Kenaikan suku bunga acuan kembali memaksa bank menata ulang cara menghimpun dana. Di tengah biaya dana yang berpotensi naik, fokus utama industri bergeser ke sumber pendanaan yang lebih murah agar kinerja tetap efisien.
Situasi ini membuat bank tidak bisa lagi mengandalkan pola lama. Kreativitas dalam menjaring dan mempertahankan nasabah menjadi pembeda, terutama ketika persaingan dana pihak ketiga ikut mengeras.
Dana murah jadi prioritas
Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum menegaskan penghimpunan dana murah menjadi prioritas saat suku bunga acuan bergerak naik. Menurut dia, bank perlu memperkuat berbagai inisiatif agar dana pihak ketiga tetap tumbuh tanpa mendorong biaya dana naik terlalu tinggi.
Yuli juga menilai kenaikan BI Rate hampir pasti memberi tekanan pada cost of funds bank. Karena itu, bank harus lebih inovatif dalam menjaring nasabah supaya dampaknya terhadap kinerja bisnis bisa dikelola dengan lebih baik.
Tekanan biaya dana sulit dihindari
Naiknya suku bunga acuan biasanya ikut mengerek harga dana yang dihimpun bank. Kondisi itu membuat perbankan harus bekerja lebih cermat untuk menjaga efisiensi operasional di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Dalam pernyataannya di sela Media Gathering BCA Syariah – Sinergi Inklusivitas Bersama Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Yuli menyebut bank perlu bersikap realistis terhadap dampak tersebut. Ia mengatakan, “Pasti ada [dampak kenaikan BI Rate ke biaya dana]. [Karena itu bank] harus lebih kreatif [menjaring nasabah].”
Langkah Bank Indonesia ikut membentuk arah pasar
Bank Indonesia sebelumnya menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur. Bersamaan dengan itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%.
BI juga memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah lewat operasi moneter. Langkah yang ditempuh mencakup kenaikan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI tenor 6, 9, dan 12 bulan, insentif penurunan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing sebesar 10%, serta pembukaan lelang SRBI dua kali seminggu.
Koordinasi kebijakan jadi penopang
Bank sentral menyatakan langkah itu diambil untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional dan memperkuat aliran investasi asing. BI juga menegaskan koordinasi kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal pemerintah tetap diperkuat untuk menjaga stabilitas rupiah.
Bagi bank, arah kebijakan ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Bank yang mampu membangun strategi penghimpunan dana murah, memperluas basis nasabah, dan menjaga efisiensi biaya dana akan lebih siap menghadapi fase suku bunga tinggi.
Source: finansial.bisnis.com






