Koalisi pemerintahan Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan besar menjelang Pemilu Israel 2026. Survei terbaru memproyeksikan blok oposisi dapat merebut 62 kursi di Knesset, cukup untuk melewati ambang mayoritas.
Dalam proyeksi yang sama, kubu petahana hanya diperkirakan mengantongi 48 kursi. Selisih ini membuka kemungkinan oposisi membentuk pemerintahan baru apabila hasil pemilu nantinya bergerak searah dengan jajak pendapat tersebut.
Kepercayaan Publik Menjadi Sinyal Tekanan
Tekanan terhadap pemerintah tidak hanya terlihat dari peta kursi. Survei mencatat hanya 38% responden yang percaya pemerintah saat ini mampu mengambil keputusan tepat bagi Israel.
Sebaliknya, 55% responden menyatakan tidak yakin terhadap kemampuan pemerintah. Angka tersebut menambah tantangan politik bagi koalisi Netanyahu ketika dinamika legislatif menjelang pembubaran parlemen berlangsung.
Jajak pendapat itu dilakukan Maariv bersama Panel4ALL Research yang dipimpin Menachem Lazar. Pengambilan data berlangsung pada 8-9 Juli 2026 dengan melibatkan 500 responden dewasa dari populasi Yahudi dan Arab di Israel.
Margin kesalahan maksimum survei tercatat 4,4%. Karena itu, hasilnya menggambarkan preferensi publik saat pengambilan data dan bukan hasil resmi pemilihan.
Oposisi Lewati Batas Mayoritas
Knesset memiliki 120 kursi, sehingga sebuah blok membutuhkan setidaknya 61 kursi untuk menguasai mayoritas. Proyeksi 62 kursi menempatkan oposisi satu kursi di atas batas tersebut.
Menurut survei Maariv yang dikutip Media Indonesia, kekuatan oposisi dipimpin oleh partai Yashar! di bawah ketua Gadi Eisenkot. Peta ini menunjukkan persaingan yang lebih ketat dibanding dominasi tunggal oleh partai penguasa.
| Partai atau Blok | Proyeksi Kursi | Posisi |
|---|---|---|
| Blok oposisi | 62 | Melampaui mayoritas |
| Koalisi petahana | 48 | Di bawah mayoritas |
| Likud | 22 | Imbang dengan Yashar! |
| Yashar! | 22 | Dipimpin Gadi Eisenkot |
Likud Berbagi Posisi Puncak dengan Yashar!
Partai Likud pimpinan Netanyahu diproyeksikan memperoleh 22 kursi. Jumlah itu sama dengan proyeksi kursi Yashar!, yang menjadikan kedua partai berbagi posisi teratas dalam survei.
Hasil tersebut mengindikasikan Likud tidak lagi berdiri sendiri sebagai kekuatan paling dominan dalam jajak pendapat ini. Bagi oposisi, kemunculan Yashar! sebagai penantang utama dapat menjadi faktor penting dalam perundingan pembentukan koalisi.
Beberapa mitra koalisi Netanyahu juga diperkirakan melemah. Shas diproyeksikan meraih tujuh kursi, turun dari 11 kursi yang diperolehnya pada pemilu 2022.
Otzma Yehudit juga diperkirakan memperoleh tujuh kursi, sementara Partai Zionis Religius bertahan pada empat kursi. Blue and White serta Balad diproyeksikan tidak melampaui ambang elektoral 3,25% untuk masuk Knesset.
Komposisi Koalisi Berikutnya Jadi Perdebatan
Survei turut menyoroti sikap responden terhadap partai yang akan dilibatkan dalam pemerintahan berikutnya. Sebanyak 83% responden menolak partai Haredi atau ultra-Ortodoks masuk ke dalam koalisi pascapemilu.
Hanya 8% yang mendukung keterlibatan partai Haredi, sedangkan 9% berada pada kategori lain. Temuan ini memperlihatkan bahwa susunan pemerintahan berpotensi menjadi isu besar setelah perebutan kursi selesai.
| Isu Komposisi Pemerintahan | Dukungan | Penolakan | Lainnya |
|---|---|---|---|
| Partai Haredi masuk koalisi | 8% | 83% | 9% |
| Partai Arab masuk pemerintahan | 70% | 10% | 20% |
Berbeda dengan sikap terhadap partai Haredi, dukungan bagi keterlibatan partai Arab dalam pemerintahan tercatat mencapai 70%. Sebanyak 10% responden menolak, sementara 20% lainnya tidak menyatakan pendapat atau tidak menganggap isu itu bermasalah.
Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Dengan waktu menuju pemungutan suara yang masih tersisa, dukungan terhadap oposisi, Likud, dan partai-partai koalisi masih dapat berubah.
