Yen Melemah, Liburan Warga Jepang ke Luar Negeri Makin Terasa Mahal

Pelemahan yen mulai mengubah rencana liburan warga Jepang. Biaya perjalanan yang naik membuat minat ke luar negeri menyusut, sementara liburan domestik juga ikut tertekan oleh inflasi.

Dampaknya sudah terlihat pada proyeksi musim panas yang dihitung JTB Corp. Agen perjalanan itu mencatat penurunan tahunan untuk periode 15 Juli hingga 31 Agustus, dan ini menjadi penurunan tahunan pertama sejak pemulihan pascapandemi covid-19 pada 2023.

Perjalanan jauh makin berat di kantong

Tekanan terbesar datang dari kombinasi yen yang lemah dan ongkos perjalanan yang mahal. Wisatawan Jepang disebut makin menghindari destinasi jarak jauh seperti Amerika Utara dan Australia karena total biaya yang harus dibayar semakin besar.

Rata-rata biaya yang dihabiskan seorang wisatawan untuk satu kali perjalanan ke luar negeri diperkirakan naik 6,3 persen menjadi 323 ribu yen, atau sekitar dua ribu dolar AS. Di saat yang sama, biaya tambahan bahan bakar pesawat ikut naik akibat lonjakan harga avtur di tengah krisis Timur Tengah.

DestinasiProyeksi PilihanKeterangan
Korea Selatan26,2 persenMenjadi destinasi pilihan utama
Taiwan16,2 persenDisukai karena lebih dekat dan tiket lebih terjangkau
China10,1 persenDiperkirakan anjlok separuh dari tahun lalu

Destinasi dekat lebih diminati

Dengan ongkos yang makin menekan, wisatawan Jepang cenderung memilih negara yang dekat dan tiket pesawatnya lebih murah. Korea Selatan dan Taiwan pun diproyeksikan menjadi tujuan terpopuler pada musim liburan ini.

China justru diperkirakan terpukul lebih dalam. JTB menyebut jumlah kunjungan ke negara itu turun setengah dibandingkan angka tahun lalu, seiring memanasnya hubungan Pemerintah Jepang dan China setelah pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November lalu soal dukungan terhadap Taiwan.

Liburan domestik ikut melambat

Tekanan tidak berhenti di perjalanan luar negeri. JTB memperkirakan perjalanan domestik turun 4,4 persen dari tahun sebelumnya menjadi 69 juta perjalanan, karena masyarakat juga makin berhemat di tengah inflasi.

Meski jumlah perjalanannya menurun, rata-rata pengeluaran per orang di dalam negeri justru diproyeksikan naik 3,2 persen menjadi 48.500 yen. Kawasan Kanto yang mencakup Tokyo diperkirakan menjadi tujuan domestik paling populer dengan 19,0 persen, disusul Kinki sebesar 14,9 persen dan Hokkaido 11,2 persen.

Di tengah tekanan biaya hidup, perilaku wisatawan Jepang juga makin selektif. Seorang petinggi JTB mengatakan ada kelompok masyarakat yang memilih memangkas pengeluaran, misalnya dengan mempersingkat durasi liburan, sementara kelompok lain tetap ingin mewujudkan liburan impian meski harus membayar lebih mahal.

Pada akhir Juni 2026, nilai tukar yen sempat anjlok melewati level 162 dan mendekati 163 per dolar AS. Posisi itu menjadi yang terendah dalam sekitar 39,5 tahun terakhir dan ikut menjelaskan mengapa musim liburan kali ini terasa jauh lebih mahal bagi warga Jepang.

Source: www.medcom.id