Selat Hormuz Ditutup, Serangan AS-Iran Kini Mengancam Listrik dan Air Bersih

Konflik Amerika Serikat dan Iran kini menyeret layanan sipil paling mendasar ke dalam medan perang. Serangan terhadap pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi memunculkan ancaman baru bagi pasokan energi serta air bersih di kawasan Teluk.

Situasi itu terjadi saat Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran sejak perang dimulai pada 28 Februari. Jalur laut tersebut selama masa damai dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia.

Fasilitas vital di dua negara terdampak

Televisi pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS menghantam pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi di Hormozgan, Iran selatan. Salah satu lokasi yang disebut berada di Bonji, sebuah desa pesisir di Selat Hormuz.

Kementerian Energi Iran juga untuk pertama kalinya mengakui adanya serangan terhadap infrastruktur listrik selama kampanye udara AS. Kementerian meminta warga di provinsi selatan mengurangi pemakaian listrik ketika wilayah itu menghadapi panas ekstrem.

Di Kuwait, otoritas menyatakan sebuah pabrik desalinasi air terkena serangan dan memicu kebakaran. Kuwait mengatakan pertahanan udaranya telah mencegat rudal dan drone Iran, tetapi serangan terhadap infrastruktur air itu menjadi yang kedua dalam dua hari.

Gangguan di Kuwait memiliki dampak yang sensitif karena negara gurun tersebut bergantung pada desalinasi untuk sekitar 90 persen kebutuhan air minumnya. Serangan ke fasilitas ini memperlihatkan bagaimana Konflik AS-Iran meluas dari sasaran militer ke infrastruktur penopang kehidupan warga.

WilayahSasaran atau kejadianDampak yang dilaporkan
Hormozgan, IranPembangkit listrik dan fasilitas desalinasiDihantam serangan udara AS
KuwaitPabrik desalinasi airTerbakar setelah terkena serangan
Irbil, IrakDrone di atas kotaDitembak jatuh
Yordania dan BahrainRudal Iran dan ancaman udaraRudal dicegat, sirene berbunyi di Bahrain

Ancaman udara juga terasa di negara-negara sekitar Teluk. Pemerintah Irak menyatakan sebuah drone ditembak jatuh di atas Irbil, sementara kantor berita negara Yordania, Petra, melaporkan sistem pertahanan udara kerajaan menjatuhkan rudal Iran.

Bahrain beberapa kali membunyikan sirene udara di tengah ancaman serangan. Rangkaian insiden itu menunjukkan dampak konflik tidak lagi terbatas pada wilayah Iran dan target militer AS.

Serangan menyasar jaringan pendukung operasi

Komando Pusat AS menyebut serangan pada malam ketujuh berturut-turut menghantam situs pengawasan, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim Iran. Sasaran tersebut menandai perluasan operasi ke jaringan yang mendukung mobilitas dan operasi militer.

CNN Indonesia melaporkan media pemerintah Iran sebelumnya juga menyebut AS menyerang jalan raya dan jembatan kereta api. Serangan itu dinilai bertujuan memutus akses Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran, dari wilayah tengah negara tersebut hingga Teheran.

Otoritas Iran menyatakan sedikitnya 46 orang tewas dan lebih dari 400 orang terluka akibat serangan AS terbaru. Delapan orang di antaranya dilaporkan meninggal dalam serangan terhadap sebuah jembatan pada Jumat.

Di pihak AS, pejabat militer mengakui 13 personel tambahan terluka sejak Senin, terdiri dari 10 tentara Angkatan Darat dan tiga personel Angkatan Laut. Sejak perang dimulai, AS melaporkan 14 anggota militernya tewas dan 427 lainnya terluka.

Penutupan selat menekan perdagangan energi

Iran menegaskan Selat Hormuz harus berada di bawah kendali penuhnya dan kapal yang melintas harus membayar biaya kepada Teheran. Penutupan jalur itu memberi Iran posisi tawar besar, sekaligus menekan perdagangan energi global.

MarineTraffic.com mencatat hanya delapan kapal melintasi selat pada Kamis, angka terendah dalam tiga minggu. Berkurangnya pelayaran ikut mendorong harga minyak pada Jumat melampaui US$86 per barel, mendekati level tertinggi dalam sebulan.

Pengiriman energi melalui pipa di kawasan memang meningkat, tetapi volumenya belum mampu menggantikan kekurangan dari turunnya lalu lintas kapal. AS juga memberlakukan kembali blokade angkatan laut di pelabuhan Iran untuk menghentikan pengiriman minyak mentah.

Presiden Donald Trump dalam pidatonya kepada publik AS pada Kamis malam mengatakan perang berjalan baik bagi negaranya. “Kita juga menang besar di Iran, dan Anda akan melihat hasil dari kerja keras itu dalam waktu yang sangat, sangat singkat,” katanya.

Namun, konflik yang telah berlangsung lebih dari empat bulan belum menunjukkan tanda penyelesaian setelah gencatan senjata sementara runtuh. Kerusakan atau ancaman terhadap listrik, transportasi, dan krisis air Kuwait membuat risiko kemanusiaan di kawasan semakin besar.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait