Terapi stem cell atau sel induk kini tidak lagi berhenti di ruang riset. Di Indonesia, pemanfaatannya mulai masuk ke layanan klinis yang lebih luas, dari estetika medis sampai pemulihan cedera sendi.
Perkembangannya menarik perhatian karena terapi ini diposisikan sebagai bagian dari kedokteran regeneratif. Fokusnya bukan hanya memperbaiki jaringan yang rusak, tetapi juga membantu pemulihan cedera dan menekan peradangan secara alami.
Dipakai untuk kulit, rambut, hingga luka kronis
Stem cell dikenal mampu memperbarui diri dan berkembang menjadi berbagai jenis sel. Sifat itu membuat terapi berbasis sel induk dinilai berpotensi mendukung regenerasi jaringan yang rusak.
Selain stem cell, terapi regeneratif juga memanfaatkan secretome, yaitu kumpulan zat aktif yang dihasilkan oleh stem cell. Kandungan ini mencakup growth factor yang berperan mendukung proses penyembuhan dan perbaikan sel.
Dalam praktiknya, terapi ini mulai digunakan untuk peremajaan kulit, penanganan alopecia atau kebotakan, penyempurnaan kontur wajah, hingga terapi pendamping bagi luka bakar dan luka kronis. Di bidang estetika dan bedah plastik, pendekatan ini diarahkan untuk membantu pemulihan jaringan dari dalam tubuh.
Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetika, dr. Tasya Anggrahita, Sp.BP-RE, Subsp. E.L., menjelaskan bahwa stem cell bekerja berbeda dari banyak terapi estetika lain. Menurutnya, terapi ini membantu regenerasi jaringan pada tingkat sel dan menghasilkan growth factor yang mendukung perbaikan serta peremajaan jaringan.
Masuk ke orthopedi untuk cedera sendi dan jaringan muskuloskeletal
Manfaat stem cell juga berkembang di bidang orthopedi. Terapi ini dimanfaatkan untuk mendukung pemulihan cedera pada tendon, tulang rawan sendi, ligamen, meniskus, rotator cuff, hingga diskus tulang belakang.
Dokter spesialis orthopedi, dr. Auliya Akbar, Sp.OT, Subsp. PL., menyebut stem cell dan turunannya dapat merangsang regenerasi sel. Mekanisme tersebut membantu proses penyembuhan jaringan yang mengalami kerusakan pada sistem muskuloskeletal.
Pemanfaatan ini disebut sudah memiliki standar pelayanan dari Kementerian Kesehatan untuk bidang orthopedi dan traumatologi. Artinya, penggunaannya dapat dilakukan secara aman dan terukur sesuai indikasi medis.
Akses makin terbuka, tapi seleksi pasien tetap ketat
Brawijaya Hospital merespons perkembangan ini dengan meluncurkan Brawijaya Regenerative Stem Cell Center di seluruh jaringan rumah sakitnya. Layanan tersebut dirancang untuk memperluas akses masyarakat terhadap teknologi kedokteran regeneratif.
Presiden Direktur Brawijaya Hospital Group, Devin Wirawan, mengatakan, “Kami mengintegrasikan teknologi regeneratif tercanggih dengan satu misi, yaitu meningkatkan kualitas hidup pasien secara nyata melalui penyembuhan di tingkat seluler.”
Meski menjanjikan, terapi stem cell tidak diberikan kepada semua orang. Setiap pasien perlu menjalani pemeriksaan menyeluruh agar terapi yang dipilih sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan medisnya.
Brawijaya Hospital menerapkan Strict Patient Selection sebagai proses skrining komprehensif sebelum tindakan dilakukan. Rumah sakit itu juga bekerja sama dengan Laboratorium Regenic yang telah memiliki sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik atau CPOB untuk memastikan kualitas material sel yang digunakan.
Dokter konselor terapi regeneratif Brawijaya Hospital, dr. Venty Muliana Sari Soeroso, M.Sc., menegaskan bahwa keselamatan pasien selalu menjadi prioritas. Ia mengatakan, “Setiap pasien menjalani evaluasi terlebih dahulu untuk memastikan terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.”
Dengan pendekatan itu, terapi stem cell diposisikan bukan sekadar inovasi, melainkan layanan medis yang menuntut ketelitian, pengawasan, dan pemilihan pasien yang tepat. Di tengah perluasan manfaatnya, dari kulit hingga sendi, faktor keamanan tetap menjadi penentu utama dalam penerapannya.
