Tanah Terbalik Di Ciremai, Jejak Gempa Besar 16 Ribu Tahun Lalu Mulai Terbaca

Jejak tanah terbalik di Lingkar Timur Kuningan membuka petunjuk baru tentang gempa besar yang pernah mengguncang kawasan Gunung Ciremai. Temuan itu muncul dari analisis geokronologi dan pemetaan LiDAR pada endapan distal gunung api tersebut, lalu menunjukkan tanda deformasi tektonik yang kuat di Jawa Barat.

Temuan ini penting karena tidak hanya merekam sejarah Gunung Ciremai, tetapi juga memperlihatkan bahwa proses tektonik dan vulkanik di wilayah itu berjalan beriringan. Dari lapisan tanah yang tampak biasa, peneliti justru menemukan rekaman pergeseran bumi yang menyimpan jejak gempa dan perubahan bentuk lahan.

Lapisan lebih tua justru berada di atas

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sonny Aribowo, mengatakan riset itu dilakukan untuk mengetahui umur endapan Ciremai yang terganggu aktivitas tektonik. Melalui metode carbon dating di jalur Lingkar Timur Kuningan, tim menemukan endapan berumur 22 ribu tahun berada di atas endapan berusia 20 ribu tahun.

Susunan itu menjadi bukti adanya sesar naik setelah 20 ribu tahun. Lapisan yang lebih tua terdorong ke atas lapisan yang lebih muda, sehingga menandakan deformasi nyata pada endapan Kuarter.

Dalam geologi, pola seperti ini penting karena merekam perubahan besar pada kerak bumi di sekitar gunung api aktif. Sonny menjelaskan bahwa temuan tersebut menambah data tentang sejarah gunung api sekaligus memperkuat pemahaman tentang dinamika tektonik di kawasan itu.

Jejak sesar normal pada umur sekitar 16 ribu tahun

Penelitian ini juga menemukan bukti sesar normal pada endapan yang berumur sekitar 16.000 tahun. Sonny menyebut jejak itu mengindikasikan fase penyeimbangan sedimen setelah tekanan tektonik besar, atau kemungkinan jejak kejadian gempa bumi besar pada periode tersebut.

Temuan itu memperkuat dugaan bahwa wilayah Kuningan pernah mengalami dinamika tektonik yang kompleks. Jejak yang tertinggal di endapan memberi petunjuk bahwa proses pembentukan morfologi lahan di sekitar Ciremai tidak berlangsung tenang.

Bukti tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kawasan ini menarik untuk diteliti lebih jauh. Lapisan tanah di sana tidak hanya menyimpan catatan usia, tetapi juga menyimpan perubahan struktur yang pernah terjadi di bawah permukaan.

LiDAR memperlihatkan lahan yang terlipat dan patah

Penggunaan LiDAR membantu peneliti melihat fitur permukaan Bumi tanpa terhalang vegetasi. Dari data itu, tim menemukan kemiringan lapisan atau tilting serta patahan atau faulting pada morfologi lahan.

Kombinasi data radiokarbon dan LiDAR juga memberi pembaruan penting terhadap kronologi erupsi Gunung Ciremai. Sonny menyebut temuan ini menunjukkan fase deformasi tektonik di wilayah Kuningan berlangsung beriringan dengan sejarah vulkanisme gunung tersebut.

Artinya, rekaman geologi di kawasan ini tidak berdiri sendiri. Aktivitas gunung api dan gerakan tektonik tampak saling terkait dalam membentuk lanskap yang kini terlihat di permukaan.

Bedanya endapan distal dan proximal Ciremai

Studi itu juga membedakan karakter endapan jauh atau distal dengan endapan dekat atau proximal Gunung Ciremai. Endapan distal masuk sebagai sedimen vulkanik basaltik sub-alkalin dengan kandungan besi tinggi dan silika rendah.

Sementara itu, area dekat puncak atau proximal didominasi batuan andesit basaltik dengan seri magma medium-K. Sonny menegaskan hubungan keduanya masih perlu dikaji lebih lanjut karena karakteristiknya berbeda.

Perbedaan ini penting untuk membaca asal-usul material vulkanik sekaligus memahami proses pembentukannya. Dengan begitu, Gunung Ciremai tidak hanya terlihat sebagai gunung api, tetapi juga sebagai arsip alami dari deformasi tektonik besar di Jawa Barat.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button