The Sounds Project Cari Titik Tengah, Saat Crowd Surfing dan Moshing Picu Benturan

Di tengah perdebatan soal crowd surfing dan moshing di konser, The Sounds Project memilih satu posisi yang cukup jelas: musik boleh dinikmati dengan bebas, tetapi keamanan penonton tetap harus dijaga bersama. Festival ini melihat tidak ada satu cara tunggal untuk menikmati panggung, namun semua pihak tetap perlu mencari titik tengah saat kerumunan mulai padat.

Ketegangan soal batas kebebasan penonton kembali mencuat setelah sejumlah insiden pengamanan konser ramai dibahas di media sosial. Salah satu yang paling banyak dibicarakan terjadi saat Monkey to Millionaire tampil di Jakarta Fair pada 6 Juli 2026, ketika seorang penonton yang sedang crowd surfing dihentikan aparat dengan tindakan yang memicu kritik warganet.

Sinergi di Lapangan Jadi Kunci

Festival Director The Sounds Project, Gerhana Banyubiru atau Ghana, menilai penyelenggaraan festival musik membutuhkan koordinasi yang rapi antara promotor, aparat keamanan, artis, dan tim keamanan internal. Menurut dia, peran masing-masing pihak tidak bisa berjalan sendiri karena karakter setiap band dan kebutuhan pengamanannya berbeda.

“Sebenarnya sinergi itu memang harus ada. Kalau bikin festival tentunya harus berkoordinasi dengan pihak-pihak yang berwenang. Cuma memang setiap band juga punya karakter dan regulasinya sendiri. Ada yang maunya dijaga ketat, ada juga yang lebih longgar, jadi kita berusaha mengimbangi,” ujar Ghana kepada Medcom.id di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 14 Juli 2026.

Ghana menambahkan bahwa The Sounds Project berupaya menjembatani artis, pihak berwenang, dan internal security yang menangani crowd control di area festival. Baginya, keamanan festival tidak bisa dibebankan ke satu pihak saja karena semua elemen ikut menentukan jalannya acara.

Bebas Menikmati Musik, Tapi Tetap Saling Jaga

Menurut Ghana, penonton memang datang dengan cara menikmati konser yang berbeda-beda. Ada yang ingin moshing atau crowd surf, tetapi ada pula yang memilih menikmati penampilan dengan santai tanpa ikut masuk ke kerumunan.

“Buat opini gue pribadi dan sebagai promotor, sebenarnya bebas saja cara menikmati musik, tapi ya saling jaga saja. Kadang kalau crowd surf atau himpit-himpitan kan rawan barang hilang atau ada yang cedera. Di festival juga ada penonton yang memang datang buat menikmati musik dengan santai, sementara yang lain ingin moshing atau crowd surf. Menurut gue semua sah-sah saja,” tuturnya.

Ia melihat perbedaan karakter penonton sebagai hal yang wajar di festival musik. Dalam satu acara, penonton band pop dan penonton band rock bisa punya ekspektasi yang berbeda, sehingga promotor harus menjaga agar kepentingan mereka tetap bertemu di satu titik aman.

“Kadang akhirnya komplain balik ke kita. Penonton kita banyak, ada yang datang buat nonton band pop, ada juga yang datang buat band rock. Jadi pasti ada perbedaan kepentingan. Yang satu maunya moshing, yang satu maunya santai. Tugas kita mencari titik tengah supaya semua tetap bisa menikmati festival tanpa saling merugikan,” pungkas Ghana.

Perdebatan ini sebenarnya bukan hal baru di konser musik rock, punk, dan hardcore. Namun bagi The Sounds Project, jawaban yang paling realistis bukan melarang sepenuhnya atau membiarkan semuanya tanpa batas, melainkan memastikan koordinasi, kompromi, dan crowd control berjalan beriringan.

Source: www.medcom.id
Terkait