Setelah Orbán, Magyar Hadapi Mesin Propaganda Hongaria, Ujian Terbesar Perubahan di Balik Kemenangan Politiknya

Péter Magyar memasuki fase awal pemerintahannya dengan tantangan yang jauh lebih besar dari sekadar pergantian elite. Ia harus berhadapan dengan mesin propaganda yang selama bertahun-tahun membantu Viktor Orbán mempertahankan kuasa, menekan oposisi, dan membentuk cara jutaan warga Hungary memandang politik.

Di kota-kota besar, kemenangan Magyar memunculkan harapan akan perubahan. Namun di wilayah pedesaan, transisi ini juga memicu kecemasan karena banyak warga tumbuh dengan akses informasi yang sangat bergantung pada saluran yang dekat dengan pemerintah.

Sistem media yang dibangun agar sulit ditembus

Di bawah Orbán, kendali atas informasi tidak berjalan hanya lewat slogan politik, tetapi juga melalui desain sistem yang rapi. Fidesz mendorong perubahan aturan, menempatkan sekutu di lembaga pengawas media, dan membatasi iklan politik pra-pemilu pada penyiar yang sudah berada dalam orbit kekuasaan.

Pengaruh itu juga merambat lewat bisnis media. Jurnalis investigasi Szabolcs Panyi menyebut bank-bank milik negara memberi pinjaman murah, bahkan gratis, kepada para sekutu Orbán untuk membeli outlet media, lalu menutupnya atau mengubahnya menjadi corong Fidesz.

Tekanan finansial mempersempit ruang redaksi independen. Negara yang lama menjadi pengiklan terbesar di pasar media Hungary menarik iklan dari media yang dianggap tidak bersahabat, sehingga banyak perusahaan swasta ikut menyesuaikan diri mengikuti arah kekuasaan.

Realitas yang dibentuk dari satu sisi saja

Dampak paling berat terlihat di wilayah yang pilihan medianya terbatas. Seorang analis keuangan bernama Balasz mengatakan kerabat lansianya di pedesaan hanya menerima sedikit sumber berita, lalu hidup dalam “realitas alternatif” yang dipenuhi ketakutan tentang perang, wajib militer, dan kehancuran ekonomi jika Magyar menang.

Panyi menilai masalah itu sudah menjadi kebiasaan yang lama dinormalisasi. Menurutnya, ketika seseorang hanya mengonsumsi media yang sama, tidak ada ruang untuk memeriksa ulang fakta karena narasi itulah yang dianggap sebagai kenyataan.

Kondisi ini juga menjelaskan pola propaganda yang kerap menyerang tokoh tertentu sebagai musuh publik. Dari George Soros hingga Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, media yang dikendalikan negara dilaporkan berulang kali menonjolkan figur yang diposisikan sebagai ancaman.

Mengapa kemenangan Magyar dipandang sebagai titik balik

Profesor hukum media Gábor Polyák menilai hasil pemilu menunjukkan banyak warga Hungary sudah lelah dengan ekonomi yang mandek dan korupsi yang meluas. Ia bahkan menyebut mesin propaganda itu akhirnya bekerja terlalu jauh, sampai para propagandis sendiri lebih percaya pada narasi yang mereka sebarkan daripada kelompok sasaran yang ingin mereka pengaruhi.

Magyar menggambarkan kemenangannya seperti momen di akhir “The Truman Show”, saat seseorang sadar bahwa dunia yang dilihat selama ini telah direkayasa. Ia juga menegaskan bahwa perubahan cara pandang publik tidak akan terjadi dalam semalam karena banyak warga masih terikat pada pola informasi lama.

Di televisi negara M1, Magyar sempat menegur langsung para pembawa acara yang menurutnya menyebarkan kebohongan tentang keluarganya. Ia menyerukan media publik yang menyampaikan informasi secara jujur, bukan menjadi alat serangan politik.

Pembongkaran sistem yang tidak akan cepat

Secara kelembagaan, Tisza disebut memiliki ruang untuk membalikkan perubahan konstitusional yang dibuat Fidesz. Langkah itu bisa membuka jalan bagi pembentukan regulator media baru dan penataan ulang televisi serta radio negara.

Namun Polyák mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru ada di sektor swasta. Jaringan elite pro-Fidesz yang sebelumnya mendapat manfaat dari uang publik masih bisa mempertahankan outlet yang berpihak pada mereka, sehingga pengaruh lama tidak otomatis hilang meski pemerintah berganti.

Karena itu, pembongkaran propaganda diperkirakan berjalan bertahap. Selama bertahun-tahun, sistem ini tidak hanya menguasai isi berita, tetapi juga iklan, kepemilikan outlet, dan kebiasaan konsumsi media masyarakat.

Warisan ketakutan yang masih hidup

Mantan duta besar Amerika Serikat untuk Hungary, David Pressman, menilai operasi propaganda itu dibiayai pembayar pajak dan dibangun dengan rasa takut. Ia mengatakan perhatian publik sengaja diarahkan ke hal-hal yang tidak nyata agar isu yang benar-benar penting tertutup.

Strategi itu juga menyebar melalui keseharian warga, seperti poster di pedesaan, siaran politik saat jeda pertandingan sepak bola, dan liputan yang hampir tak memberi ruang untuk bantahan. Karena melekat pada rutinitas, propaganda menjadi sulit dihindari.

Di tengah situasi itu, kerja lapangan Magyar menjadi pembeda. Ia mengatakan telah mengunjungi 700 kota dan desa selama dua tahun, dan pendekatan tatap muka itu membantu menjangkau daerah yang selama ini dianggap tak tersentuh oposisi.

Bagi banyak jurnalis Hungary, fase ini terasa seperti awal baru setelah masa panjang tekanan. Namun ujian terberat baru dimulai saat pemerintah baru harus mengubah sistem yang sudah terlanjur mengakar di media, politik, dan perilaku publik.

Terkait