Sesar Kendeng kembali menjadi perhatian karena jalurnya melintasi kawasan padat penduduk di Jawa dan menyimpan potensi gempa besar. Patahan aktif ini membentang sekitar 300 kilometer dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, melewati wilayah yang banyak dihuni dan ramai aktivitas.
Risikonya bukan hanya soal catatan geologi. Jika bergerak kuat, guncangan dari sesar darat seperti ini bisa dirasakan luas dan berdampak besar, terutama di kota-kota yang berada tepat di lintasannya.
Melintasi banyak wilayah padat
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang Ricko Kardoso menegaskan kewaspadaan terhadap Sesar Kendeng perlu ditingkatkan. Ia menyebut jalurnya sangat padat penduduk dan membentang dari selatan Semarang, Jawa Tengah, hingga wilayah Jawa Timur.
Patahan ini terbagi ke dalam enam segmen utama, yaitu Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang yang melintasi Lamongan, Surabaya yang membelah jantung kota, dan Waru di Sidoarjo. Secara administratif, rute ancaman tersebut juga mencakup Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, hingga Kota Surabaya.
Artinya, wilayah yang perlu waspada tersebar luas dan tidak berhenti di satu titik saja. Banyak daerah yang dilintasi sesar ini saling terhubung sebagai kawasan perkotaan dan permukiman padat.
Potensi gempa besar masih ada
Dalam pemutakhiran data Pusat Studi Gempa Nasional atau PuSGeN 2024, Sesar Kendeng digabung penamaannya dengan Sesar Baribis dan Sesar Semarang menjadi sistem Java Back-arc Thrust. Pemetaan itu menunjukkan skenario terburuk pada tiap segmen aktif dapat memicu gempa bumi dengan kekuatan merusak.
Ricko menyebut magnitudo tertarget dalam PuSGeN 2024 pada tiap segmen sesar aktif berada di kisaran Magnitudo 6 sampai 7. Karena itu, potensi gempa besar tetap menjadi perhatian utama dalam mitigasi kebencanaan di kawasan ini.
Meski bergerak lambat, sekitar 5 milimeter per tahun, sesar ini tidak bisa diabaikan. Laju yang kecil membuat periode ulang gempa besar menjadi panjang, tetapi bukan berarti risikonya hilang.
Catatan sejarah juga menunjukkan pernah terjadi gempa dahsyat di sepanjang jalur ini. Gempa besar dengan estimasi Magnitudo 6 hingga 7 tercatat pada 1836 dan 1837 di Mojokerto dan Jombang, lalu gempa kuat lain melanda Madiun pada 1862 dan 1915 serta merusak infrastruktur di Surabaya pada 1867.
BMKG turut mencatat beberapa tahun terakhir muncul aktivitas seismik berupa gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan kekuatan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur tersebut. Riwayat ini membuat pemantauan Sesar Kendeng tetap penting meski tidak setiap aktivitas berujung pada gempa besar.
Isu Palu dan penjelasan geologinya
Sorotan publik sempat meningkat setelah muncul unggahan yang mengaitkan Sesar Kendeng dengan gempa Palu dan kekhawatiran rambatan dampaknya ke Bojonegoro. Pakar Geologi ITS sekaligus peneliti senior Puslit MKPI ITS, Amien Widodo, memberi penjelasan ilmiah agar masyarakat tidak salah memahami arah pergerakan patahan.
Amien menegaskan posisi gempa Palu berada jauh dari Jawa dan terkait dengan Sesar Palu-Koro. Ia menjelaskan arah gerak sesar di Sulawesi itu menuju barat laut, sehingga menjauh dari Jawa dan tidak langsung memicu aktivitas pada sesar-sesar aktif di Pulau Jawa.
Menurut Amien, faktor yang lebih mungkin memengaruhi Sesar Kendeng justru berasal dari dorongan lempeng samudra di selatan Jawa. Ia menyebut megathrust di selatan Jawa sebagai unsur yang lebih terkait dengan dinamika patahan di daratan Jawa dibandingkan aktivitas sesar di Sulawesi.
Dengan karakter patahan yang panjang, melintasi wilayah padat, dan memiliki catatan gempa masa lalu, Sesar Kendeng tetap menjadi perhatian penting dalam mitigasi bencana di Pulau Jawa. Kewaspadaan di wilayah yang dilintasinya menjadi kunci, terutama di kota-kota yang berada tepat di jalur sesar aktif tersebut.
Source: www.cnbcindonesia.com






