Trump Disebut Siap Ambil Paksa Selat Hormuz, Diplomasi Iran Makin Tertekan

Ketegangan soal Selat Hormuz kembali naik setelah Senator Partai Republik Lindsey Graham menyebut Presiden Donald Trump siap mengambil langkah militer jika diplomasi dengan Iran gagal memberi jaminan keamanan di jalur itu. Pernyataan ini membuat masa depan perundingan tampak makin rapuh, meski opsi damai belum sepenuhnya ditutup.

Graham menyampaikan pandangannya dalam program Face the Nation di CBS. Ia menilai diplomasi tetap patut dicoba, tetapi peluang keberhasilannya sangat kecil.

Diplomasi Masih Dibuka, Tetapi Dinilai Hampir Pasti Gagal

Graham menegaskan bahwa ia tidak ingin langsung menyingkirkan jalur perundingan. Namun, ia juga mengatakan bahwa skema damai yang sedang dibangun kemungkinan besar tidak akan bertahan lama.

“Saya lebih memilih mencoba diplomasi daripada menghapusnya dari opsi. Tapi saya pikir ini akan gagal,” kata Graham, dikutip dari NY Post.

Ia merujuk pada nota kesepahaman 14 poin yang membuka jalan bagi pembicaraan damai selama 60 hari. Menurut Graham, kesepakatan awal itu baru menjadi langkah pembuka dan belum menjamin hasil akhir.

Trump Disebut Tidak Akan Ragu Memakai Kekuatan

Dalam pernyataannya, Graham mengatakan dirinya telah berbicara cukup lama dengan Trump mengenai situasi ini. Dari pembicaraan itu, ia menyimpulkan bahwa Trump tidak akan ragu mengambil tindakan keras jika negosiasi kandas.

“Jika kesepakatan ini gagal, Trump akan mengambil alih Selat Hormuz dengan paksa,” ujar Graham.

Ia juga menambahkan bahwa Amerika Serikat akan merespons keras jika Iran menentang langkah tersebut. Graham bahkan melontarkan peringatan paling keras dengan menyebut AS siap menghancurkan Iran bila terjadi konfrontasi di jalur itu.

Mengapa Selat Hormuz Selalu Jadi Titik Sensitif

Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena jalur ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Posisi itu membuatnya menjadi salah satu titik paling sensitif dalam keamanan energi global.

Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa merambat ke stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi internasional. Karena itu, setiap ancaman terhadap Selat Hormuz hampir selalu memicu reaksi keras dari Washington.

Iran, Israel, dan Tekanan di Kawasan

Graham juga menyinggung peringatan Trump kepada Teheran agar tidak mengganggu stabilitas kawasan, termasuk lewat kelompok proksi seperti Hizbullah. Menurut Graham, Trump menegaskan akan memukul Iran sangat keras bila ancaman terhadap Israel terus berlanjut.

Di sisi lain, Graham melihat Trump masih punya peluang mendorong normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel. Ia memperkirakan target itu bisa tercapai pada 2026, meski upaya tersebut dinilai sulit berjalan tanpa tekanan lebih dulu terhadap pengaruh Iran di kawasan.

Pernyataan Graham menunjukkan bahwa Selat Hormuz kembali berada di pusat ketegangan geopolitik. Arah perundingan dengan Iran akan sangat menentukan apakah situasi mereda atau justru bergerak menuju eskalasi yang lebih luas.

Source: www.suara.com

Terkait