Hilangnya seorang peserta tur asal Madiun bernama Femas di Korea Selatan berpotensi menimbulkan dampak besar bagi penyelenggara perjalanan. Pihak travel menyebut mereka menghadapi risiko denda hingga Rp125 juta serta kewajiban menjelaskan situasi tersebut kepada pihak terkait di Korea Selatan.
Kasus ini tidak hanya menyangkut keberadaan satu peserta yang belum diketahui, tetapi juga kepercayaan terhadap perjalanan tur berikutnya. Penyelenggara menilai keputusan seorang peserta meninggalkan rombongan dapat berdampak pada banyak calon peserta lain.
Kronologi Peserta Tidak Kembali ke Hotel
Femas disebut mengikuti perjalanan tur bersama rombongan dan sebelumnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan kelompok. Selama perjalanan, ia bahkan dikabarkan berbagi kamar dengan tour leader.
Pihak travel menyatakan Femas telah berinteraksi seperti biasa dengan peserta lain, termasuk saat makan dan berjalan bersama. Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya kesulitan, respons yang diberikan disebut terlihat normal.
Situasi berubah saat Femas disebut ingin melihat-lihat sepatu di kawasan Myeongdong. Setelah itu, ia dilaporkan tidak kembali ke hotel dan tidak dapat dihubungi oleh penyelenggara perjalanan.
| Tahap Kejadian | Informasi yang Disampaikan Travel |
|---|---|
| Sebelum hilang | Femas disebut beraktivitas normal bersama rombongan dan tour leader. |
| Lokasi terakhir | Ia dikabarkan ingin melihat sepatu di kawasan Myeongdong. |
| Setelah berpisah | Femas tidak kembali ke hotel dan tidak merespons panggilan maupun pesan. |
| Upaya lanjutan | Tour leader melakukan pencarian dan pihak travel melapor kepada otoritas Korea Selatan. |
Pencarian Dilakukan Selama Berhari-hari
Menurut keterangan yang dikutip Liputan6, panggilan telepon dan pesan WhatsApp kepada Femas tidak mendapat respons. Pihak travel juga menyatakan peserta tersebut belum memberikan kabar mengenai keberadaannya.
Tour leader dikabarkan melakukan pencarian selama berhari-hari setelah Femas tidak kembali ke hotel. Upaya itu mencakup menghubungi Femas berulang kali serta menyisir lokasi terakhir yang diketahui.
Pihak penyelenggara turut menyatakan telah melaporkan kejadian itu kepada pihak berwenang di Korea Selatan. Namun, pencarian yang dilakukan hingga informasi tersebut disampaikan disebut belum membuahkan hasil.
Selain mencari keberadaan peserta, travel harus berkoordinasi dengan vendor yang terlibat dalam perjalanan tersebut. Mereka juga menyebut perlu mempertanggungjawabkan dampak kejadian itu kepada pihak di Korea Selatan.
Risiko bagi Penyelenggara Perjalanan
Akun Instagram @sarjanabackpacker menyatakan persoalan ini bukan sekadar kehilangan satu peserta dari rombongan. Dalam unggahannya, pihak travel menekankan adanya dampak yang dapat dirasakan oleh ratusan peserta pada perjalanan berikutnya.
“Kami bukan marah karena kehilangan satu peserta. Kami marah karena keputusan satu orang bisa membuat ratusan peserta berikutnya ikut menjadi korban,” tulis akun tersebut.
Pihak travel juga menyoroti tanggung jawab yang harus mereka selesaikan setelah peserta dilaporkan menghilang. Mereka menyebut harus menjelaskan persoalan itu kepada vendor, pihak Korea Selatan, serta menghadapi risiko denda.
“Kami yang harus menjelaskan ke vendor. Kami yang harus mempertanggungjawabkan ke pihak Korea. Kami yang harus menghadapi risiko denda,” tulis @sarjanabackpacker dalam unggahannya.
Permintaan agar Femas Kembali
Penyelenggara perjalanan akhirnya mempublikasikan informasi mengenai Femas dengan harapan yang bersangkutan dapat mengambil tanggung jawab atas keputusannya. Mereka juga meminta orang-orang yang mengenalnya untuk menyampaikan pesan agar ia kembali ke Indonesia.
“Pulanglah ke Indonesia. Hadapi masalah ini dengan baik. Jangan biarkan begitu banyak orang menanggung akibat dari keputusanmu,” tulis pihak travel.
Hingga kabar tersebut disampaikan, Femas masih belum ditemukan dan belum dapat dihubungi. Informasi mengenai kasus ini didasarkan pada pernyataan penyelenggara tur melalui media sosial.
Source: www.liputan6.com





