Spanyol Menang di Menit ke-106, Final yang Membawa Gaza ke Tengah Lapangan

Spanyol merebut gelar dunia keduanya lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106, tetapi final 1-0 melawan Argentina di New Jersey meninggalkan cerita yang jauh lebih besar daripada skor. Di tengah tragedi kemanusiaan di Gaza, sebagian pendukung memaknai kemenangan itu sebagai ruang harapan dan solidaritas.

Makna tersebut muncul karena sikap politik kedua negara kerap dibandingkan dalam isu Palestina dan perang di Gaza. Namun, pembacaan politik terhadap pertandingan tetap tidak dapat digunakan untuk menyamakan para pemain dengan keputusan pemerintah negara mereka.

Torres Memecah Kebuntuan di Masa Tambahan Waktu

Spanyol mengendalikan final dengan sekitar 65 persen penguasaan bola dan melepaskan 20 tembakan. Argentina hanya mencatatkan dua percobaan sepanjang pertandingan sebelum Torres menyambar bola di depan gawang Emiliano Martínez.

Gol pada masa tambahan waktu itu menjadi pembeda setelah laga berjalan ketat hingga menit-menit akhir. Hasil 1-0 juga mengantarkan Spanyol meraih gelar dunia kedua setelah keberhasilan mereka pada 2010.

TimPenguasaan BolaTembakanHasil
SpanyolSekitar 65 persen20Menang 1-0
ArgentinaTidak dirinci2Kalah 0-1

Kemenangan itu melengkapi catatan Spanyol yang disebut menjalani 38 pertandingan tanpa kekalahan. Sepanjang turnamen, tim tersebut juga hanya kebobolan satu gol, menegaskan kekuatan yang dibangun dari konsistensi, bukan hanya satu momen penentu.

Gaza Menjadi Latar Emosional di Luar Stadion

Di luar perhitungan taktik dan statistik, final ini ikut dikaitkan dengan posisi pemerintah Spanyol dan Argentina terhadap Palestina. Spanyol, bersama Irlandia dan Norwegia, secara resmi mengakui Negara Palestina pada 28 Mei 2024 untuk mendukung perdamaian serta solusi dua negara.

Majelis Umum PBB setahun kemudian mengesahkan resolusi yang menuntut gencatan senjata segera dan permanen di Gaza. Resolusi itu memperoleh 149 suara setuju, 12 suara menolak, dan 19 abstain; Spanyol mendukungnya, sementara pemerintahan Argentina di bawah Javier Milei termasuk pihak yang menolak.

Konteks itu terasa berat karena jumlah korban terus menjadi perhatian dunia. Hingga pertengahan Juli 2026, lebih dari 73.000 warga Palestina dilaporkan tewas sejak perang pada Oktober 2023, menurut data yang dikutip dari Kementerian Kesehatan Gaza dan lembaga internasional.

Setelah gencatan senjata pada Oktober 2025, lebih dari 1.100 orang juga dilaporkan kembali terbunuh. Angka-angka tersebut tidak sepenuhnya dapat merangkum kehilangan setiap keluarga, tetapi menjelaskan mengapa sepak bola mudah menjadi tempat menaruh doa dan keteguhan.

Harapan yang dibawa pendukung Spanyol tidak berarti hasil pertandingan menjadi pembuktian politik. Messi bukan Javier Milei, sementara tim nasional Argentina bukan kabinet yang menetapkan arah diplomasi di Buenos Aires.

Lionel Messi sendiri telah menjadi Duta Persahabatan UNICEF sejak 2010 dan mendukung sejumlah upaya perlindungan anak. Karena itu, penilaian terhadap sang pemain perlu dipisahkan dari kebijakan pemerintah Argentina.

Pertemuan Dua Generasi Messi dan Yamal

Final tersebut juga mempertemukan Messi, yang menjalani Piala Dunia pada usia 39 tahun, dengan Lamine Yamal yang baru berusia 19 tahun. Kontras keduanya memperlihatkan peralihan generasi di panggung terbesar sepak bola dunia.

Kisah keduanya memiliki kaitan yang tidak biasa sejak 2007. Fotografer Joan Monfort saat itu memotret Messi yang berusia 20 tahun bersama seorang bayi berusia sekitar lima bulan dalam sesi kalender amal Sport dan UNICEF.

Bayi yang dimandikan Messi dalam bak plastik itu kemudian dikenal sebagai Yamal. Keluarga Yamal dipilih melalui undian untuk mengikuti pemotretan amal tersebut tanpa mengetahui bahwa keduanya kelak akan bertemu di final.

Angka 19 ikut muncul dalam sejumlah detail laga itu. Yamal berusia 19 tahun pada 13 Juli, final berlangsung pada 19 Juli waktu Amerika, dan ia mengenakan nomor 19 yang juga dipakai Messi pada Piala Dunia pertamanya pada 2006.

Yamal tumbuh di Rocafonda, kawasan pekerja dengan banyak keluarga migran, dari ayah berdarah Maroko dan ibu asal Guinea Khatulistiwa. Perjalanannya menunjukkan bagaimana pemain dari pinggiran dapat menjadi tokoh sentral bagi negaranya di panggung dunia.

Papan skor di New Jersey hanya mencatat Spanyol 1 dan Argentina 0. Namun, final itu memperlihatkan bahwa sepak bola kerap memantulkan luka, harapan, dan pertanyaan kemanusiaan yang melampaui trofi.

Source: www.kompas.com
Terkait