Ekspor Indonesia memasuki semester II dengan tekanan yang datang dari dua arah sekaligus: tarif impor Amerika Serikat dan pelemahan harga komoditas global. Kondisi itu membuat ruang pertumbuhan perdagangan nasional diperkirakan semakin sempit pada paruh kedua tahun ini.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai dampak penuh kebijakan tarif AS baru akan terasa lebih kuat pada semester II 2026. Menurut dia, penyesuaian pesanan dari importir membutuhkan waktu sebelum benar-benar tercermin pada kinerja ekspor Indonesia.
Risiko kehilangan pesanan ke rival dagang
Selain beban tarif, Indonesia juga menghadapi risiko pengalihan pesanan ke negara pesaing seperti Vietnam dan Meksiko. Kedua negara itu dinilai memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar Amerika Serikat.
Jika pergeseran pesanan itu terjadi, sebagian permintaan terhadap produk ekspor Indonesia bisa hilang dari pasar yang selama ini penting. Di saat yang sama, negosiasi tarif dengan Washington menjadi faktor yang ikut menentukan arah ekspor pada sisa tahun ini.
Komoditas utama belum memberi napas lega
Tekanan ekspor tidak hanya datang dari kebijakan perdagangan, tetapi juga dari harga komoditas yang masih lemah. Batu bara dan crude palm oil atau CPO disebut masih berada dalam tren pelemahan.
Permintaan logam industri dari China juga belum pulih sepenuhnya. Yusuf menilai stimulus ekonomi Negeri Tirai Bambu itu berjalan lebih lambat dari ekspektasi pasar, sehingga dorongan terhadap ekspor Indonesia masih terbatas.
China dan hilirisasi masih menahan penurunan
Meski tekanannya besar, masih ada beberapa penopang ekspor yang terlihat. Salah satunya adalah ekspor nonmigas ke China yang tetap tumbuh positif.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat naik 17,7% secara tahunan. Selain itu, permintaan terhadap produk hilirisasi nikel masih dinilai bisa menjaga kinerja ekspor di tengah ketidakpastian global.
Yusuf memperkirakan pertumbuhan ekspor pada semester kedua hanya berada di kisaran nol sampai dua persen. Ia juga menilai risiko masih cenderung mengarah ke bawah jika negosiasi tarif dengan Washington tidak menghasilkan pelonggaran.
| Komoditas/Sektor | Kinerja Terbaru | Keterangan |
|---|---|---|
| Ekspor nonmigas ke China | Naik 17,7% | Periode Januari-Mei 2026, secara tahunan |
| Ekspor nonmigas total | US$ 22,45 miliar | Mei 2026, turun 4,5% dibanding tahun lalu |
| Industri pengolahan | US$ 19,05 miliar | Turun 3,59% secara tahunan |
| Pertanian, kehutanan, dan perikanan | US$ 500 juta | Turun 20,43% secara tahunan |
| Pertambangan dan lainnya | US$ 2,89 miliar | Turun 7,03% secara tahunan |
Tarif AS masih berjalan sementara
Menteri Perdagangan Budi Santoso sebelumnya menyampaikan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat masih dikenai tarif universal 10%. Tarif itu berlaku selama 150 hari hingga 24 Juli 2026.
Tarif sementara tersebut diberlakukan setelah skema tarif resiprokal sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS. Pemerintah Indonesia kini terus bernegosiasi agar mendapat tarif yang lebih kompetitif dan pembebasan tarif untuk sejumlah komoditas ekspor strategis.
Tekanan sudah mulai terlihat di data BPS
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2026 sebesar US$ 22,45 miliar. Angka itu turun 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan pelemahan paling besar terlihat pada logam mulia dan perhiasan, bijih logam, terak dan abu, serta besi dan baja.
Dengan kombinasi tarif AS, harga komoditas yang belum pulih, dan permintaan global yang belum solid, arah ekspor Indonesia pada semester II akan sangat bergantung pada hasil negosiasi dagang dan kekuatan produk bernilai tambah di pasar tujuan utama.
Source: www.beritasatu.com






