Terkait