Kementerian Perdagangan mendorong pelaku usaha Jawa Tengah memanfaatkan Trade Expo Indonesia atau TEI 2026 sebagai pintu yang lebih luas menuju pasar ekspor. Sosialisasi di Semarang itu menempatkan TEI bukan hanya sebagai ajang pamer produk, tetapi juga ruang pertemuan dengan pembeli dan investor dari berbagai negara.
Langkah ini mendapat perhatian karena Jawa Tengah punya modal kuat di perdagangan internasional. Provinsi tersebut masuk sepuluh besar daerah pengekspor di Indonesia, sementara pada penyelenggaraan TEI sebelumnya potensi transaksi dari Jawa Tengah mencapai USD 18,4 miliar.
Jawa Tengah Punya Basis Ekspor Yang Kuat
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, July Emmylia, menyebut daerahnya memiliki sejumlah komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar global. Pemerintah provinsi juga terus memperkuat daya saing pelaku usaha agar lebih banyak produk daerah itu masuk ke pasar internasional.
Penguatan itu dilakukan lewat pendampingan ekspor, business matching, dan fasilitasi penerbitan Surat Keterangan Asal atau SKA. Sejak 2011, Disperindag Jawa Tengah telah membina 56 mitra usaha melalui program yang didukung pendanaan APBN maupun non-APBN.
Furnitur Dan Fesyen Masih Jadi Andalan
Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Ditjen PEN Kemendag, Ari Satria, menegaskan Jawa Tengah menjadi salah satu daerah dengan kontribusi ekspor yang signifikan. Ia menyoroti dua komoditas yang menonjol dari provinsi ini, yaitu furnitur dan fesyen.
Pada TEI sebelumnya, produk furnitur mencatat potensi transaksi lebih dari USD 700 juta. Sektor fesyen juga membukukan potensi transaksi sebesar USD 56 juta, sehingga keduanya kembali ditempatkan sebagai fokus dalam penyelenggaraan TEI 2026.
| Komoditas | Potensi Transaksi di TEI Sebelumnya | Catatan |
|---|---|---|
| Furnitur | Lebih dari USD 700 juta | Masuk zona khusus pada TEI 2026 |
| Fesyen | USD 56 juta | Menjadi komoditas unggulan Jawa Tengah |
TEI 2026 Disiapkan Untuk Menarik Lebih Banyak Buyer
Ari mengatakan TEI 2026 akan digelar pada 14 hingga 18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition atau ICE BSD, Tangerang. Untuk mendukung sektor unggulan, panitia menyiapkan dua hall khusus untuk zona furnitur.
Penyelenggaraan itu juga akan didukung Atase Perdagangan, Indonesian Trade Promotion Center, Kementerian Luar Negeri, dan perwakilan RI di luar negeri. Seluruh dukungan tersebut diarahkan untuk menjaring sekitar 8.000 buyers dari berbagai negara.
Gateway Transaksi Dan Investasi
Nabil Ramadhana, Digital and Business Development Manager PT Debindomulti Adhiswasti, menilai TEI berfungsi sebagai gateway yang mempertemukan eksportir nasional dengan pembeli dan investor. Ia menyebut komoditas yang paling diminati pada penyelenggaraan sebelumnya meliputi produk pertambangan, logam mulia, serta minyak kelapa sawit atau CPO beserta turunannya.
Nabil juga menyoroti peluang investasi yang ikut terbuka melalui ajang ini. Menurut dia, sektor investasi menyumbang sekitar 19 persen dari total potensi transaksi dengan nilai mencapai USD 43,7 juta.
Zona Tematik Disiapkan Untuk Berbagai Produk Unggulan
Pada TEI 2026, berbagai produk unggulan Indonesia akan ditampilkan dalam zona tematik. Zona Food and Beverage Products akan menempati Hall 2, Hall 3, dan Hall 3A, sementara zona Manufacturing akan menghadirkan produk manufaktur nasional yang berorientasi ekspor.
Melalui sosialisasi ini, Kemendag berharap semakin banyak pelaku usaha Jawa Tengah memanfaatkan TEI untuk memperluas akses pasar ekspor dan membangun kemitraan bisnis internasional. Partisipasi aktif pelaku usaha juga diharapkan ikut mendorong ekspor nonmigas dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.
Ringkasan Informasi TEI 2026
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Waktu | 14 hingga 18 Oktober 2026 |
| Lokasi | ICE BSD, Tangerang |
| Target buyer | Sekitar 8.000 buyers dari berbagai negara |
| Zona khusus | Dua hall untuk zona furnitur |







