Varian Covid-19 baru bernama Cicada kembali menjadi perhatian karena membawa banyak mutasi pada protein spike. Varian yang juga disebut BA.3.2 ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024, lalu kembali meningkat pada 2025 hingga awal 2026.
Meski jumlah mutasinya besar, para ahli menilai belum ada bukti kuat bahwa Cicada lebih ganas dibanding varian Covid-19 sebelumnya. Guru Besar Mikrobiologi FK-KMK UGM, Tri Wibawa, menyebut varian ini belum terdeteksi di Indonesia dan hingga Februari 2026 sudah dilaporkan di setidaknya 23 negara.
Mengapa varian Cicada menjadi sorotan
CDC mencatat BA.3.2 memiliki sekitar 70–75 mutasi pada protein spike dibandingkan varian sebelumnya. Perubahan sebanyak itu membuat para peneliti menaruh perhatian lebih karena virus berpotensi lebih mampu menghindari respons kekebalan tubuh, baik dari infeksi lama maupun vaksinasi.
Namun, peningkatan mutasi tidak otomatis berarti varian ini lebih berbahaya. Tingkat penyebaran Cicada sejauh ini masih tergolong rendah dan belum mendominasi varian lain yang beredar di berbagai negara.
Ahli biologi evolusi T. Ryan Gregory menilai kemunculan varian ini menarik karena sempat tidak banyak terpantau sebelum kembali meningkat. Marc Johnson, profesor mikrobiologi, juga menyebut BA.3.2 sebagai varian yang tidak biasa karena sebagian besar varian biasanya cepat menghilang dalam hitungan bulan.
WHO menegaskan belum ada bukti bahwa varian ini menyebabkan penyakit yang lebih parah. Artinya, risiko keparahan masih dianggap serupa dengan varian Covid-19 lain, meski pemantauan tetap diperlukan.
Gejala yang patut diwaspadai
Tri Wibawa menjelaskan bahwa gejala infeksi Cicada pada dasarnya tidak berbeda dari Covid-19 secara umum. Gejalanya juga bisa bervariasi, tergantung kondisi tubuh dan tingkat imunitas masing-masing orang.
Belum ada gejala khusus yang dapat langsung membedakan Cicada dari infeksi Covid-19 lainnya. Masyarakat tetap perlu waspada bila mengalami demam, batuk, sakit tenggorokan, pilek, hidung tersumbat, dan kelelahan.
Pada sebagian kasus, gejala bisa berkembang menjadi lebih berat, terutama pada kelompok rentan. Karena itu, pemantauan sejak awal penting agar kondisi tidak terlambat ditangani.
Langkah pencegahan yang tetap relevan
Pencegahan terhadap Cicada disebut tidak berbeda dengan pencegahan Covid-19 pada umumnya. Langkah dasar tetap menjadi cara paling efektif untuk menekan risiko penularan saat varian baru muncul.
Berikut langkah yang disarankan:
- Melengkapi vaksinasi Covid-19 sesuai anjuran.
- Menjaga pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap baik.
- Menjaga kebersihan diri dan sanitasi, termasuk rutin mencuci tangan.
- Menghindari kerumunan saat sedang tidak sehat.
- Segera memeriksakan diri ke tenaga medis bila mengalami gejala.
Tri Wibawa menegaskan masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada. Disiplin menjalankan langkah pencegahan dasar dinilai menjadi kunci untuk mengurangi risiko penularan varian ini, terutama karena gejalanya tetap bisa menyerupai Covid-19 biasa dan sulit dibedakan tanpa pemeriksaan yang memadai.
Dalam situasi seperti ini, kewaspadaan tertuju pada perubahan pola gejala dan riwayat paparan, bukan pada nama varian semata. Jika tanda-tanda infeksi muncul, pemeriksaan medis tetap menjadi langkah yang paling aman untuk memastikan kondisi tubuh dan mencegah penularan lebih lanjut.
Source: lifestyle.bisnis.com






