Tim Sweeney Dorong Game Lebih Terbuka, Valve Masih Punya Pintu Masuk?

Author: Cung Media

Tim Sweeney kembali menegaskan arah besar Epic: masa depan game ada pada keterhubungan, bukan ekosistem yang tertutup rapat. Di tengah industri yang sedang tertekan, ia melihat momentum justru bergerak ke interoperabilitas lintas platform, sosial, dan ekonomi digital.

Gagasan itu muncul saat Epic memaparkan Unreal Engine 6 di Unreal Fest Chicago. Fokusnya bukan semata visual baru, melainkan engine yang dirancang untuk membuat konten, kode, dan ekonomi lebih portabel antar game dan ekosistem, dengan dukungan integrasi AI.

Masalah Utama Bukan Sekadar Game, Tapi Teman

Sweeney menilai hambatan terbesar dalam game modern bukan hanya soal membeli game baru, tetapi soal sosial yang terpecah. Daftar teman, akun, dan identitas pemain masih tersebar di Xbox, PlayStation, Switch, Steam, dan ekosistem penerbit masing-masing.

Akibatnya, pemain yang pindah ke game lain sering harus memulai pencarian teman dari awal. Jika gamenya berbayar, mereka juga perlu membeli lagi, sementara jika gratis pun tetap ada langkah tambahan untuk menemukan dan menghubungi teman di sistem yang berbeda.

Ia membandingkan kondisi itu dengan era ketika standar email lintas perusahaan belum umum. Menurut Sweeney, gaming juga membutuhkan format identitas yang jelas dan lintas sistem, semacam Tim@Epic yang berbeda dari Tim@Xbox, Tim@Sony, atau Tim@Steam.

Baginya, solusi itu tidak mustahil secara teknis. Ia menyebut dasar untuk voice chat dan text chat sudah mirip di banyak layanan, sehingga tantangan utamanya adalah membangun kesepakatan yang aman dan mudah dimoderasi.

Valve dan Steam Tidak Ditutup, Tapi Ditantang

Saat ditanya soal kemungkinan kerja sama dengan pemain besar lain, Sweeney mengatakan minat terhadap visi “Team Open” kini jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Ia tidak menyebut nama pihak yang sedang diajak bicara, tetapi menilai tekanan industri membuat banyak perusahaan mulai melihat nilai dari keterhubungan.

Soal Valve, ia membuka peluang lebar. Sweeney mengatakan Epic ingin berinteroperasi dengan semua perusahaan yang bersedia, dan Valve bisa ikut jika mau melihat peluang yang lebih besar.

Ia menilai Steam memang punya bisnis yang kuat dan disukai pemain, tetapi platform itu tetap punya keterbatasan dalam menjangkau seluruh pasar PC. Menurutnya, Steam tidak memiliki banyak game besar seperti Fortnite, judul-judul Riot, dan Genshin Impact, sehingga ada peluang yang belum tergarap.

Sweeney juga mengkritik kebiasaan tiap perusahaan yang menjadi “mini gatekeeper” sendiri. Menurutnya, pendekatan seperti itu melelahkan pemain, dan kerja sama lintas platform akan lebih masuk akal bagi industri yang semakin besar dan kompleks.

Di sisi lain, ia mengakui platform miliknya sendiri belum ideal. Epic Games Store masih lambat, dan Epic sedang mengerjakan pembaruan besar agar kliennya terasa lebih cepat dan efisien.

AI Diposisikan Sebagai Alat Kerja, Bukan Pengganti

Topik lain yang dibahas adalah resistensi publik terhadap AI dalam pengembangan game. Sweeney melihat penolakan itu bukan semata persoalan citra, melainkan soal adopsi alat yang bisa membuat tim lebih produktif.

Ia tidak percaya AI akan segera menghadirkan solusi prompt-to-game yang matang. Menurutnya, manfaat paling nyata saat ini justru ada pada coding assistant yang membantu programmer menemukan bug lebih cepat dan menghemat waktu perbaikan.

Di sisi seni, Sweeney menilai AI berguna untuk memangkas pekerjaan repetitif. Ia menggambarkan proses pembuatan aset 3D yang lama dan mahal, lalu menyoroti banyak waktu yang habis untuk pekerjaan rutin, bukan kreativitas inti.

Namun, ia menegaskan hasil seni yang bagus tetap lahir dari seniman yang kuat, bukan dari prompt semata. AI, menurutnya, lebih tepat dipandang sebagai sumber inspirasi dan percepatan, mirip referensi lain yang biasa dipakai kreator.

Sweeney juga menyinggung kritik terhadap AI yang sebagian muncul dari praktik buruk sejumlah perusahaan pada masa awal. Ia mengatakan industri kini mulai bergerak ke basis data berlisensi dan proses yang lebih jelas soal asal-usul data latihan.

Mengapa Interoperabilitas Makin Relevan

Menurut Sweeney, tantangan ekonomi game sekarang sudah berbeda. Pasar sudah sangat besar dan hampir semua orang di dunia sudah bermain game, sehingga pertumbuhan tidak lagi bisa bergantung pada mencari pemain baru.

Karena itu, ia menilai studio harus membangun game yang lebih baik dengan cara yang lebih efisien. Alat seperti AI, Unreal Engine, dan infrastruktur yang lebih terbuka bisa membantu developer kecil bersaing dengan proyek AAA yang biayanya terus membesar.

Ia juga memberi contoh interoperabilitas yang sudah berjalan di ekosistem Epic, seperti item mobil di Fortnite dan Rocket League. Bagi Sweeney, nilai terbesar justru ada pada item kosmetik, akun, dan ekonomi digital yang bisa dipakai lintas game tanpa merusak desain permainan yang tidak cocok untuk saling bercampur.

Pada akhirnya, Sweeney melihat industri sedang bergerak ke arah yang lebih realistis. Ia menilai tidak ada lagi perusahaan yang akan menjadi monopoli absolut di gaming, dan karena itu kerja sama lintas platform serta alat yang lebih produktif makin masuk akal bagi pengembang maupun pemain.

Terbaru