Gagasan bahwa Neanderthal mendapatkan lonjakan nitrogen dari maggot pada bangkai membusuk kini menghadapi persoalan besar. Perhitungan baru menunjukkan larva harus menjadi bagian yang amat dominan dalam menu mereka untuk menghasilkan jejak isotop setinggi yang ditemukan pada fosil.
Dalam sejumlah skenario, porsi maggot bahkan harus melampaui seluruh makanan yang dikonsumsi. Karena itu, perburuan mamut dan megafauna lain kembali dipandang sebagai penjelasan yang lebih masuk akal bagi pola makan manusia purba tersebut.
Angka Nitrogen yang Tidak Lazim
Kadar nitrogen-15 pada fosil digunakan peneliti untuk membaca posisi makhluk hidup dalam rantai makanan. Secara umum, nilai tinggi mengarah pada pola makan karnivora karena daging hewan herbivora membawa sinyal isotop yang lebih besar.
Masalahnya, sejumlah fosil Neanderthal memiliki nilai nitrogen-15 yang bukan sekadar tinggi untuk pemakan daging. Angkanya melampaui nilai yang lazim ditemukan pada predator puncak seperti serigala abu-abu dan hyena tutul.
| Subjek | Nilai nitrogen-15 | Gambaran pola makan |
|---|---|---|
| Serigala abu-abu | 7,9–8,4 persen | Didominasi daging |
| Hyena tutul | 7,9–8,4 persen | Didominasi daging |
| Neanderthal | 12–14 persen | Melampaui predator puncak |
Selisih tersebut membuat menu harian Neanderthal menjadi teka-teki bagi para peneliti. Konsumsi daging tanpa lemak dalam jumlah sangat besar juga bukan jawaban sederhana karena tubuh manusia memiliki batas biologis dalam mengolahnya.
Manusia modern yang mengonsumsi lebih dari 300 gram protein tanpa lemak per hari dapat mengalami rabbit starvation. Kondisi malnutrisi ini terjadi ketika kalori dari protein tidak diimbangi lemak dan karbohidrat, serta dapat berakibat fatal.
Simulasi Menguji Peran Larva
Teori maggot sebelumnya muncul karena larva serangga yang tumbuh pada daging membusuk dapat menyerap nitrogen dalam kadar tinggi. Jika larva itu dimakan, sinyal isotop tersebut secara teori dapat diteruskan ke tubuh pemangsanya.
Namun, studi yang dibahas Kompas.com dengan mengutip IFLScience menghitung ulang kebutuhan larva untuk membentuk sinyal kolagen seperti pada sampel arkeologis. Hasil simulasi itu tidak mendukung maggot sebagai penjelasan tunggal untuk nilai ekstrem tersebut.
Larva diperkirakan harus menyumbang sekitar 40 hingga 100 persen dari total makanan Neanderthal. Besarnya kebutuhan itu bergantung pada seberapa tinggi kemampuan maggot menyerap nitrogen dari daging yang membusuk.
Pada beberapa kemungkinan perhitungan, kebutuhan maggot justru melebihi 100 persen dari keseluruhan diet. Angka itu berarti penjelasan tersebut tidak mungkin dipenuhi secara biologis.
José Luis Guil-Guerrero dari Universitas Almería menilai konsumsi larva tidak cukup untuk sendirian mendorong sinyal kolagen Neanderthal jauh melewati batas predator puncak. Ia menyebut proporsi makanan yang dibutuhkan akan menjadi “sepenuhnya tidak masuk akal”.
Daging Mamut Kembali Diperhitungkan
Guil-Guerrero memandang daging mamut memiliki kandungan nitrogen tinggi yang lebih sesuai dengan temuan isotop pada fosil. Hipotesis perburuan terarah terhadap hewan berukuran besar pun kembali menguat sebagai penjelasan utama.
Penafsiran ini mengubah gambaran sederhana bahwa Neanderthal hanya mengandalkan bangkai atau larva serangga. Mereka kemungkinan memiliki kemampuan dan strategi untuk memburu megafauna, meski bukti isotop belum dapat menjelaskan seluruh variasi pola makan di setiap wilayah.
Perburuan mamut juga belum menjadi jawaban universal bagi semua fosil dengan nitrogen-15 tinggi. Kekeringan, tekanan fisiologis, konsumsi larva, dan kondisi lingkungan setempat tetap termasuk kemungkinan yang sedang dipertimbangkan.
Penjelasan akhirnya diperkirakan berasal dari gabungan perilaku makan dan perubahan lingkungan yang berbeda antarwilayah. Kajian mengenai teka-teki nitrogen-15 pada Neanderthal itu telah dipublikasikan dalam American Journal of Biological Anthropology.







