
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengerek tensi dagang dengan Uni Eropa lewat ancaman tarif yang lebih tinggi jika blok itu tidak segera menghapus bea masuk terhadap produk AS. Tekanan itu muncul saat negosiasi masih berjalan dan menjelang peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli.
Trump memberi tenggat hingga hari tersebut untuk tercapainya kesepakatan. Ia menegaskan bahwa bila tidak ada kemajuan, tarif untuk produk Eropa akan dinaikkan ke level yang jauh lebih tinggi.
Tekanan yang Meningkat dari Washington
Ancaman terbaru itu disampaikan setelah Trump berbicara melalui telepon dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Dalam keterangan resminya, Trump menyebut sudah memberikan tenggat waktu dan memperingatkan konsekuensi jika pembicaraan tidak menghasilkan hasil konkret.
Von der Leyen mengatakan Uni Eropa sedang membuat kemajuan yang baik menuju pengurangan tarif sebelum tenggat yang ditetapkan. Melalui unggahan di platform X, ia juga menegaskan komitmen kedua pihak untuk menjalankan kesepakatan yang sebenarnya telah dicapai sejak Juli tahun lalu.
Negosiasi Masih Punya Banyak Ganjalan
Meski ada sinyal kemajuan, proses implementasi kesepakatan masih tersendat. Pembicaraan antara pembuat kebijakan Uni Eropa dan pemerintah negara anggota berakhir tanpa kesepakatan pada Rabu lalu.
Dalam draf perjanjian yang dibahas, ekspor Uni Eropa ke AS akan dikenakan tarif 15%, lebih rendah dari ancaman awal Trump yang mencapai 30%. Namun, Parlemen Eropa pada Maret lalu hanya memberi persetujuan bersyarat.
Para legislator menegaskan bahwa mereka baru bisa menerima tarif nol persen untuk barang-barang AS jika produk baja dan aluminium Eropa dikecualikan dari tarif global 50% yang sebelumnya ditetapkan Trump. Perbedaan sikap itu membuat perundingan tetap rumit karena masing-masing pihak mempertahankan kepentingan dagang yang berbeda.
Saling Tekan di Tengah Pembicaraan
Ketegangan ini menambah daftar friksi antara AS dan Uni Eropa setelah Trump sebelumnya menuduh blok tersebut tidak mematuhi kesepakatan. Ia juga mengancam akan menaikkan tarif kendaraan hingga 25% pada pekan lalu.
Negosiator utama Parlemen Eropa, Bernd Lange, mengatakan kemajuan memang ada, tetapi jalan menuju kesepakatan akhir masih panjang. Ia menegaskan parlemen tetap berkomitmen memperjuangkan mandat yang memberi jaminan tambahan bagi warga dan perusahaan di Uni Eropa maupun AS.
Putaran perundingan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 19 Mei di Strasbourg, Prancis. Pada tahap itu, kedua pihak masih harus mencari titik temu agar ancaman tarif baru tidak berubah menjadi langkah nyata yang memperburuk hubungan dagang transatlantik.
Tekanan Washington Juga Diuji di Dalam Negeri
Di saat Trump meningkatkan tekanan ke luar negeri, kebijakan tarifnya juga menghadapi tantangan di dalam negeri. Beberapa jam setelah ancaman terhadap Uni Eropa muncul, pengadilan dagang AS memutuskan bahwa tarif global 10% yang baru-baru ini ditetapkan Trump tidak memiliki dasar hukum yang kuat.
Pengadilan Perdagangan Internasional AS menilai penggunaan Pasal 122 dari Undang-Undang Perdagangan 1974 tidak tepat untuk situasi saat ini. Walau keputusan itu baru berlaku untuk dua perusahaan importir tertentu, putusan tersebut membuka peluang bagi gugatan hukum yang lebih luas terhadap kebijakan tarif Trump.
Situasi ini membuat posisi negosiasi Washington semakin kompleks karena tekanan politik dari luar negeri berjalan beriringan dengan tantangan hukum di dalam negeri. Arah hubungan dagang AS dan Uni Eropa kini bergantung pada hasil pembicaraan berikutnya dan respons kedua belah pihak terhadap tenggat yang sudah ditetapkan.
Source: mediaindonesia.com




