Video pendek di media sosial kini bukan lagi sekadar hiburan singkat. Bagi banyak anak muda, sekali membuka aplikasi bisa berubah menjadi sesi menonton panjang yang menggerus waktu tanpa terasa.
Di Blitar, fenomena itu juga dirasakan para pelajar yang mulai melihat adanya dampak pada kebiasaan sehari-hari. Arus konten singkat yang terus muncul membuat pengguna mudah larut, lalu terdorong mencari tontonan berikutnya.
Terjebak di putaran konten cepat
Kondisi ini sering disebut sebagai digital dopamine, yakni dorongan untuk terus mencari kesenangan cepat dari konten-konten singkat di media sosial. Polanya sederhana, tetapi efeknya bisa panjang karena setiap video mendorong rasa ingin melihat video lain.
Dimas Laksana, pelajar SMK, mengaku pernah mengalami situasi itu saat membuka media sosial sebentar, tetapi durasinya justru melampaui rencana awal. Menurut dia, satu video kerap memancing pengguna untuk terus menggulir layar dan masuk ke konten berikutnya.
Ia menyoroti dua pemicu utama yang membuat kebiasaan itu sulit dihentikan. Pertama, semua jenis konten tersedia dalam satu aplikasi dan bisa diakses dengan sangat cepat, lalu algoritma ikut menampilkan konten yang sesuai minat pengguna.
Gambaran paling mudah terlihat saat seseorang membuka TikTok selama beberapa menit, lalu membalas pesan, kemudian menonton satu video lagi. Tanpa disadari, waktu bisa berjalan hingga satu jam.
Fokus yang pelan-pelan terkikis
Pelajar SMA Ahmad Irul menilai pola konsumsi konten seperti ini perlahan memengaruhi perilaku generasi muda. Ia melihat kebiasaan mendapatkan hiburan serbacepat membuat banyak orang terbiasa dengan kepuasan instan.
Perubahan itu tidak berhenti pada cara menikmati hiburan. Ahmad menilai, kebiasaan menerima informasi dalam bentuk singkat juga membuat sebagian anak muda lebih mudah bosan saat menghadapi konten yang berdurasi lebih panjang.
Menurut dia, hal tersebut berkaitan dengan kemampuan konsentrasi. Saat perhatian terus dilatih untuk berpindah cepat, fokus pada kegiatan yang menuntut ketahanan lebih lama bisa ikut terganggu.
Dampaknya dapat terasa dalam aktivitas harian, terutama ketika seseorang harus bertahan pada tugas yang tidak selesai dalam hitungan detik. Konten yang serba singkat berpotensi membuat pengguna sulit menjaga perhatian terlalu lama pada satu kegiatan.
Tidak selalu buruk, tapi perlu dibatasi
Media sosial pada dasarnya tetap punya sisi positif karena bisa menjadi sarana hiburan, komunikasi, dan akses informasi yang mudah. Namun, penggunaan yang berlebihan disebut dapat mengurangi produktivitas dan mengganggu fokus saat belajar maupun bekerja.
Para pelajar di Blitar melihat persoalan ini bukan semata soal teknologi, melainkan soal kebiasaan. Saat pola membuka aplikasi berubah menjadi otomatis, pengguna tidak lagi sekadar mencari informasi, tetapi masuk ke rutinitas konsumsi konten yang sulit dihentikan.
Di titik itu, pengendalian diri menjadi penting agar waktu tidak habis begitu saja di layar gawai. Ahmad menekankan perlunya pengaturan waktu supaya aktivitas di media sosial tetap bijak dan terkontrol.
Fenomena video pendek yang makin dominan menunjukkan tantangan baru bagi generasi muda. Di satu sisi, konten singkat memberi hiburan instan, tetapi di sisi lain kebiasaan itu bisa menggerus fokus jika tidak dibatasi dengan disiplin.
