Ancaman kekeringan mulai menekan areal persawahan di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Pemerintah kabupaten mengerahkan mobil tangki air agar tanaman padi di lahan terdampak tetap memperoleh pasokan air.
Langkah darurat ini ditempuh ketika debit air di sejumlah wilayah pertanian menurun. Gangguan pasokan air berisiko menghambat masa tanam dan meningkatkan potensi gagal panen jika tidak segera ditangani.
Pasokan Air untuk Sawah Terdampak
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyatakan armada mobil tangki air diturunkan untuk memenuhi kebutuhan air di areal persawahan yang mengalami kekeringan. Intervensi tersebut ditujukan untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.
“Pengerahan armada tangki air ini untuk memasok kebutuhan air ke areal persawahan yang mengalami kekeringan. Langkah ini dilakukan guna menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional,” kata Syaharuddin Alrif saat dikonfirmasi dari Makassar, Minggu, 19 Juli 2026.
Pemkab Sidrap tidak hanya mengandalkan distribusi air melalui mobil tangki. Pemerintah daerah juga mengoptimalkan pompanisasi untuk membantu menjaga kebutuhan air petani selama musim kemarau.
Koordinasi dengan berbagai pihak turut dilakukan agar pasokan air ke lahan pertanian tetap terjaga. Penanganan dini dinilai penting karena penurunan debit air dapat mengganggu keberlangsungan budidaya padi di sejumlah wilayah.
Hamparan Sawah yang Bergantung pada Air
Kabupaten Sidrap merupakan salah satu daerah penyangga produksi pangan nasional. Luas baku sawah di daerah ini mencapai sekitar 52.227 hektare, dengan sebagian besar lahan memerlukan ketersediaan air yang stabil.
| Jenis Lahan Sawah | Perkiraan Luas | Karakter Pasokan Air |
|---|---|---|
| Sawah irigasi | Sekitar 34.000 hektare | Mengandalkan jaringan irigasi |
| Sawah tadah hujan | Sisa dari total 52.227 hektare | Lebih bergantung pada curah hujan |
Data tersebut memperlihatkan kerentanan lahan ketika pasokan air alami menurun pada musim kemarau. Sawah tadah hujan menjadi bagian yang lebih terdampak karena kebutuhan airnya lebih bergantung pada curah hujan.
Di sisi lain, sawah irigasi juga membutuhkan jaringan yang berfungsi baik untuk mengalirkan air ke lahan. Karena itu, ketersediaan air dan kondisi irigasi sawah menjadi faktor penting bagi kelanjutan masa tanam.
Pompanisasi dan Rehabilitasi Irigasi
Selain mengerahkan mobil tangki air, Pemkab Sidrap mendorong percepatan rehabilitasi jaringan irigasi. Pemerintah daerah juga berupaya mengoptimalkan sumber-sumber air agar pemenuhan kebutuhan petani dapat berjalan lebih berkelanjutan.
Mitigasi kekeringan ini diarahkan untuk menjaga produktivitas sawah saat musim kemarau memberi tekanan pada sektor pertanian. Perubahan kondisi iklim juga menjadi alasan penanganan pasokan air perlu dilakukan lebih cepat di titik terdampak.
Syaharuddin mengatakan pemerintah kabupaten akan terus memantau kondisi lahan pertanian. “Pemkab Sidrap akan terus memantau kondisi lahan pertanian dan mempercepat penanganan di lokasi yang terdampak,” ujarnya.
Ketersediaan air menentukan apakah musim tanam dapat terus berjalan atau terhenti di tengah proses budidaya. Pemkab Sidrap berharap langkah penyaluran air, pompanisasi, dan perbaikan irigasi dapat menekan kerugian petani serta menjaga peran daerah itu sebagai sentra produksi beras.
