MV Barima Terbalik di Guyana, Manifes Dipertanyakan saat 83 Orang Hilang

Tragedi MV Barima di perairan Guyana memunculkan pertanyaan besar tentang jumlah orang yang berada di kapal saat feri itu terbalik pada Sabtu malam. Sedikitnya 27 orang meninggal dunia, sementara 83 orang masih hilang hingga Senin.

Jumlah korban dan penyintas terlihat tidak sejalan dengan manifes resmi yang mencatat 116 penumpang serta 17 kru. Otoritas menduga jumlah penumpang di kapal feri Guyana tersebut jauh lebih banyak daripada yang tercantum dalam daftar.

Selisih Data Jadi Fokus Penyelidikan

MV Barima, kapal sepanjang 40 meter, berlayar dari Georgetown menuju Port Kaituma sebelum mengalami kecelakaan di laut. Pemerintah Guyana kini memusatkan penyelidikan pada penyebab kapal terbalik dan dugaan pelanggaran dalam operasionalnya.

Data awal menunjukkan hanya 35 orang dari para penyintas yang tercatat secara resmi dalam manifes. Perbedaan itu memperkuat dugaan bahwa jumlah orang di atas kapal saat berangkat tidak tergambar sepenuhnya dalam dokumen resmi.

KeteranganJumlah
Korban meninggal27 orang
Orang hilang83 orang
Orang selamat69 orang
Anak-anak selamat15 orang
Penumpang dalam manifes116 orang
Kru dalam manifes17 orang

Perdana Menteri Guyana Mark Phillips mengonfirmasi angka korban tersebut dan menyatakan penyelidikan menyeluruh telah dimulai. Ia menegaskan setiap pihak yang terbukti melakukan kelalaian, pelanggaran, atau tindak kriminal akan diproses secara hukum.

“Biar saya perjelas: jika ditemukan adanya kelalaian, pelanggaran, atau tindakan kriminal, mereka yang bertanggung jawab akan menghadapi hukuman hukum yang seberat-beratnya,” kata Phillips. Pernyataan itu menandai tekanan pemerintah untuk mengusut pengelolaan kapal dan keabsahan data penumpang.

Kapten dan Sejumlah Kru Ditahan

Menteri Pekerjaan Umum Guyana Juan Edghill mengecam pengelola feri yang dinilai berusaha “menipu sistem”. Kritik itu berkaitan langsung dengan selisih antara data manifes dan jumlah korban yang ditemukan setelah kecelakaan.

Hasil pemeriksaan juga menunjukkan nakhoda dan sedikitnya seorang kru positif mengonsumsi ganja. Kapten bersama beberapa anggota kru kemudian ditahan oleh kepolisian.

Edghill menyebut temuan tersebut sebagai persoalan serius dalam pengoperasian kapal. “Kami tidak toleran terhadap anggota kru yang minum atau merokok saat bekerja,” ujarnya.

Menurut Media Indonesia, panggilan darurat diterima pada pukul 23:01 waktu setempat setelah kapal terbalik. Tim pemerintah dan kapal-kapal swasta kemudian dikerahkan untuk menjalankan operasi pencarian di sekitar lokasi kecelakaan.

Penyintas Bertahan di Tengah Gelombang

Seorang penyintas, Elena Moonsammy, menggambarkan situasi yang berubah dalam waktu singkat ketika kapal dihantam gelombang besar. Kapal disebut mulai miring dan air masuk dengan cepat, memicu kepanikan di antara para penumpang.

Moonsammy bertahan dengan berpegangan pada sebuah kotak yang mengapung di laut. Dalam kekacauan itu, ia sempat berusaha memegang tangan anaknya yang berusia dua tahun sebelum keduanya terpisah.

Ia juga menolong seorang perempuan lain ketika para korban mencoba bertahan di tengah puing-puing kapal. Kesaksian tersebut menunjukkan beratnya kondisi yang dihadapi penumpang sebelum bantuan datang.

Menteri Kesehatan Guyana Dr. Frank Anthony mengatakan sebagian besar penyintas mengalami luka lecet setelah berpegangan pada puing-puing selama berjam-jam. Sebagian besar dari mereka telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Belum adanya tambahan penyintas membuat pencarian terhadap 83 orang yang hilang tetap menjadi prioritas. Nasib mereka, bersama pertanyaan mengenai manifes MV Barima, menjadi dua fokus utama setelah tragedi ini.

Source: mediaindonesia.com
Terkait