Amerika Serikat dan Rusia kembali mengirim awak gabungan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), ketika hubungan politik kedua negara masih berada dalam tekanan. Soyuz MS-29 tiba di laboratorium orbit itu pada Rabu, 15 Juli 2026, sekitar tiga jam setelah lepas landas dari Kazakhstan.
Misi ini menunjukkan operasional ISS tetap mempertahankan jalur kerja sama praktis antara Washington dan Moskow. Tiga awak akan menjalani misi selama delapan bulan di orbit, bersama personel dari Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa.
Merapat Otomatis Setelah Terbang dari Baikonur
Wahana Soyuz MS-29 milik Roscosmos diluncurkan sesuai jadwal pada pukul 19.47 waktu setempat dari Kosmodrom Baikonur. Pesawat antariksa tersebut kemudian merapat secara otomatis ke ISS.
Dalam kapsul itu terdapat astronaut NASA Anil Menon serta dua kosmonaut Roscosmos, Pyotr Dubrov dan Anna Kikina. Komposisi kru ini menjadi bagian dari pengaturan penerbangan silang yang masih dijalankan kedua negara untuk menjaga kesinambungan awak di stasiun orbit.
| Awak | Afiliasi | Status Penerbangan |
|---|---|---|
| Anil Menon | NASA | Penerbangan luar angkasa pertama |
| Pyotr Dubrov | Roscosmos | Penerbangan luar angkasa kedua |
| Anna Kikina | Roscosmos | Penerbangan luar angkasa kedua |
Bagi Menon, penerbangan dengan Soyuz MS-29 merupakan pengalaman pertamanya menuju luar angkasa. Dubrov dan Kikina telah memiliki pengalaman misi orbit sebelumnya, sehingga keduanya menjalani penerbangan kedua dalam karier mereka.
Setibanya di ISS, ketiganya bergabung dengan awak yang telah lebih dulu bekerja di stasiun tersebut. Personel yang disebut telah berada di orbit mencakup astronaut NASA Jessica Meir, Jack Hathaway, dan Chris Williams, serta astronaut Badan Antariksa Eropa Sophie Adenot.
Roscosmos juga telah menempatkan Sergei Kud-Sverchkov, Sergei Mikaev, dan Andrei Fedyaev di ISS. Kehadiran kru baru menjaga keberagaman personel di stasiun yang menjadi laboratorium bersama berbagai mitra internasional itu.
Kepala NASA Hadir di Lokasi Peluncuran
Administrator NASA Jared Isaacman turut menyaksikan peluncuran Soyuz MS-29 di Baikonur. Kunjungan tersebut menjadi kunjungan pertama kepala NASA ke kosmodrom itu dalam delapan tahun terakhir.
Menurut Kompas.com, Isaacman bertemu kepala korporasi negara Roscosmos Dmitry Bakanov sebelum peluncuran. Ia juga mengadakan pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Denis Manturov untuk membahas prospek kerja sama di ISS dan proyek lain.
Pada pertemuan dengan kru sebelum peluncuran, Isaacman menyampaikan terima kasih kepada Roscosmos atas persiapan misi tersebut. Ia menilai kerja sama selama beberapa bulan terakhir mencerminkan profesionalisme dan dedikasi pihak-pihak yang terlibat.
ISS Menjadi Jalur Kolaborasi yang Tetap Bertahan
AS dan Rusia pernah menjadi rival utama dalam perlombaan antariksa era Perang Dingin. Kini, kedua negara masih berbagi peran dalam pengoperasian ISS meski hubungan diplomatik mereka memburuk sejak Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 2022.
Pengaturan penerbangan kru bergantian menggunakan wahana masing-masing negara menjadi salah satu bentuk kerja sama yang terus dipertahankan. Skema tersebut membantu memastikan awak dari kedua pihak dapat tetap mencapai stasiun orbit bersama mitra internasional lainnya.
Namun, kerja sama antariksa kedua negara tidak berlangsung luas di semua bidang. Kemungkinan keterlibatan Rusia dalam program penelitian Bulan Artemis milik NASA disebut tidak berlanjut.
Di saat yang sama, Roscosmos mulai memperluas kerja sama dengan China untuk misi Bulan. Arah itu muncul ketika Rusia semakin bergantung pada China untuk ekspor energi dan impor teknologi penting akibat sanksi Barat.
Penerbangan Soyuz MS-29 menegaskan ISS masih berfungsi sebagai ruang kerja bersama di tengah perbedaan politik yang tajam di Bumi. Selama delapan bulan berikutnya, Menon, Dubrov, dan Kikina akan menjadi bagian dari operasi bersama tersebut di orbit.







