Posisi Tokopedia di pasar e-commerce Asia Tenggara kini terlihat paling berat di antara pemain utama. Saat total GMV kawasan masih mencapai US$157,6 miliar, Tokopedia hanya membukukan sekitar US$9 miliar.
Angka itu menempatkan Tokopedia di dasar daftar besar pemain regional, jauh di bawah Shopee, TikTok Shop, dan Lazada. Perbandingan ini menunjukkan betapa lebar jarak Tokopedia dari para pesaing utamanya di tengah pasar yang tetap besar.
Peta GMV e-commerce Asia Tenggara
Laporan Ecommerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works mencatat Shopee masih memimpin pasar dengan GMV US$83,2 miliar. TikTok Shop menyusul di posisi kedua dengan US$45,6 miliar, lalu Lazada dengan sekitar US$18 miliar.
| Pemain | GMV | Posisi |
|---|---|---|
| Shopee | US$83,2 miliar | 1 |
| TikTok Shop | US$45,6 miliar | 2 |
| Lazada | sekitar US$18 miliar | 3 |
| Tokopedia | sekitar US$9 miliar | di bawah tiga pemain utama |
Di sisi lain, kondisi internal Tokopedia juga sedang mengalami penyusutan besar. Unit teknologi perusahaan itu kini disebut hanya tersisa 35 orang setelah gelombang pemutusan hubungan kerja terbaru.
Sumber internal yang dikutip CNBC Indonesia menyebut jumlah pekerja teknologi Tokopedia sebelumnya pernah mencapai sekitar 1.100 orang sebelum diambil alih ByteDance. Dalam batch terakhir, sekitar 500 pekerja teknologi terkena PHK, lalu jumlahnya terus menurun hingga tinggal puluhan orang.
Operasional teknologi bergeser ke luar Indonesia
Perubahan paling mencolok ada pada pengelolaan sistem teknologi. Seluruh operasional sistem teknologi di balik platform disebut sudah dialihkan untuk dikelola tim ByteDance yang berada di China.
Pergeseran ini memunculkan kembali pertanyaan soal arah integrasi setelah akuisisi dan janji awal yang dulu disampaikan. Seorang narasumber yang dikutip CNBC Indonesia menilai kondisi saat ini sangat berbeda dari rencana untuk co-exist dan membantu talenta Indonesia.
“Dulu bilangnya mau co-exist. Ingin membantu talenta Indonesia. [Karyawatannya] sekarang, semua yang pegang tech-nya Tokopedia sudah bukan di Indonesia lagi, sekarang semua di China,” ujar narasumber itu.
Merger, regulasi, dan kepemilikan baru
Perubahan struktur Tokopedia tidak bisa dipisahkan dari transaksi besar pada Januari 2024. Saat itu, GoTo menjual 75 persen saham Tokopedia kepada ByteDance setelah ada regulasi pemerintah Indonesia yang melarang media sosial menjalankan aktivitas transaksi perdagangan.
Meski melepas saham mayoritas, GoTo masih memegang 24,99 persen kepemilikan non-dilutif. Perusahaan juga disebut memperoleh imbalan jasa e-commerce kuartalan yang nilainya mencapai Rp820 miliar pada 2025.
Dari sisi manajemen, TikTok membenarkan adanya penataan ulang struktur organisasi internal. Juru bicara TikTok mengatakan langkah itu dilakukan untuk mendukung keberlanjutan bisnis jangka panjang.
“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” ujar juru bicara TikTok dalam keterangan resmi pada Kamis (2/7/2026).
Di tengah pasar yang masih besar, kombinasi tekanan efisiensi, penyusutan tim teknologi, dan pengalihan operasional membuat posisi Tokopedia tampak makin rapuh. Sementara rival utama masih memegang porsi GMV yang jauh lebih besar, Tokopedia justru harus berhadapan dengan tantangan skala dan restrukturisasi pada saat yang sama.
